News

Polda Metro Pastikan Tetap Proses Laporan Dugaan Pemerkosaan WNA China di Jakbar

Zulpan menyebut kasus ini terjadi pada 2020, namun baru dilaporkan pada 2022.


Polda Metro Pastikan Tetap Proses Laporan Dugaan Pemerkosaan WNA China di Jakbar
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Endra Zulpan (Dok. AKURAT.CO)

AKURAT.CO, Polda Metro Jaya mengaku tengah mengusut dugaan pemerkosaan yang dilakukan Warga Negara Asing (WNA) China berinisial K terhadap perempuan berusia 30 tahun berinisial L.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Endra Zulpan mengatakan kasus ini sudah naik ke tahap penyidikan.

"Kasus dalam penyidikan," ujar Zulpan, Rabu (22/6/2022).

baca juga:

Zulpan menyebut kasus ini terjadi pada 2020, namun baru dilaporkan pada 2022. Kendati demikian, Zulpan mengatakan penyidik tetap memproses laporannya.

"Kasus dua tahun yang lalu. Baru dilaporkan tahun 2022. Tetap diproses," kata Zulpan.

Sebelumnya, seorang wanita berinisial L (30) mendapat kekerasan seksual dari warga negara asing (WNA) China berinisial KEN di kamar Aparteman Taman Anggrek, Tanjung Duren, Jakarta Barat pada (27/7/2020) lalu.

Korban mendatangi Polda Metro Jaya didampingi kuasa hukumnya, Prabowo Febrianto pada Senin (22/4/2022) untuk menanyakan perkembangan kasusnya. Sementara laporan dibuat pada April 2022 lalu.

L mengaku melaporkan kasus ini ke Polda Metro Jaya karena sudah lebih dulu berjuang meminta bantuan lembaga melalui perlindungan saksi dan korban (LPSK), namun tak membuahkan hasil.

L bercerita, peristiwa ini berawal saat dia dan K berkenalan di media sosial. Setelah beberapa bulan berkomunikasi, keduanya pun memutuskan untuk bertemu di wilayah Jakarta Barat.

Saat itu, kata L, terlapor hendak mengajaknya makan siang bersama di salah satu restoran. Namun, terlapor justru membawanya ke salah satu apartemen.

"Awalnya saya tidak berani bertemu. Tapi karena sudah berkomunikasi, tidak ada gelagat orang jahat, dan terlihat intelektual, akhirnya saya menerima ajakan makan siang di apartemen tersebut," tutur L sambil menutupi wajahnya.

L mengatakan di apartemen itulah terduga pelaku langsung memaksa melakukan persetubuhan dan kekerasan terhadap dirinya.

Akibat tindakan tersebut, korban mengalami sejumlah luka di tubuh terutama di organ vitalnya hingga memerlukan tindakan medis.

"Setelah kejadian itu saya dibawa ke klinik, luka di bagian pribadi saya dijahit. Tapi terlapor ini tampak menyepelekan," kata L.

Lebih lanjut, L menceritakan dirinya bersama kuasa hukum pernah berkonsultasi mengenai kasus ini kepada pihak penyidik Polres Metro Jakarta Barat. Namun, konsultasi  tersebut tak menyelesaikan masalah dan justru korban mendapatkan ancaman dari pihak terlapor.

Dalam ancamannya itu, korban diiming-imingi sejumlah uang untuk mencabut laporan. Bahkan ia pun dijanjikan oleh terlapor untuk dinikahinya.

"Saya disuruh cabut laporan kalau gak (cabut laporan) di laporan balik atas dasar pemerasan. Kemudian saya tunjukin pesan terlapor ke penyidik. Lalu penyidik hubungi saya. Saya datang, penyidik bilang kurang bukti. Penyidik bilang terima ajalah sejumlah dana itu. Saya tertekan, mungkin kejadian lama air mata saya gak ada artinya. Stres dan tertekan saya," kata L. 

Kemudian, korban dan kuasa hukumnya kembali melaporkan kasus ini ke Polda Metro Jaya pada April 2022 usai melakukan trauma healing.

"Ternyata memang tidak mudah melaporkan kasus ini. Makanya cukup panjang perjalanannya hingga sekarang," ucap L. 

Laporan tersebut teregistrasi dengan nomor LP / B / 1695 / IV / 2022 / SPKT / Polda Metro Jaya tertanggal 2 April 2022.

Sementara itu, Prabowo mengatakan sejak laporan ini dibuat, kliennya tak kunjung mendapatkan perkembangan penanganan kasus ini dari tim penyidik Polda Metro Jaya. Bahkan Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) pun tak kunjung diperoleh. 

"Kita minta SP2HP, sampai hari ini belum diberikan. Tapi dijanjikan 20 Mei sudah ada," kata Prabowo di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin, 20 Juni 2022.

Prabowo mengatakan padahal kliennya juga sudah membawa barang bukti seperti hasil visum di RS Polri, hingga bukti chat tekanan baik dari pelapor hingga pengacaranya.

Namun, meskipun sudah membawa barang bukti itu, pihaknya tak juga kunjung mendapat kepastian proses pemeriksaan, apalagi terlapor maupun pengacaranya juga tak kunjung datang saat dipanggil untuk pemeriksaan oleh polisi. 

"Beliau bilang kasus ini masih menunggu penjelasan dokter dari saksi ahli, selanjutnya juga sudah melakukan upaya klarifikasi ke terlapor, tapi sudah 2 kali kalau tidak salah tidak datang juga," ujar Prabowo.

Oleh karena itu, untuk memastikan laporan kasus ini berjalan, Prabowo bersama kliennya hari ini mendatangi Unit PPA Polda Metro Jaya. Kedatangan mereka ke Unit PPA juga untuk memastikan dokter yang memeriksa bersedia menjadi saksi ahli.

 "Dokter di RS Polri ini, kita enggak tau bagaimana, lama sekali datang buat menjadi saksi ahli, atau menjelaskan pernyataan yang dia buat. Kan sudah visum, yang hasil ini," ujar dia.[]