News

Plot Twist! Serius Ajari Matematika, Ayah di China Nangis karena Nilai Putranya Makin Jelek

Putranya hanya mendapat nilai 6 dari 100 di bawah bimbingan sang ayah, padahal sebelumnya biasa mendapat 40-50.


Plot Twist! Serius Ajari Matematika, Ayah di China Nangis karena Nilai Putranya Makin Jelek
Sang ayah menangis tersedu-sedu pada 23 Juni karena kecewa ketika menerima rapor ujian akhir putranya. (Weibo via Mothership SG)

AKURAT.CO Seorang ayah di China bertekad memperbaiki nilai anaknya dengan mengajarinya matematika selama 1 tahun. Namun, ia akhirnya menangis tersedu-sedu lantaran nilai anaknya justru anjlok di bawah bimbingannya. Sang anak hanya mendapat nilai 6 dari total 100 dalam ujian akhir matematikanya.

Dilansir dari Mothership SG, warganet China tengah menyoroti video Weibo yang menunjukkan seorang ayah menangis di kamarnya dan menyeka air matanya. Pasalnya, adegan itu memilukan sekaligus lucu. Sebaliknya, istri pria tersebut terdengar tertawa di latar belakang.

Keduanya tinggal di Zhengzhou, Henan. Sang ayah menangis tersedu-sedu pada 23 Juni karena kecewa ketika menerima rapor ujian akhir putranya.

baca juga:

Menurut laporan ET Today, sang ayah awalnya prihatin karena nilai matematika putranya naik-turun. Ia biasa mendapat 40-50, tetapi terkadang hingga 80-90.

Tak tinggal diam, sang ayah rela begadang hingga larut malam untuk mengajari matematika kepada putranya setiap hari selama setahun terakhir. Namun, 'takdir' berkata lain. Putranya malah mendapat nilai 6 dari total nilai 100. Tak pelak, ini menjadi pukulan telak bagi keduanya.

"Saya tak peduli lagi, usaha saya sia-sia, biarkan ia berjuang sendiri!" gerutu sang ayah dalam video yang direkam oleh istrinya.

Warganet pun memberikan komentar beragam terhadap video itu. Sebagian besar bersimpati dengan kerja keras sang ayah, sulitnya mengasuh anak, dan tekanan pendidikan modern.

Namun, ada juga yang mencibir bahwa skor 6 dari 100 tersebut adalah cerminan kemampuan matematika sang ayah, bukan anaknya.

Sementara itu, yang lain curiga putranya telah menyerahkan ujian dengan jawaban kosong sebagai bentuk protes diam-diam. Mereka pun menyarankan sang ayah mengevaluasi kembali apakah metodenya dalam mengajar putranya sendiri sudah benar.[]