Ekonomi

Petani Minta Jokowi Cabut Aturan yang Bebani Harga TBS Sawit

APKASINDO: Pemerintah harus gerak cepat untuk mendongkrak harga TBS petani dengan cara mencabut Peraturan yang menekan harga TBS Petani.


Petani Minta Jokowi Cabut Aturan yang Bebani Harga TBS Sawit
Petani Sawit yang tergabung dalam Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) menunjukan kelapa sawit yang rusak saat menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa (17/5/2022). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO, Harga tandan buah segar (TBS) sawit di tingkat petani anjlok. Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) meminta pemerintah segara turun tangan, salah satunya dengan mencabut aturan yang dianggap membebani.

"Pemerintah harus gerak cepat untuk mendongkrak harga TBS petani dengan cara mencabut Peraturan yang menekan harga TBS Petani. Saat ini Peraturan yang kami sebut 'beban' adalah BK, PE, DMO-DPO dan FO (flush-out)," ujar Gulat Manurung selaku Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) dalam keterangan tertulis, Kamis (23/6/2022).

Gulat mengatakan pemerintah dapat melakukan 2 opsi dan harus dibuka ke masyarakat. Pertama, jika tetap menggunakan full beban (PE+BK+DMO/DPO+FO), maka harga CPO Indonesia akan jatuh pada angka Rp10.176/kg, yang artinya harga TBS Petani Rp2.165/kg.

baca juga:

"Perlu dicatat, bahwa harga ini adalah harga Dinas Perkebunan, tentu kalau harga di PKS turun lagi, apalagi kalau di level petani kecil tentu menjual hasil panennya paling ke Pedagang Pengumpul (RAM) yang harganya bisa turun Rp.400-500/kg. Jadi praktis nya harga dilevel petani kecil hanya Rp.1.200-1400/kg, bahka saat ini ada yang hanya dihargai Rp.600/kg. RAM menekan harga bukan tanpa alasan, karena tidak adanya kepastian harga di PKS dan selalu berubah-ubah," terang Gulat

Kedua, jika beban BK (Bea Keluar) diturunkan dari US$ 288/ton menjadi US$ 200/ton dan PE (Pungutan Ekspor) dari US$ 200 ditekan menjadi US$ 100 totalnya menjadi US$ 350, maka harga CPO Domestik Rp.16.060/Kg CPO dan harga TBS Petani naik menjadi Rp 3.400/kg (dengan asumsi rendemen TBS = 21%). Jika CPO Indonesia sama sekali tanpa beban, maka harga TBS Petani adalah Rp.4.500/kg.

Dengan demikian beban TBS petani sesungguhnya jika dengan beban saat ini (full beban) adalah Rp2.340/kg TBS. Ini menggambarkan betapa beratnya beban TBS Petani sawit saat ini, yaitu 52% dari harga sesungguhnya (Rp4.500/kg jika tanpa beban).

"Jadi semuanya tergantung Presiden Jokowi, jika ingin membantu petani sawit mendapatkan haknya, maka opsi kedua adalah pilihan (beban hanya PE dan BK) maka harga TBS Petani akan terdongkrak menjadi Rp 3.400/kg. Namun jika tetap menggunakan opsi full beban, maka harga TBS Petani Rp.2.165/kg (seperti saat ini). Tentu ini beban yang luar biasa yang harus kami gendong sebagai petani kecil dengan keringat dan tulang kering kami sendiri," papar Gulat.

Gulat menambahkan saat ini semua serba salah, pabrik kelapa sawit (PKS) sudah sangat terancam karena di satu sisi, PKS didesak oleh Petani untuk membeli TBS mereka disatu sisi tangki timbun penuh, demikian juga dengan Refinary terkendala di kecepatan ekspor karena banyaknya rintangan yang harus dilalui

Oleh karena itu, lambatnya ekspor dari refineri mengakibatkan serapan CPO dari PKS menjadi lambat bahkan terhenti. Terhentinya atau lambatnya ekspor akan sangat berpengaruh kepada serapan TBS petani di PKS-PKS.

"Jadi secara sederhana dikatakan bahwa anjloknya harga TBS Petani diakibatkan oleh dua hal yaitu beban CPO dan Lambatnya ekspor CPO dan turunannya. Jadi kalau ada Menteri yang mengatakan bahwa harga CPO memang lagi turun penyebab anjloknya harga TBS, itu salah," tutup Gulat.[]