Rahmah

Pesan Abu Nawas kepada Pejabat Kerajaan: Jangan Sombong, Engkau Ini Cuma Pelayan Rakyat

Dalam rangka tasyakur kerajaan, Baginda mengundang para petinggi kerajaan dan menugaskan Abu Nawas untuk mengisi tausiyah keagamaan.


Pesan Abu Nawas kepada Pejabat Kerajaan: Jangan Sombong, Engkau Ini Cuma Pelayan Rakyat
Ilustrasi Abu Nawas (pinterest.com)

AKURAT.CO  Sebagai seorang pemimpin negara, di setiap momentum hari besar nasional, Baginda Raja Harun Ar-Rasyid selalu mengadakan agenda makan bersama di istana kerajaan. Dalam acara tersebut, Baginda mengundang para petinggi kerajaan dan juga pemimpin negeri tetangga.

Namun ada hal yang jarang terjadi pada tahun ini. Baginda Raja mengadakan acara tasyakur kerajaan, sekaligus juga memanggil Abu Nawas untuk mengisi tausiyah keagamaan. Padahal sudah diketahui bersama bahwa Abu Nawas hanyalah rakyat biasa. Namun karena tidak ingin menolak permintaan rajanya, akhirnya Abu Nawas datang ke istana lebih awal untuk menghadiri acara tersebut.

Begitu sampai di kerajaan, Abu Nawas dipersilahkan untuk duduk di kursi bagian depan seolah-olah menjadi tamu yang sangat istimewa. Para undangan yang lain juga mulai berdatangan satu per satu, mereka langsung menempati kursi-kursi yang sudah disediakan. 

Setelah itu, disusul dengan kehadiran para pejabat kerajaan yang datang dan langsung menuju kursi yang paling depan. Akan tetapi, pada saat itu, ada salah seorang pejabat yang hadir sedikit terlambat yang sangat terkejut melihat kursi paling depan sudah penuh dan salah satunya sudah diisi oleh Abu Nawas.

Pejabat itu langsung melayangkan protes keras pada panitia penyelenggara tasyakur tersebut.

"Wahai panitia, kenapa akau yang lebih terhormat berada di belakang, sedangkan Abu Nawas yang hanya rakyat biasa dapat duduk di depan?," protes pejabat tersebut.

"Mohon maaf, Tuan seharusnya menanyakan langsung kepada Abu Nawas sendiri?," jawab salah seorang panitia.

Karena menganggap posisinya telah disamakan dengan orang biasa, pejabat itu akhirnya tidak terima. Ia lalu berjalan ke depan menghampiri Abu Nawas dan berbisik padanya bahwa yang pantas duduk di kursi itu adalah dirinya yang merupakan pejabat kerajaan terhormat.

"Wahai Abu Nawas, kamu tidak pantas duduk di sini, karena kursi depan seharusnya diisi oleh pejabat seperti aku, bukan dirimu yang hanya rakyat biasa ini," bisik pejabat itu dengan sombong.

Mendapat teguran pejabat yang merendahkannya, Abu Nawas membela diri. Maka terjadilah perdebatan diantara mereka, hingga mata para tamu undangan tertuju pada mereka.

"Tuan pejabat yang terhormat, pada kenyataannya anda itu tidak lebih dari seorang pesulap," kata Abu Nawas mulai angkat bicara.

"Wah, tidak bisa begitu, aku adalah pejabat kerajaan. Engkaulah yang pesulap," cetus pejabat itu tak terima.

"Sekalipun saya adalah pesulap, tapi ketika naik panggung, saya bisa bertindak sesuai yang diperintahkan. Saat saya berjanji mengubah sapu tangan menjadi kelinci, maka bim salabim, sapu tangan itu benar-benar berubah menjadi kelinci," tegas Abu Nawas.

"Wahai Abu Nawas. Apa maksudmu? Apa hubungannya denganku?," tanya pejabat itu merasa heran.

"Anda ini seperti seorang pesulap yang gagal di atas panggung, berjanji mengubah bunga menjadi kelinci tapi anda tidak berhasil mewujudkannya!,” jelas Abu Nawas membuat suasana semakin panas.

“Engkau ini aneh. Apa maksudmu?” tanya pejabat itu marah.

“Sebelum menjadi pejabat anda berjanji akan merubah nasib rakyat kecil menjadi lebih baik. Tapi, setelah menjadi pejabat, keadaan rakyat kecil sama saja seperti sebelum anda menjadi penjabat, tidak ada berubahnya" jawab Abu Nawas.

Karena pernyataan Abu Nawas itu, wajah sang pejabat menjadi merah, ia diam terdunduk dipermalukan Abu Nawas di depan para tamu yang hadir. Abu Nawas kembali bertanya padanya,

"Kalau begitu, mana yang lebih lebih pantas duduk di sini?" tanya Abu Nawas kembali.

Pejabat itu hanya bisa terdiam, ia tidak menjawab pertanyaan Abu Nawas. Dengan perasaan kesal dan malu pejabat itu langsung beranjak meninggalkan Abu Nawas dan duduk di kursi bagian belakang karena merasa dirinya hanyalah seorang pelayan bagi rakyat. []