Veri Muhlis Arifuzzaman

Pendiri Konsepindo Reserach and Consulting
News

Pilpres 2024: Anies Atau Sandi Bisa Saja Dipinang Puan

Bagi Puan Maharani tiket maju ke Pilpres sesungguhnya sudah di tangan.


Pilpres 2024: Anies Atau Sandi Bisa Saja Dipinang Puan
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menginggalkan gedung KPK usai menjalani pemeriksaan terkait korupsi lahan di Jakarta, Selasa (21/9/2021). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO, Saat berkendara di jalan, di banyak sudut kota terpampang jelas wajah Ibu Puan Maharani dengan pesan khusus yang cukup konsisten diusungnya yakni soal kebhinekaan. Billboard atau baliho besar yang tersebar di seantero negeri itu, tentu dipasang bukan tanpa tujuan, apalagi biaya pasangnya perbulan bisa mencapai angka dua puluh jutaan setiap titiknya. Tujuan utamanya mudah diterka yakni ingin meningkatkan akseptabilitas dan elektabilitas. Sebagai ketua DPR dan petinggi parpol, tentu Puan cukup dikenal tapi untuk maju di pilpres 2024 diperlukan tingkat penerimaan dan keterpilihan yang memadai. 

Bagi Puan Maharani tiket maju ke Pilpres sesungguhnya sudah di tangan. Itu karena partai yang dipimpin oleh dia dan ibunya, sudah cukup syarat untuk bisa mengusung sendiri capres dan cawapres. Masalahnya apakah kemudahan untuk mengusung itu sama dengan kemudahan untuk memenangkan pilpres, di situ pertanyaan pentingnya. Memaksakan diri maju untuk kalah jelas bukan pilihan. Pilpres bukan ajang unjuk kekalahan atau sarana mencari pengalaman jadi pencundang. Kalau mau maju, ya harus menang. Begitu kira-kira rumus simpelnya. 

Dalam berbagai survei yang dipublis lembaga survei kredibel, nama Puan memang kerap muncul tapi hampir selalu berada di urutan bawah. Kalau terus begitu sampai satu semester ke depan, tentu semangat mengusungnya di posisi capres perlu dipertimbangkan kembali. Itu artinya kemungkinan mengusungnya di posisi cawapres menjadi terbuka. Karenanya isu bergabungnya Puan dengan Prabowo sebagai pasangan calon, jadi masuk di akal. Kini bahkan sudah ada relawan yang mendeklarasikan pasangan ini, Prabowo-Puan untuk pilpres 2024. 

Masalahnya apakah dengan bergabung bersama Prabowo yang sangat pengalaman makan asam garam dan pahit getirnya pilpres di Indonesia akan membuat pasangan ini mudah untuk menang? Ini jelas pertanyaan sulit. Namanya kontestasi, pasti ada saja peluang menang, namun saat sama juga terbuka peluang gagal. Pasangan ini bisa menang jika lawannya tidak tangguh, rapuh dan lemah. Namun jika lawan yang muncul, misalnya adalah pasangan Ganjar-Ridwan Kamil, tentu Prabowo-Puan harus berjuang keras. 

Sejarah mencatat PDIP dan Gerindra pernah bersatu mengusung Megawati-Prabowo dan kalah telak. Belajar dari kekalahan itu maka koalisi PDIP, Gerdindra memerlukan tambahan kekuatan politik lain khususnya kelompok Islam. Hanya saja, untuk figur Prabowo, tampaknya kelompok Islam sudah kecewa, karena pasca kalah dalam pilpres justru malah masuk di kabinet Jokowi sehingga mereka merasa dimanfaatkan saja untuk kepentingan pemilu.

Bisa saja Puan berpasangan dengan Sandiaga, yang suatu waktu pernah disebut Jokowi sebagai capres berikutnya. Sandiaga bahkan juga sudah dideklarasikan beberapa relawan pendukungnya. Namun elektabilitas Sandi tampak kurang moncer, kalah jauh oleh Ganjar Prabowo, Anies Baswedan bahkan oleh Ridwan Kamil sekalipun. Tapi Sandi tetap lebih menarik dari banyak sisi dibanding Prabowo untuk pilpres 2024. Sandi itu tokoh muda, pengalaman, pengusaha, punya uang untuk biayai pilpres yang tidak sedikit dan masih digenari emak-emak. Hanya saja, parpol yang bisa back up Sandi adalah Gerindra, tentu keputusannya amat bergantung pada kerelaan Prabowo untuk melepasnya ke Sandiaga. 

Yang menarik adalah jika pada akhirnya Puan sulit menemukan pasangan dan partainya kukuh untuk tetap mengusung dalam kontestasi, maka posisi Anies Baswedan bisa masuk dalam pertimbangan untuk jadi pasangannya. Karena bisa mengusung paslon sendiri, bisa saja Anies diajak Puan berpasangan. Puan jadi capres, Anies cawapres atau sebaliknya. 

Anies tidak berpartai, dia pernah jadi Jokower. Anies punya daya pikat yang tergambar paling tidak dalam survei selalu masuk di tiga besar. Jika berpasangan, kedua figur ini pada awalnya akan dipandang aneh, mengagetkan dan lucu. Tapi lama-kelamaan saat ada penerimaan dari para penggemarnya, keduanya akan berpadu dan menjadi kekuatan yang menakutkan. Tentu saja belum tentu menang tapi tetap ada peluangnya. 

Jika Anies mampu melakukan konsolidasi pendukungnya terutama dari basis-basis historis Masyumi terutama di Jawa Barat, Banten dan Sumatera lalu Puan mampu menguatkan basis kaum Marhaenis, Soekarnois, nasionalis dan pendukung setia PDIP dari kalangan non muslim yang tersebar di Bengkulu, Sumsel, Jawa Tengah, Bali dan Indonesia Timur, perpaduan dua kekuatan itu akan memberi efek gentar. Tapi memang tidak mudah dan butuh kerja panjang.[]