News

Polisi Akan Cekal dan Keluarkan Red Notice Tersangka Penggelapan Dana WanaArtha Life

Beberapa tersangka diketahui berada di luar negeri

Polisi Akan Cekal dan Keluarkan Red Notice Tersangka Penggelapan Dana WanaArtha Life
Logo Wanaartha Life (Doc Wanaartha Life)

AKURAT.CO, Penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri akan mengajukan cekal serta menerbitkan DPO dan Red Notice terhadap tersangka penipuan dan penggelapan uang nasabah WanaArtha Life.

"Dalam pelaksanaannya penyidik akan bekerja sama dengan Interpol dan meminta bantuan dari Direktorat Jenderal Imigrasi untuk melakukan pelacakan keberadaan tersangka yang tidak kooperatif," kata Kabagpenum Divhumas Polri Kombes Nurul Azizah di Mabes Polri, Senin (8/8/2022).

Kombes Nurul menjelaskan beberapa nama tersangka akan dimasukkan dalam red notice Interpol karena diketahui berada di luar negeri. Adapun tujuh orang yang sebelumnya ditetapkan tersangka oleh penyidik Dittipideksus Bareskrim adalah Manfred A. Pietruschka, Evelina Larasati, Yanes Y. Matulatuwa, Yosef Meni, Terry Khesuma, Rezanantha Pietruschka, dan Daniel Halim.

baca juga:

Kombes Nurul pun menjelaskan konstruksi dugaan penggelapan uang nasabah WanaArtha Life oleh petinggi dan pemegang saham WanaArtha Life. Manfred A sebagai pemegang saham PT Fadent Consolidated Companies (PT FCC), pemegang saham pengendali Wanaartha Life, diperkirakan mengantongi Rp 850 miliar dari aksinya.

Uang tersebut berasal dari dividen yang diterima oleh PT FCC, yang meningkat secara bertahap mulai dari tahun 2012 seiring bertambahnya pengurangan data polis yang dilakukan oleh terduga pelaku. 

"MA memerintahkan dua orang yang bertugas di bagian keuangan yaitu TK (Terry Khesuma) dan bagian operasional YM (Yosef Meni) untuk melakukan pengurangan nilai premi atau jumlah polis yang menjadi tanggung jawab perusahaan sejak tahun 2012 hingga awal tahun 2020," terang Nurul.

Kemudian, pada akhir 2019 premi yang seharusnya tertera pada laporan keuangan Wanaartha Life adalah sekitar Rp 13 triliun dengan jumlah polis sekitar 28.000. Namun, yang ditulis pada laporan keuangan berada pada angka Rp 3 triliun atau berkurang Rp 4,5 triliun dari laporan keuangan tahun 2018. 

Selanjutnya, Manfred A bersama dua tersangka lainnya Evelina Larasati dan Rezanantha Pietruschka, diduga menggunakan dana perusahaan untuk kepentingan pribadi seperti untuk entertainment, perjalanan, hotel dan lain-lain mencapai total sekitar Rp 200 miliar.

Terakhir, Manfred A menggunakan namanya sendiri dan PT FCC untuk melakukan transaksi saham dengan Wanaartha Life. Salah satu saham dari 16 saham yang ditransaksikan memiliki kode BEKS dengan nilai total transaksi sekitar Rp 1,4 triliun. 

"Dalam transaksi saham BEKS yang terjadi antara Wanaartha Life dengan MA dan PT FCC tersebut mengakibatkan Wanartha menderita kerugian senilai Rp 196 miliar yang menjadi keuntungan baik MA maupun PT FCC," demikian kata Kombes Nurul Azizah.[]