News

PM Prayuth Kembali Lolos dari Mosi Tak Percaya, Protes Thailand Makin Berkobar 

Mereka melampiaskan kemarahan setelah Perdana Menteri (PM) Prayut Chan-o-cha kembali selamat dari mosi tidak percaya dari parlemen.


PM Prayuth Kembali Lolos dari Mosi Tak Percaya, Protes Thailand Makin Berkobar 
Para pengunjuk rasa pro-demokrasi ambil bagian dalam protes jalanan jalanan Bangkok setelah pada Sabtu (4/9), PM Prayut Chan-o-cha kembali selamat dari mosi tidak percaya dari parlemen ( AFP via CNA)

AKURAT.CO  Tak peduli dengan guyuran hujan deras, para pengunjuk rasa pro-demokrasi Thailand terlihat tak pantang menyerah menggelorakan suaranya. Pada Sabtu (4/9) itu, mereka pun melampiaskan kemarahan setelah Perdana Menteri (PM) Prayut Chan-o-cha kembali selamat dari mosi tidak percaya dari parlemen.

Hari itu, ada lebih dari 300 demonstran berbaris di distrik pusat perbelanjaan utama Bangkok. Mereka membawa bendera merah dan mengenakan poncho di tengah hujan.

"Pemerintah harus pergi. Jika semuanya baik-baik saja, mengapa kita keluar untuk memprotes?" ujar seorang demonstran berusia 28 tahun mengatakan kepada AFP.

Menjelang pawai, polisi menggunakan kontainer pengiriman untuk memblokir rute-rute utama ke Taman Lumphini, pusat di mana para pengunjuk rasa telah merencanakan untuk berbaris. Penjagaan berat juga ikut dikerahkan di seluruh pusat kota dengan polisi anti huru hara dan truk meriam air ditempatkan di persimpangan Ratchaprasong dekat pusat-pusat besar perbelanjaan.

Minggu ini, anggota parlemen Thailand memperdebatkan mosi kecaman yang dipicu oleh oposisi tentang penanganan pemerintah terhadap pandemi virus corona dan manajemen ekonomi. Sabtu itu adalah penentuan mosi tidak percaya ketiga sejak pemilu 2019.

Peluncuran program vaksinasi Thailand yang lamban dan kesulitan keuangan akibat pembatasan telah menambah tekanan politik pada pemerintah Prayut.

Negara ini terhuyung-huyung dari kinerja ekonomi terburuknya sejak Krisis Keuangan Asia 1997. Kondisi ini kemudian diperparah dengan gelombang ketiga infeksi virus corona yang mematikan.

Diketahui, jumlah total kasus Covid-19 yang dicatat Thailand telah menembus lebih dari 1,2 juta. Sementara jumlah keseluruhan kematian mencapai lebih dari 12 ribu kasus. 

Namun, Prayut telah membela penanganan pandemi oleh pemerintahnya di parlemen awal pekan ini.

"Angka kematian Thailand akibat Covid-19 relatif sangat rendah, tetapi kita harus memastikan bahwa tidak akan ada lagi kematian," kata Prayut, seraya menambahkan keputusan untuk tidak mengakses dosis di bawah program ekuitas vaksin COVAX global adalah demi kepentingan terbaik Thailand.

PM Prayuth Kembali Lolos dari Mosi Tak Percaya, Protes Thailand Makin Berkobar  - Foto 1 AFP via CNA

Pasokan vaksin telah menjadi masalah di Thailand. Vaksin AstraZeneca yang diproduksi secara lokal di Thailand tidak mampu mengimbangi laju inolukasi. Negara ini pun akhirnya harus mengimpor vaksin dari Sinovac dan Sinopharm buatan China, hingga menerima sumbangan 1,5 juta dosis Pfizer-BioNTech dari AS. 

"Manajemen pemerintah terhadap Covid-19 benar-benar buruk. Ayah saya menganggur dan ibu saya terinfeksi meski sudah mendapat dua suntikan Sinovac," kata seorang pemuda 21 tahun yang ikut unjuk rasa pada Sabtu kemarin. 

Pada Sabtu itu, infeksi harian baru mencapai hampir 16 ribu kasus. Angka ini menunjukkan penurunan kasus dalam beberapa pekan terakhir, tetapi juga bertepatan dengan pengurangan pengujian.

Di pagi harinya, Prayut dan lima menteri Kabinet berhasil mempertahankan kekuasaan setelah mengumpulkan cukup dukungan di lantai parlemen. Sementara diketahui, seminggu sebelumnya, beredar spekulasi bahwa beberapa anggota koalisi yang berkuasa berencana untuk menarik dukungan kepada mantan panglima tentara tersebut.

Baca Juga: Protes Anti-Pemerintah Thailand Makin Meluas, Kaum Ultra-Royalis Ikut Beraksi Tuntut Pengunduran Diri PM Prayuth

Bangkok telah diwarnai dengan protes jalanan reguler sejak akhir Juni. Namun, dalam gerakan itu, kerap terjadi bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa. Dalam aksinya, para petugas mengerahkan gas air mata, peluru karet, hingga meriam air. Sementara beberapa pengunjuk rasa membalas dengan bom pingpong serta ketapel.[]