Ekonomi

Petani Perlu Perdalam Hasil Kajian Produktivitas Kelapa Sawit


Petani Perlu Perdalam Hasil Kajian Produktivitas Kelapa Sawit
Petani menimbang kelapa sawit di Kinali, Pasaman Barat, Sumatra Barat, Sabtu (1/12/2018). Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat, sektor kelapa sawit menghadapi penurunan harga crued palm oil (CPO) sebesar 24 persen, dari 636 dolar AS per ton menjadi 485 dolar AS per ton hingga akhir Oktober 2018. (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)

AKURAT.CO Kalangan petani sawit di berbagai daerah perlu untuk memperdalam hasil riset dan kajian yang bermanfaat dalam rangka meningkatkan produktivitas kelapa sawit karena hal tersebut juga dinilai bakal meningkatkan kesejahteraan para petani dan anggota keluarga mereka.

Anggota Komisi XI DPR RI Anarulita Muchtar  menyampaikan kepada petani sawit agar memilih bibit sawit yang berkualitas serta membuka diri untuk belajar hasil penelitian tentang kelapa sawit.

Hal tersebut, menurut dia, ke depannya juga dapat meningkatkan kualitas dan produktivitas kelapa sawit yang berujung pada peningkatan perekonomian petani sawit.

"Jadi jangan asal tanam begitu saja jika kita benar-benar mengerti teknologi sawit itu sendiri seperti apa. Kita memang harus banyak mempelajari riset tentang kelapa sawit. Belajar, belajar, dan belajar, supaya kita mengerti yang kita tanam ini kualitasnya bagus atau tidak," kata Anarulita Muchtar seperti dilansir dari Antara, Selasa (2/7/2019).

Politisi Partai Nasdem itu juga mengemukakan bahwa program peremajaan perkebunan kelapa sawit dari pemerintah adalah salah satu upaya  meningkatkan kualitas dan kuantitas kelapa sawit.

Dari program tersebut, lanjutnya, petani sawit yang tergabung ke dalam Koperasi Unit Desa (KUD) yang sudah terverifikasi, berhak mendapatkan bantuan sebesar Rp25 juta per hektare.

"Pemerintah harus gencar sosialisasi dan memberikan arahan kepada petani sehingga program replanting dan program lainnya dapat diterima dengan baik oleh petani," ucap Anarulita.

Sementara itu, Anggota Komisi XI DPR RI Elviana menyatakan program peremajaan perkebunan kelapa sawit masih belum efektif dan tersosialisasi dengan baik.

Hal itu, ujar Elviana, terindikasi dari masih banyaknya para petani yang terjerat dengan penawaran-penawaran dari perusahaan besar, adapula yang pinjam dana ke pihak perbankan. []

Sumber: Antara