Ekonomi

PLN: Pasokan Batu Bara untuk Pembangkit Sudah Sesuai Rencana

PLN: Dan ke depan kami berupaya semaksimal mungkin untuk menjaga pasokan batu bara untuk bahan bakar PLTU melalui pengamanan secara berlapis


PLN: Pasokan Batu Bara untuk Pembangkit Sudah Sesuai Rencana
Petugas melakukan perawatan rutin pada instalasi suply listrik tenaga surya di Gedung Muhammadiyah Jakarta, Rabu (31/7/2019). PLN berencana untuk penyediaan tenaga listrik (RUPTL) dengan potensi tiga gigawatt untuk Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap dan menargetkan pengembangan lebih dari 1000 Megawatt yang terdiri dari inisiasi swasta serta inisiasi oleh PLN. (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO PT PLN (Persero) berupaya terus memastikan pemenuhan pasokan batu bara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berjalan sesuai rencana. Dengan terpenuhinya batu bara tersebut, PLN optimis dapat menjaga keandalan suplai listrik ke pelanggan.

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo mengatakan kondisi sistem kelistrikan di seluruh Indonesia dalam kondisi cukup. Sementara pasokan batu bara di 17 pembangkit yang sebelumnya dalam kondisi kritis, kini rata-rata telah mencapai 15 hari operasi (HOP).

"Dengan dukungan pemerintah dan seluruh stakeholders, pasokan batu bara telah sesuai rencana. Dan ke depan kami berupaya semaksimal mungkin untuk menjaga pasokan batu bara untuk bahan bakar PLTU melalui pengamanan secara berlapis," kata Darmawan lewat keterangan resmi yang diterima, Jumat (4/2/2022).

baca juga:

PLN, lanjut dia, telah melakukan perubahan paradigma dalam monitoring dan pengendalian pasokan batu bara. Semula monitoring berfokus pada pengawasan di titik bongkar atau estimated time of arrival/ETA menjadi berfokus di titik muat atau loading.

"Dengan ini maka jika ada potensi kegagalan pasokan karena ketersediaan batubara maupun armada angkutannya, akan dapat dideteksi lebih dini dan corrective action dapat dilakukan as early as possible, sehingga kepastian pasokan dapat lebih terjaga," ujar Darmawan.

Ia menjelaskan bahwa langkah pengawasan dilakukan tak hanya melalui fisik di lapangan, tetapi juga dengan integrasi sistem monitoring digital antara sistem PLN dengan sistem di Dirjen Minerba ESDM.

"Sistem ini memberikan informasi target loading dan terintegrasi dengan sistem di Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM yang mencatat realisasi loading dari setiap pemasok," tuturnya.

Darmawan menhelaskan sistem pemantauan ini membantu PLN bisa mengetahui kebutuhan batu bara hingga beberapa waktu ke depan. Di satu sisi, PLN juga melakukan reformasi kontrak untuk memastikan pasokan batu bara aman.

"PLN juga memperbaiki mekanisme perjanjian, yaitu kontrak yang semula bersifat fleksibel jangka pendek diubah menjadi kontrak yang lebih firm dan jangka panjang serta langsung dengan pemilik tambang yang memiliki kredibilitas dengan kualitas (spesifikasi) dan volume batu bara yang dibutuhkan PLN," katanya.

PLN, kata dia, juga terus meningkatkan kerja sama dan kolaborasi dengan para pengusaha kapal melalui INSA (Indonesian National Shipowners Association). Langkah ini dilakukan secara intens untuk memastikan realisasi pasokan batu bara termasuk penugasan dari Kementerian ESDM dapat terlaksana dan terkirim sesuai jadwal yang dibutuhkan.