News

PKS Dukung Indonesia Jadi Pabrik Vaksin Covid Dunia

Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher menegaskan Indonesia sangat tepat dijadikan pusat produksi vaksin dunia


PKS Dukung Indonesia Jadi Pabrik Vaksin Covid Dunia
Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher (DOK. HUMAS DPR RI)

AKURAT.CO, Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher mendukung pemerintah untuk melobi World Health Organization (WHO) agar Indonesia menjadi salah satu pusat produksi vaksin dunia.

“Langkah ini positif dan patut didukung. Pemerintah harus melakukan upaya serius dan sungguh-sungguh agar Indonesia dipilih sebagai salah satu pusat produksi vaksin global oleh WHO,” ujar Netty dalam keterangan tertulis, Rabu (22/09/2021).

Netty mengatakan, Indonesia sangat tepat dijadikan pusat produksi vaksin mengingat statusnya sebagai negara menengah dan berkembang yang masih membutuhkan banyak vaksin.

"Dengan dijadikannya Indonesia sebagai pusat produksi vaksin global maka  diharapkan terjadi transfer teknologi ke negara berkembang, khususnya di bidang farmasi. Selain itu, stimulasi infrastruktur kesehatan juga akan berkembang,“ katanya.

Apalagi, lanjut Netty, sempat terjadi ancaman hambatan pasokan vaksin dari negara maju produsen vaksin ke negara berkembang melalui fasilitas COVAX dan AVAT yang dapat merugikan negara berkembang.

“Pada masa pandemi ini, terlihat jelas ketimpangan infrastruktur kesehatan antara negara berkembang dan  negara maju yang berdampak pula pada  ketidakadilan akses dan distribusi vaksin global. Banyak negara berkembang yang kesulitan mendapatkan vaksin, sementara negara maju justru surplus vaksin karena bisa produksi sendiri,” imbuhnya.

Menurut Ketua Tim Covid-19 FPKS DPR RI ini, hal lain yang membuat Indonesia cocok dijadikan pusat produksi vaksin global adalah cuaca yang stabil.

“Kita negara tropis dengan hanya  dua musim, musim hujan dan kemarau yang kondisi  cuacanya lebih stabil sehingga tidak perlu khawatir soal perubahan  cuaca  yang tidak terprediski atau ekstrem. Kondisi alamiah ini tentu dapat  dijadikan nilai tawar di hadapan WHO,” ungkapnya.

Oleh karena itu Netty menyarankan, pemerintah perlu berstrategi agar peluang ini tidak hilang. Apabila peluang ini lepas maka akan merugi.

“Indonesia memenuhi syarat untuk menjadi pusat produksi vaksin global. Bukan soal hitungan kerugian material, tapi yang  lebih  penting adalah hilangnya kesempatan membangun kemandirian di bidang farmasi,” pungkasnya.[]