Ekonomi

Petani Tebu Desak Menperin Audit Pabrik Gula Diduga Merusak Harga

APTRI menilai ada beberapa hal yang dilakukan PT KTM selama ini tidak sesuai dengan semangat swasembada pangan


Petani Tebu Desak Menperin Audit Pabrik Gula Diduga Merusak Harga
Ilustrasi : produksi gula (asosiasigulaindonesia.org)

AKURAT.CO Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) mendesak Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk segera melakukan audit terhadap pabrik gula yang diduga melakukan persaingan bisnis tidak sehat.

Ketua DPD APTRI PTPN XI Sunardi Edy Sukamto, dalam keterangannya kepada Akurat.co, Sabtu (24/7/2021) mengatakan pihaknya telah melayangkan surat kepada Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita.

Isi dari surat tersebut mendesak agar Kemenperin segera mengevaluasi atau mengaudit, hingga mencabut ijin usaha PT Kebun Tebu Mas (KTM) di Lamongan, Jawa Timur, yang diduga melakukan praktik bisnis tidak sehat tersebut.

Menurutnya, alasan dilayangkan surat tersebut, karena ada beberapa hal yang dilakukan PT KTM selama ini tidak sesuai dengan semangat swasembada pangan dalam hal ini gula sebagaimana digariskan pemerintah.

Sunardi menjelaskan, selama ini PT KTM membeli tebu petani dengan harga yang tidak wajar. Akibatnya, berpotensi merusak harga tebu di pasaran.

"Hitungannya tidak wajar. KTM beli merugi yang penting dapat tebu. Alasannya supaya semua pihak melihat bahwa antrean tebu masuk ke KTM sangat luar biasa dan crowded, bahkan sampai 3 hari baru bongkar. Harapnya bahwa itu tebu diklaim tanaman sendiri padahal mendatangkan dari semua daerah dengan iming harga lebih," kata Sunardi.

Meski dalam jangka pendek harga pembelian yang ditetapkan PT KTM menguntungkan bagi petani, lanjut Sunardi, namun hal tersebut membuat persaingan tak sehat antar pabrik gula.

Hal ini diduga hanya upaya perusahaan tersebut untuk mendapatkan izin impor gula mentah (raw sugar).

"Menguntungkan (petani) betul, namun tidak dalam persaingan sehat karena hanya untuk kedok supaya dapat izin impor raw sugar atau penugasan. Subsidi silang yang dilakukan selama ini. Hanya nyerobot tebu tetangga (pabrik gula lain)," ungkap dia.