UJANG KOMARUDIN

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) & Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Jakarta .
News

Polemik UU Omnibus Law Cipta Kerja


Polemik UU Omnibus Law Cipta Kerja
Massa buruh yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) saat melakukan aksi tolak UU Omnibus Law di Depan Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (9/11/2020).

AKURAT.CO, Undang-undang Cipta Kerja, yang telah memicu kontroversi seantero negeri, telah ditandatangani Presiden Jokowi, Minggu lalu, Senin, 02 November 2020. Dengan demikian, UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, telah sah, berlaku, dan mengikat bagi seluruh rakyat Indonesia, ketika diumumkan oleh Menkumham dalam Lembaran Negara RI, di hari itu juga.  

Bukan tanggapan positif, yang didapat dari publik. Tapi komentar negatif, yang mengiringi perjalan UU Cipta Kerja Nomor 11 Tahun 2020 tersebut.

Dari sejak pengusulan, pembahasan, pengesahan, hingga ditandatangani presiden, UU tersebut menuai masalah.

baca juga:

UU Cipta Kerja, merupakan usul inisiatif pemerintah. Walau pun isinya banyak yang bermasalah, keliru, dan banyak pasal karet, DPR tak berkutik menolaknya, apalagi mengembalikannya pada pemerintah. Pemerintah yang mengoper bola, DPR yang menggolkan. Dan rakyat sorak-sorai, menuduh banyak persekongkolan, antara eksekutif dan legislatif.

Draf RUU Cipta Kerja, diterima DPR dengan senang hati dan gembira, dibahas secara marathon, seperti sedang kejar tayang, pembahasannya banyak menuai kritikan dan cibiran. Dibahas dimasa reses, di hotel berbintang dan memawah, tanpa mempedulikan rakyat yang menolak RUU Cipta Kerja yang penuh kontroversi tersebut.

Pengesahannya pun dilakukan tengah malam, ketika rakyat sedang terlelap tidur, dan dipagi harinya mereka para anggota DPR kabur, karena libur reses. Tak bisa ditemui rakyat dan lempar tanggung jawab.

Pada saat ditandatangani oleh presiden dan ketika sudah dicantumkan dalam Lembaran Negara RI. UU Cipta Kerja, masih banyak yang salah. Salah ketik, salah logika, dan salah isi pasal-pasalnya.

Awalnya, UU Cipta Kerja berjudul RUU Cipta Lapangan Kerja (RUU Cilaka), dari namanya nya sudah menunjukkan “cilaka” atau bahaya. Bahaya bagi kaum pekerja, bahaya bagi rakyat Indonesia, dan bahaya bagi anak dan cucu kita nanti.

Karena banyak yang mengkritik, maka dirubahlah namanya menjadi UU Cipta Kerja. Kata “Cilaka”nya jadi hilang. Namun tetap saja, UU Cipta Kerja mendapat penolakan dari rakyat. Rakyat merasa dibodohi, dibelakangi, dan tak direspons dengan baik aspirasinya.

Super Admin

https://akurat.co

It is a long established fact that a reader will be distracted by the readable content of a page when looking at its layout. The point of using Lorem Ipsum
Follow Me:

0 Comments

Leave a comment

Sorry, you mush first