News

Polisi Bantah Kantor Pinjol Ilegal Pekerjakan Anak di Bawah Umur di Jakarta Utara

Auliansyah mengatakan pihaknya saat ini telah memeriksa sebanyak lima orang dari 98 karyawan pinjol ilegal di Jakarta Utara.


Polisi Bantah Kantor Pinjol Ilegal Pekerjakan Anak di Bawah Umur di Jakarta Utara
Pinjol Ilegal di PIK 2, Jakarta Utara digrebek (Instagram/@kapoldametrojaya)

AKURAT.CO, Polda Metro Jaya membantah kantor pinjol (pinjaman online) ilegal yang beroperasi di kawasan Ruko Paladium, Jalan Pulau Maju Bersama, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, mempekerjakan anak-anak di bawah umur. 

Pernyataan itu disampaikan usai beredar informasi secara luas bahwa sebagian besar karyawan pinjol ilegal itu merupakan anak di bawah umur. Polisi mengatakan bahwa semua orang yang bekerja di kantor tersebut sudah dewasa.

"Masalah anak di bawah umur tidak ada. Jadi, semuanya yang kita amankan tadi malam adalah sudah dewasa. Tidak ada anak-anak di bawah umur yang dipekerjakan di perusahaan pinjol tadi malam," ujar Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Auliansyah Lubis di Markas Polda Metro Jaya, Kamis (22/1/2022).

baca juga:

Auliansyah mengatakan pihaknya saat ini telah memeriksa sebanyak lima orang dari 98 karyawan tersebut. Lima orang tersebut terdiri dari 1 manajer dan 4 leader.

Dari pemeriksaan tersebut, penyidik tidak menemukan adanya unsur pengancaman disertai pornografi dalam penagihan utang pinjol kepada para nasabah yang telat melakukan pembayaran.

"Khusus kali ini belum kami temukan pengancaman, jadi masih berjalan hanya mereka gak punya izin karena ini masih baru. Dan, kami masih melakukan pendalaman terus serta penagihan yang dilakukan masih wajar. Belum ada penagihan disertai ancaman dan gambar-gambar yang tidak benar," jelasnya menutup pembicaraan.

Saat ini, polisi telah menetapkan satu orang tersangka dalam penggerebekan kantor pinjol ilegal dan satu orang tersangka ini adalah manajer di perusahaan pinjol tersebut. 

"Siang ini sudah kita tetapkan satu orang tersangka yaitu manajernya sebagai tersangka. Nanti untuk perkembangan lanjut terkait dengan penanganan kasus ini akan kami sampaikan lebih lanjut," kata Auliansyah.

Ia mengatakan bahwa manajer yang sudah dinyatakan sebagai tersangka berinisial V. Dalam kasus tersebut, manajer berinisial V itu dikenakan Pasal 115 juncto Pasal 65 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan. Dirinya terancam hukuman 12 tahun penjara dan atau pidana denda paling banyak Rp 12 miliar. Sampai saat ini polisi belum memberitahu nama perusahaan yang sudah beroperasi sejak Desember 2021 tersebut. 

"Inisialnya adalah V, dia adalah manajer yang membawahi kegiatan daripada perusahaan pinjaman online ilegal ini," tutur Auliansyah.[]