Rahmah

Polemik Nikah Beda Agama, Direstui Orang Tua, Apakah Disahkan Agama?

Pernikahan beda agama masih menjadi polemik hangat warganet baru-baru ini.


Polemik Nikah Beda Agama, Direstui Orang Tua, Apakah Disahkan Agama?
Ilustrasi pernikahan (pinterest.com/thebridedept.com)

AKURAT.CO Pernikahan beda agama masih menjadi polemik hangat warganet baru-baru ini. Sebut saja, pernikahan Staf Khusus Milenial Presiden Joko Widodo (Jokowi), Ayu Kartika Dewi dengan Gerald Bastian.

Selain itu, sebuah video yang melihatkan seorang perempuan berhijab berbusana pengantin, menikah di sebuah gereja dengan mempelai prianya viral di jagat dunia maya. Unggahan itu sontak menuai beragam komentar dari warganet.

Lalu bagaimana hukum pernikahan beda agama menurut Islam? Apakah diperbolehkan?

baca juga:

Dikutip dari kanal YouTube Hidayah Robbi, diunggah, Senin (14/3/21), Pengasuh Pondok Pesantren Al-Qur’an di Kragan, Narukan, Rembang, Jawa Tengah KH Bahauddin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha sudah menjelaskan terkait aturan pernikahan beda agama berdasarkan ayat Al-Qur'an pada penafsiran Surah Al Maidah Ayat 5:

وَالْمُحْصَنٰتُ مِنَ الْمُؤْمِنٰتِ وَالْمُحْصَنٰتُ مِنَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ اِذَآ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ اُجُوْرَهُنَّ مُحْصِنِيْنَ غَيْرَ مُسَافِحِيْنَ وَلَا مُتَّخِذِيْٓ اَخْدَانٍۗ

Artinya: “Dan (dihalalkan bagimu menikahi) perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara perempuan-perempuan yang beriman dan perempuan-perempuan yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu, apabila kamu membayar maskawin mereka untuk menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan bukan untuk menjadikan perempuan piaraan

Menurut Gus Baha, dalam konteks ayat tersebut, perempuan Ahli Kitab yang berasal dari Yahudi dan Nasrani boleh dinikahi oleh seorang Muslim. Meskipun begitu, Gus Baha menegaskan seorang Muslimah tidak boleh dinikahi oleh laki-laki kafir atau yang menutup diri dari Islam.

Lebih lanjut lagi, Gus Baha menjelaskan seorang pria dalam sebuah rumah tangga merupakan kepala keluarga yang diikuti oleh istri dan anaknya.

"Makanya, dalam ngaji Fiqih sampai kapanpun tidak ada dalil yang membolehkan pernikahan beda agama secara total, tetap yang dibahas perempuan," tegas Gus Baha.

Begitu juga menurut Imam Syafi'i, kata Gus Baha, sangat ketat mengenai perempuan Ahli Kitab yang diperbolehkan untuk dijadikan sebagai istri.

Oleh sebab itu, Gus Baha menjelaskan, dalam Alquran Surah Al Maidah Ayat 5 ini menunjukkan Islam yang paling anti bukan terhadap penganut agama lain. Melainkan kepada mereka yang tidak memiliki agama.

"Meski secara akidah Alquran melawan ajaran Yahudi maupun Nasrani, tetapi dalam banyak hal juga diakui, karena memang lebih baik memiliki keyakianan tentang Tuhan dari pada tidak," ucap Gus Baha.

Asal-usul Pernikahan Beda Agama

Dalam pengajian lain, Gus Baha menerangkan sejak zaman dulu, syariat tentang pernikahan sudah ada. Begitu juga dengan orang kafir, bahwa mereka melakukan pernikahan secara benar.

"Artinya, kalau mereka salah akan mengatakan itu pacaran," kata Gus Baha dalam video yang diunggah YouTube Santri Gayeng pada 21 Desember 2021.

Gus Baha lalu memberi contoh, misalnya Mughirah mempunyai pacar, maka orang lain menyebutnya, pacarnya Mughirah. Berbeda dengan istrinya Mughirah, maka orang lain juga akan menyebutnya istrinya Mughirah.

Sehingga Allah SWT menyebut, istrinya Fir'aun. Semua juga akan mengatakan istrinya Fir'aun karena dinikahkan dengan cara yang benar dan sah," tutur Gus Baha.

Tidak Ada Dzatiyah atau Rukun yang Memiliki Kesalahan Fatal

Gus Baha menjelaskan, menurut Imam Nawawi dan para ulama lain berpendapat bahwa nikahnya orang kafir itu kita sahkan, meskipun dengan cara yang salah. Selagi cara yang salah itu tidak Dzatiyah dalam rukun nikah, sehingga dapat dibenarkan.

"Misalnya, nikah itu intinya jika ada lelaki dan perempuan, lalu ayahnya datang dan ada acara dangdutan untuk memeriahkan acara, itu sudah dianggap nikah meskipun dengan cara seperti itu," jelas Gus Baha.

Sehingga, yang terpenting dalam sebuah pernikahan menurut Gus Baha, tidak terjadi Dzatiyah yang tidak hilang setelah Islam. Berbeda ketika terjadi Dzatiyah yang dalam Islam tidak disahkan, misalnya menikah dengan keponakannya, dengan bibinya, itu hukumnya tidak sah menurut Islam.

