News

Pilpres Peru Bikin Negara Terpecah Belah, Suara 2 Kandidat Hanya Selisih 0,3 Persen

Pedro Castillo memimpin hasil Pemilu Peru dengan dengan 50,14 persen suara dengan 99,935 persen surat suara dihitung, mengalahkan Keiko Fujimori.


Pilpres Peru Bikin Negara Terpecah Belah, Suara 2 Kandidat Hanya Selisih 0,3 Persen
Pedro Castillo menyambut kemenangan Pemilu Peru. (Foto: AFP)

AKURAT.CO, Partai sosialis Peru dan calon presiden yang diusung, Pedro Castillo menyambut kemenangan Pemilu di negara tersebut. Di sisi lain, pesaing sayap kanan Keiko Fujimori berjanji tak berhenti berjuang sampai suara terakhir dihitung.

Dilansir dari Reuters, Castillo memimpin dengan 50,14 persen suara dengan 99,935 persen surat suara dihitung. Perolehan ini sontak membuat Fujimori tak berkutik, kecuali terjadi hal tak terduga di bagian akhir.

Kontes yang terbelah ini menjadi momen persimpangan jalan bagi negara kaya mineral tersebut. Peru pun tampaknya akan miring tajam ke kiri dan mengguncang kemapanan politik, pasar, dan penambang sebagai produsen tembaga logam merah nomor 2 di dunia.

"Rakyat telah memilih jalan mereka. Tak ada lagi perpecahan di negara ini. Mari kita serahkan pada otoritas agar semua ini tak lagi berkepanjangan dan keinginan rakyat dihormati," seru Castillo kepada para pendukungnya di Lima pada Sabtu (12/6).

Mantan guru ini pun meminta otoritas menyelesaikan penghitungan secepat mungkin.

Ribuan pendukung Peru, baik untuk Castillo maupun Fujimori, berdemonstrasi pada Sabtu (12/6) karena meningkatnya kekhawatiran atas penghitungan suara. Pasalnya, selisih antara keduanya kurang dari 0,3 poin persentase atau sekitar 49.420 suara.

Baca Juga: Revisi Laporan COVID-19, Peru Jadi Negara dengan Kasus Kematian Tertinggi Per Kapita

Fujimori bersikeras melontarkan klaim kecurangan, tetapi gagal membatalkan sebanyak 200 ribu suara. Ia adalah pewaris keluarga politik yang kuat sekaligus putri mantan Presiden Alberto Fujimori yang dipenjara karena pelanggaran HAM dan korupsi.

"Saya adalah orang yang pantang menyerah," ucapnya kepada ratusan pendukungnya saat memimpin protes di pusat Kota Lima pada Sabtu (12/6).

Di sisi lain, partai Castillo membantah tudingan kecurangan itu. Para pengawas internasional di Lima pun telah menyatakan Pemilu itu transparan.

Castillo telah menerima ucapan selamat dari beberapa pemimpin kiri Amerika Latin, tetapi memicu protes resmi dari pemerintah sementara Peru saat ini. Pasalnya, pemerintah meminta semua orang untuk menunggu sampai badan Pemilu mengumumkan hasilnya secara resmi.

Presiden baru Peru akan mulai menjabat pada 28 Juli. Ia menghadapi tantangan untuk mengarahkan negara itu menekan laju wabah per kapita COVID-19 paling mematikan di dunia, menyatukan negara yang terpecah belah, dan menghidupkan kembali ekonomi di tengah meningkatnya angka kemiskinan.[]