Ekonomi

Bos PLN Sesumbar, Sukses Lunasi Utang Rp51 Triliun Selama 2020-2021

Kami dengan bangga bisa mengumumkan PLN mampu melakukan upaya pelunasan hutang yang dipercepat sebesar Rp30,8 triliun di 2020 dan Rp21,7 triliun di 2021.


Bos PLN Sesumbar, Sukses Lunasi Utang Rp51 Triliun Selama 2020-2021
Presiden Joko Widodo (kanan) dan Menteri BUMN Erick Thohir (kiri) mendapatkan penjelasan dari Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo (tengah) saat peresmian Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) Ultra Fast Charging di Central Parking Nusa Dua, Badung, Bali, Jumat (25/3/2022). (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf)

AKURAT.CO, PT PLN (Persero) mengumumkan bahwa perseroan mampu mempercepat pembayaran atau pelunasan utang mencapai total Rp51 triliun untuk tahun 2020 dan 2021.

“Kami dengan bangga bisa mengumumkan PLN mampu melakukan upaya pelunasan hutang yang dipercepat sebesar Rp30,8 triliun di 2020 dan Rp21,7 triliun di 2021,” kata Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR di Jakarta, Senin (28/3/2022).

Darmawan menjelaskan percepatan pelunasan itu dilakukan melalui upaya menaikkan demand, mengelola revenue, mengurangi pengeluaran perusahaan dan pengelolaan arus kas di perseroan.

baca juga:

“Sehingga dengan penurunan utang sekitar 51 triliun ini baik itu pokok maupun bunga,” ujarnya.

Selain utang, Darmawan menambahkan biaya pokok penyediaan listrik (BPP) juga menurun hingga Rp5 triliun pada beban keuangan sampai dengan September 2021.

PLN, sambung dia, juga telah melakukan kendali terhadap cash likuiditas yang sebelumnya terbatas dan tidak dimiliki dalam jangka waktu yang pendek.

“Kami sekarang mampu membangun visibility sampai 6 bulan sampai 12 bulan,” kata dia.

Selain itu, PLN dikatakan mampu menunda roadshow global bond karena telah bisa mengelola keuangan secara hari per hari. Sehingga beberapa pembayaran bisa lebih antisipatif dan penagihan pembayaran bisa disiplin kembali.

Darmawan mengatakan pencapaian kinerja yang lebih baik dalam 2 tahun terakhir sebagaimana implementasi Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP), demand recovery akibat Covid-19 dan kinerja bisnis PLN yang lebih optimal.

“Sehingga penurunan penjualan tenaga listrik itu lebih kecil daripada yang diperkirakan dengan usaha-usaha kami untuk meniakkan demand,” katanya.

Adapun untuk 2022 dan 2023, PLN menargetkan untuk melunasi utangnya masing-masing sebesar USD1,5 miliar atau sekitar Rp21,5 triliun (kurs Rp 14.363 per dolar AS).

Sebelumnya, Darmawan mengatakan bahwa kondisi keuangan PLN selama pandemi terus membaik. Bahkan perusahaan dapat menurunkan utang sebesar Rp20 triliun dari Rp450 triliun menjadi Rp430 triliun selama dua tahun terakhir.

Ia juga menuturkan bahwa selama dua tahun ini, perseroan melakukan proaktif debt management sehingga mampu mengurangi utang yang tadinya Rp450 triliun menjadi Rp430 triliun.

“Dengan digitalisasi, berdampak pada efisiensi penurunan Biaya Pokok Produksi dari Rp1.355 triliun di tahun 2020 menjadi Rp1.345 triliun di tahun 2021," jelas Darmawan beberapa waktu lalu.[]