"Makanya menurut saya, pernikahan yang terjadi di Indonesia dengan banyak kekacauan seperti tadi, karena kita tidak alim atau kulturnya salah, kalau menurut saya nikahnya sah," ucap Gus Baha.

"Makanya bagi kalian yang mengaji fikih, yang penting kalian hafal jumlah orang yang jadi mahram. Sudah itu saja," imbuh Gus Baha.

Orang yang Termasuk Mahram 

Gus Baha lalu menjelaskan tentang  Mahram atau perempuan yang haram untuk dinikahi dengan beberapa sebab. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur'an Surah An-Nisa ayat 23:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ اُمَّهٰتُكُمْ وَبَنٰتُكُمْ وَاَخَوٰتُكُمْ وَعَمّٰتُكُمْ وَخٰلٰتُكُمْ وَبَنٰتُ الْاَخِ وَبَنٰتُ الْاُخْتِ وَاُمَّهٰتُكُمُ الّٰتِيْٓ اَرْضَعْنَكُمْ وَاَخَوٰتُكُمْ مِّنَ الرَّضَاعَةِ وَاُمَّهٰتُ نِسَاۤىِٕكُمْ وَرَبَاۤىِٕبُكُمُ الّٰتِيْ فِيْ حُجُوْرِكُمْ مِّنْ نِّسَاۤىِٕكُمُ الّٰتِيْ دَخَلْتُمْ بِهِنَّۖ فَاِنْ لَّمْ تَكُوْنُوْا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ ۖ وَحَلَاۤىِٕلُ اَبْنَاۤىِٕكُمُ الَّذِيْنَ مِنْ اَصْلَابِكُمْۙ وَاَنْ تَجْمَعُوْا بَيْنَ الْاُخْتَيْنِ اِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا ۔

Artinya: Diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara ayahmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara-saudara perempuanmu sesusuan, ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak perempuan dari istrimu (anak tiri) yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu (menikahinya), (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu), dan (diharamkan) mengumpulkan (dalam pernikahan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Gus Baha menerangkan, keharaman bagi seorang Mahram ini dikategorikan tujuh bagian.

Pertama, أُمٌّ artinya ibu atau orang yang melahirkan.

Kedua, بِنْتٌ artinya perempuan yang dilahirkan oleh istri sah atau anak perempuan.

"Tapi kalau kamu berzinah, lalu lahir anak perempuan, hasil perzinahan tersebut tidak bisa disebut anak. Sehingga kalau dia menikah, kamu tidak boleh jadi wali, paham ya?," kata Gus Baha.

Ketiga, وَاَخَوٰتُكُمْ artinya saudara perempuan sekandung.

Keempat, وَعَمّٰتُكُمْ artinya saudaranya bapak.

Kelima, وَخٰلٰتُكُمْ artinya saudaranya ibu.

Keenam, وَبَنٰتُ الْاَخِ artinya anak perempuan dari saudara laki-laki.

Ketujuh, وَبَنٰتُ الْاُخْتِ artinya anak perempuan dari saudara perempuan.

"Makanya Islam menghitung tujuh, tapi kalau kita menghitungnya lima karena kita hanya menghitung ibu, anak perempuan, saudara, bibi, keponakan," jelas Gus Baha.

Menurut Gus Baha, dalam perhitungan orang Jawa hanya ada lima kategori. Karena saudara dari bapak maupun ibu disebut bulik (paman dan bibi). Apabila menurut orang Arab, saudaranya bapak  disebut Ammah, sedangkan saudaranya ibu disebut Khala.

"Kalau ponakan masih tetap, tapi secara orang Arab, keponakan laki-laki disebut وَبَنٰتُ الْاَخِ, keponakan perempuan disebut وَبَنٰتُ الْاُخْتِ. Paham ya?," imbuh Gus Baha.

Hukum Nikah Beda Agama

Kaitannya dengan Mahram, maka kata Gus Baha, nikahnya orang kafir dan setelah nikah bukan Mahram yang abadi, pernikahan tersebut dikatakan sah. Meskipun pelaksanaan nikahnya dengan cara yang salah.

"Misalnya, shigotnya salah, saksinya fasik. Tapi asalkan yang dinikahi itu adalah perempuan yang bukan mahram," tutur Gus Baha.

Akan tetapi, lanjut Gus Baha menjelaskan, jika yang dinikahi adalah perempuan yang mahram, maka Islam akan membatalkan dan dianggap tidak sah karena ini membawa Dzatiyah atau rukun yang fatal.

"Karena Al-Qur'an turun dengan tradisi yang sudah terjadi di Quraisy. Artinya yang namanya nikah itu ada wali, saksi dan shigotnya," jelas Gus Baha.

Oleh karena hal tersebut, menurut Gus Baha, Al-Qur'an dengan lafal yang ringkas, karena sudah ada peradaban yang baik dan benar.

"Jadi ayat famastamta’tum bihi minhunna fa’tuhunna ujurahunna artinya perempuan yang sudah kamu nikmati, yang penting kamu kasih upah," ucap Gus Baha.

"Lalu kamu maknai itu dengan bebas. Misalnya, kalau begitu, yang penting setelah melakukan, membayar. Itu kan seperti pelacur. Memaknai Al-Qur'an itu tidak seperti itu,", tandas Gus Baha. []