Lifestyle

Pola Asuh yang Tidak Sehat Bisa Lahirkan Pelaku Kekerasan Seksual

Pelaku kekerasan seksual muncul disebabkan oleh banyak faktor. Salah satunya adalah ola asuh yang salah atau tidak sehat.


Pola Asuh yang Tidak Sehat Bisa Lahirkan Pelaku Kekerasan Seksual
Pola asuh (UNSPLASH/Kelly Sikkema)

AKURAT.CO, Kekerasan seksual terjadi di setiap komunitas dan mempengaruhi orang-orang dari semua jenis kelamin dan usia. Kekerasan seksual adalah segala jenis kontak seksual yang tidak diinginkan. Ini termasuk kata-kata dan tindakan yang bersifat seksual yang bertentangan dengan keinginan seseorang dan tanpa persetujuan. Seseorang dapat menggunakan kekerasan, ancaman, manipulasi, atau paksaan untuk melakukan kekerasan seksual.

Mirisnya, kasus kekerasan seksual masih terus menghindari media. Mulai dari kekerasan seksual terhadap anak di Depok, pelecehan di Universitas Sriwijaya (Unsri), dan masih banyak lagi. Kondisi ini tentu membuat semua orang bertanya-tanya, mengapa kasus kekerasan seksual masih terus terjadi, bahkan semakin banyak. 

Menurut psikolog Muhammad Hamdi, salah satu penyebabnya adalah pola asuh yang tidak sehat. Namun perlu diingat bahwa ini bukan penyebab mutlak dan satu-satunya faktor. Artinya, tidak semua anak yang mendapat pola asuh tidak sehat akan menjadi pelaku. 

"Dari sisi pelaku, menurut research mereka kebanyakan  berasal dari keluarga yang biasanya ada problem, baik di pola asuh," kata psikolog Muhammad Hamdi kepada AKURAT.CO dalam acara campaign It's Okay Jiera di PIK Avenue Mall, PIK, Jakarta Utara Jumat (3/12/2021).

Sebuah penelitian menarik di Amerika tentang pelaku kejahatan, termasuk kekerasan seksual menunjukkan bahwa kebanyakan pelaku berasal dari keluarga yang anak tunggal atau dua bersaudara. Muhammad Hamdi menegaskan ini fokusnya bukan tentang anak tunggal atau tidak. Pasalnya, banyak anak tunggal yang sukses dan tidak menjadi pelaku kriminal dan kekerasan.

Akan tetapi, banyak orang tua yang sangat memanjakan anak tunggalnya. Artinya, kesalahan ini terletak pada pola asuh. 

"Masalahnya adalah pola asuh yang salah, tidak tepat dan tidak sehat.  Misalnya, anaknya menangis minta es krim. Pada saat anak minta sesuatu, dikasih dan dikasih. Pada saat berada di tengah masyarakat dia akan menuntut hal yang sama," tegas Muhammad Hamdi.

"Dia menerapkan hal yang sama. Itu pola asuh yang tidak sehat, yang menyebabkan anak jadi termasuk pelaku kriminal," tegasnya. 

Selain pola asuh yang salah, kekerasan seksual terus terjadi juga disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya pelaku adalah korban, hukuman yang tidak menyebabkan efek jera, kemudahan untuk mengakses konton-konten pornografi, sarana yang tidak mendukung, victim blamming dan masih banyak lagi. Ingat, semua faktor-faktor ini tidak bersifat mutlak.[]