Ekonomi

Petani Kelapa Sawit Mulai Teriak ke Jokowi, Minta Ekspor Segera Dibuka

Akibat larangan ekspor, kata Setiyono, saat ini tangki timbun pabrik kelapa sawit (PKS) tempatnya punya kontrak penjualan sudah dan hampir penuh.


Petani Kelapa Sawit Mulai Teriak ke Jokowi, Minta Ekspor Segera Dibuka
Pekerja menyusun tandan buah segar (TBS) kelapa sawit  di kawasan Candali, Bogor, Jawa Barat, Senin (20/9/2021). (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, Asosiasi Petani Kelapa Sawit yang tergabung dalam Aspekpir Indonesia menyampaikan surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Isi surat tersebut meminta pemerintah segera mencabut larangan ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan produk turunannya yang sudah berlaku sejak 28 April 2022.

Ketua Umum Aspekpir Indonesia Setiyono turut mengatakan bahwa sejak hari raya Idul Fitri kemarin, tidak ada gejolak dan kelangkaan minyak goreng yang tajam yang mana pelarangan ekspor itu hanya mempengaruhi pasokan dalam negeri.

"Karena tujuan sudah tercapai, saatnya pemerintah mencabut larangan ekspor CPO serta produk turunannya," jelas Setiyono dalam keterangan tertulis, Minggu (15/5/2022).

baca juga:

Setiyono melanjutkan, kebijakan itu sudah menghancurkan ekonomi petani sebagai komponen paling hulu dari rantai pasokan minyak kelapa sawit. Semenjak larangan ekspor ini dilakukan, petani yang menjadi yang terkena dampak ini, terlebih harga per tandan buah segar (TBS) menjadi merosot.

"Kebijakan ini ibaratnya siapa yang berulah tetapi siapa yang harus menanggung. Kami tidak tahu siapa yang makan nangka tetapi sekarang tangan kami penuh getahnya," tuturnya mengibaratkan.

Akibat larangan ekspor, kata Setiyono, saat ini tangki timbun pabrik kelapa sawit (PKS) tempatnya punya kontrak penjualan sudah dan hampir penuh. Mereka tidak bisa menjual CPO-nya pada industri olahan atau eksportir karena 70% pasarnya merupakan pasar ekspor.

Dikarenakan tangki sudah penuh, beberapa PKS disebut berhenti beroperasi dan tidak menutup kemungkinan jumlahnya terus bertambah. PKS yang masih beroperasi juga tidak menerima TBS petani mitranya yang sudah punya kontrak karena kondisi ini.

"Saat ini harga sarana produksi juga naik tinggi, sedang TBS tidak terjual sehingga petani sudah jatuh tertimpa tangga, temboknya rubuh menindih kami. Kelapa sawit secara teknis agronomis buah matang harus segera dipanen, kalau dibiarkan tidak dipanen maka tanaman akan rusak dan perlu waktu untuk memulihkannya," jelasnya.

Dunia saat ini kekurangan minyak nabati dan Indonesia sebagai pemilik kebun kelapa sawit terbesar dinilai punya tanggung jawab memenuhi permintaan itu sebagai bagian dari masyarakat Internasional yang beradab.

"TBS harus segera masuk pabrik, kalau tidak akan busuk dan CPO yang dihasilkan bermutu rendah. CPO yang terlalu lama disimpan di tangki timbun juga rusak sehingga tidak bisa memenuhi syarat untuk pangan," tutupnya.