News

PM Israel Naftali Bennett Mendadak Kunjungi Presiden UEA, Ada Apa?

Keprihatinan bersama atas jangkauan nuklir Iran di kawasan Timur Tengah mendasari hubungan UEA-Israel.

PM Israel Naftali Bennett Mendadak Kunjungi Presiden UEA, Ada Apa?
Perdana Menteri Israel Naftali Bennett bertemu dengan Presiden UEA Syekh Mohamed bin Zayed al-Nahyan. (Government Press Office)

AKURAT.CO, Perdana Menteri Israel Naftali Bennett mendadak berkunjung ke Uni Emirat Arab (UEA) pada Kamis (9/6). Ini kedua kalinya Bennett ke Abu Dhabi sejak Israel dan UEA secara resmi menormalisasi hubungan pada 2020 setelah bertahun-tahun bekerja sama secara diam-diam.

Menurut pernyataan dari kantor Bennett, pemimpin Israel itu akan bertemu dengan Presiden UEA Syekh Mohamed bin Zayed al-Nahyan. Keduanya akan membahas berbagai masalah regional, terutama soal Iran.

Dalam video pernyataan yang direkam sebelum berangkat, Bennett memuji negara-negara pada pertemuan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) di Wina pada Rabu (8/6) yang memilih mengecam Iran atas kurangnya transparansi tentang aktivitas nuklir.

baca juga:

"Kami melihat sikap tegas negara-negara di dunia soal perbedaan antara yang baik dan yang jahat. Mereka dengan jelas menyatakan bahwa Iran menyembunyikan banyak hal. Kami tak akan membiarkan masalah ini," ungkapnya sebelum naik pesawat ke UEA.

Menurut IAEA pada Kamis (9/6), Iran berencana untuk meningkatkan pengayaan uraniumnya.

Iran dan kekuatan dunia telah menyetujui kesepakatan nuklir pada 2015. Dengan demikian, Teheran membatasi pengayaan uraniumnya secara drastis dengan imbalan pencabutan sanksi ekonomi.

Pada 2018, Presiden Donald Trump secara sepihak menarik AS dari perjanjian itu dan meningkatkan sanksi terhadap Iran. Keputusannya meningkatkan ketegangan lebih luas di Timur Tengah dan memicu serangkaian serangan serta insiden.

Keprihatinan bersama atas jangkauan nuklir Iran di kawasan itu pun mendasari hubungan UEA-Israel. Israel bertekad mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir. Sebaliknya, Teheran menegaskan program nuklirnya semata-mata untuk tujuan damai.

Israel sangat menentang kesepakatan 2015. Negara itu menginginkan kesepakatan yang lebih baik yang menempatkan pembatasan lebih ketat pada program nuklir Iran serta membahas program rudal jarak jauh Iran dan dukungannya untuk proksi yang bermusuhan di sepanjang perbatasan Israel. []