Ekonomi

Polemik Demokrat Makin Pelik, Iklim Ekonomi Tak Kondusif


Polemik Demokrat Makin Pelik, Iklim Ekonomi Tak Kondusif
Ketua umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono saat menyambangi Komisi Pemilihan Umum di Jakarta, Senin (8/3/2021). (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO Pengamat politik, pegiat media dan media sosial, Ninoy Karundeng menilai Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat ini malah melakukan manuver politik terkait konflik internal. 

Menurutnya, serangan dan fitnah ditujukan kepada Presiden Joko Widodo tentang konflik internal Partai Demokrat yang dipicu oleh kepemimpinan partai model dinasti. Dan, SBY kini menggunakan Benny K Harman yang menebarkan fitnah terhadap kepolisian.

“SBY telah menyusun grand design strategi untuk menutupi tujuan utama yang tersembunyi terkait konflik internal Demokrat, yang awalnya untuk menaikkan elektabilitas, kini berubah untuk memertahankan Demokrat AHY agar mendapatkan pengesahan dari Kemenkumham (Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia),” kata Ninoy, di Jakarta, Rabu (10/3/2021).

Grand design strategi awal, lanjutnya, adalah upaya menutupi borok SBY dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang menjadikan Demokrat sebagai perusahaan pribadi, partai keluarga. Caranya adalah dengan menyalahkan pihak lain, yakni menghembuskan isu-isu kudeta dan keterlibatan Istana.

“AHY mengirimkan surat ke Presiden Jokowi. Tujuannya untuk menarik perhatian, mengalihkan isu sebenarnya yakni SBY dan AHY menjadikan Partai Demokrat sebagai milik pribadi. Karena sejatinya SBY dan AHY sudah sejak bulan April 2020 tahu bahwa kepemimpinan AHY cepat atau lambat akan menjadi bom waktu yang meledak dan melumat Cikeas,” jelas Ninoy.

Ketika SBY melibatkan Moeldoko dan Presiden Jokowi dalam konflik internal Demokrat justru mendorong para kader melakukan Kongres Luar Biasa (KLB) di Deli Serdang, Sumatera Utara, Jumat (5/3/2021). SBY tersengat dan kaget terkait pelaksanaan KLB yang luput dari perhatian.

Teranyar, jelas Ninoy, strategi SBY tersebut dijalankan dengan menggunakan seluruh potensi komunikasi media dan media sosial. Benny K Harman yang sangat anti Jokowi menebarkan fitnah tentang keterlibatan intelijen kepolisian yang melakukan intimidasi kepada pengurus Demokrat di daerah untuk mengakui hasil KLB.

Pernyataan yang disampaikan lewat Twitter tersebut menjadi sorotan media dan publik di tengah konflik Demokrat yang mendorong KLB.

“Yang dilakukan oleh Benny K Harman adalah bagian dari strategi komunikasi medsos SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) untuk menciptakan opini seolah Polri ikut terlibat dalam konflik internal Demokrat,” kata Ninoy.