News

PM Baru Sri Lanka Dilantik, Oposisi Tolak Melegitimasi

Ranil Wickremesinghe pada Kamis (12/5) malam resmi dilantik, dan pada keesokan harinya, ia harus berjuang untuk menyatukan pemerintahan.


PM Baru Sri Lanka Dilantik, Oposisi Tolak Melegitimasi
PM Sri Lanka yang baru, Ranil Wickremesinghe harus menavigasi negaranya melalui penurunan terburuk dalam sejarahnya sebagai negara merdeka (AFP/Ishara S Kodikara)

AKURAT.CO  Baru saja dilantik, perdana menteri (PM) Sri Lanka sudah harus dihadapkan pada tantangan untuk membentuk pemerintah persatuan dan mencegah keruntuhan ekonomi yang akan segera terjadi.

Seperti diberitakan AFP, Ranil Wickremesinghe pada Kamis (12/5) malam resmi dilantik, dan pada keesokan harinya, ia harus berjuang untuk menyatukan pemerintahan. Diketahui, para anggota parlemen oposisi telah menolak bergabung dengan kabinetnya dan menuntut pemilihan baru.

Pria berusia 73 tahun itu mengatakan bahwa dia memiliki cukup dukungan untuk memerintah. Ia juga mengungkap langkahnya yang mendekati beberapa legislator untuk bergabung dengannya.

baca juga:

Namun, di tengah upayanya untuk mempersatukan pemerintahan, tiga partai oposisi telah menolak legitimasi atas jabatannya sebagai PM. 

Anggota parlemen oposisi senior Harsha de Silva bahkan telah menolak secara terbuka tawaran untuk mengambil alih kementerian keuangan. Alih-alih menerima jabatan itu, De Silva malah ingin mendorong agar pemerintahan saat ini bubar. 

"Orang-orang tidak meminta permainan dan kesepakatan politik, mereka menginginkan sistem baru yang akan melindungi masa depan mereka," katanya dalam sebuah pernyataan.

Tak hanya itu, De Silva juga telah menegaskan posisinya, yang bergabung dengan 'perjuangan rakyat' untuk menggulingkan Presiden Gotabaya Rajapaksa. Ia mengatakan tidak akan mendukung penyelesaian politik apa pun yang membuat Rajapaksa tetap berkuasa.

Demonstrasi publik besar-besaran meletus selama berminggu-minggu. Terkena imbas langsung krisis ekonomi terburuk, massa terus mengutuk Rajapaksa karena salah urus pemerintahan.

Ratusan orang juga tetap berada di luar kantornya di tepi laut di ibu kota Kolombo. Selama sebulan terakhir, para pendemo anti-pemerintah bernaung di sebuah kamp protes, menuntut agar Rajapaksa mundur.