Ekonomi

Petani Masih Merana, NTP dan Harga Pangan Terus Alami Penurunan

penurunan NTP Juli 2021 menunjukkan masih belum kuatnya masing-masing subsektor pertanian di Indonesia.


Petani Masih Merana, NTP dan Harga Pangan Terus Alami Penurunan
Pekerja sedang merawat sayuran sawi di perkebunan milik Tarmin di kawasan Harapan Baru, Bekasi Utara, Jawa Barat, Minggu (31/5/2020). Menurut Tarmin (49) yang sudah menjadi petani sayuran dan padi di kawasan Jabodetabek sejak tahun 2000 ini, pendapatannya menurun hingga 50 persen. Hal tersebut dikarenakan penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di kawasan Jabodetabek. Pria asal Indramayu ini menambahkan, anjloknya omzet juga dipengaruhi banyak warga yang enggan membeli ke pasar secara (AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo)

AKURAT.CO  Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Bulan Juli 2021 sebesar 103,48. Nilai NTP tersebut tersebut tercatat turun 0,11 persen dibandingkan bulan sebelumnya (Juni 2021).

Dilansir dari rilis Berita Resmi Statistik yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), penurunan NTP Juli 2021 ini diakibatkan Indeks Harga yang Diterima Petani (lt) naik sebesar 0,03 persen lebih rendah dari kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (lb) sebesar 0,14 persen.

BPS mencatat selama Juli 2021, terdapat penurunan di dua subsektor, yakni di NTP subsektor Tanaman Pangan (0,13 persen) dan NTP Perkebunan Rakyat (0,23 persen).

Sementara tiga subsektor lainnya mengalami kenaikan, yakni NTP Hortikultura (2,49 persen); Peternakan (0,84 persen) dan Perikanan (0,23 persen). 

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Serikat Petani Indonesia (SPI), Agus Ruli Ardiansyah, menyebutkan penurunan NTP Juli 2021 menunjukkan masih belum kuatnya masing-masing subsektor pertanian di Indonesia.

“Kita lihat perkembangan NTP ini sangat fluktuatif. Subsektor tanaman pangan ini kembali turun dan melanjutkan tren di bawah standar impas sejak Februari 2021. Begitu juga dengan NTP Hortikultura, meskipun tercatat mengalami kenaikan yang cukup tinggi, tetapi kami nilai belum menggambarkan situasi sebenarnya yang terjadi di lapangan,” kata Ruli lewat keterangannya, Kamis (5/8/2021).

Terkait subsektor tanaman hortikultura, Agus Ruli menyebutkan laporan dari anggota SPI di berbagai wilayah penurunan harga di tingkat petani masih terjadi.

“Dari data yang kami kumpulkan kondisinya relatif belum banyak berubah. Di Ciaruteun Ilir, Kabupaten Bogor misalnya, dampak dari kebijakan PPKM sedikit banyak berpengaruh pada permintaan hasil pertanian. Begitu juga di Kabupaten Rejang Lebong dan Kepahiang, Bengkulu, harga sayur-sayuran dihargai murah. Bahkan di beberapa wilayah seperti Pati, Jawa Tengah, harga jenis cabai-cabaian ini justru turun. Ini berbeda dengan yang digambarkan oleh BPS tersebut,” paparnya.

Agus Ruli melanjutkan, Untuk NTP tanaman pangan, NTP masih di bawah batas impas 100, yakni berada di 96,31 persen. Laporan dari petani anggota SPI dari Desa Daya Kesuma, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, harga gabah di kisaran Rp3.800 – Rp4.000 dan untuk beras di Rp6.500.