News

Peru Tunjuk Presiden Baru, Pemimpim Lama Pedro Castillo Dicopot dan Langsung Ditangkap

Peru Tunjuk Presiden Baru, Pemimpim Lama Pedro Castillo Dicopot dan Langsung Ditangkap
Dina Boluarte, disumpah menjadi pemimpin baru Peru usai badan legislatif menyetujui pencopotan Presiden Pedro Castillo dalam sidang pemakzulan, di Lima, Peru, Rabu (7/11) (Sebastian Castaneda/Reuters)

AKURAT.CO  Kongres Peru telah mengambil sumpah presiden baru untuk negara itu, menggantikan pemimpin sebelumnya Pedro Castillo.

Sebagaimana diwartakan Reuters, pelantikan Dina Boluarte sebagai presiden baru Peru berlangsung pada Rabu (7/12), hanya beberapa jam usai Castillo resmi digulingkan melalui sidang pemakzulan dan kemudian ditangkap. Mantan pemimpin itu dicopot dari jabatannya usai melakukan upaya terakhir untuk tetap berkuasa, dengan mencoba membubarkan parlemen.

Dalam drama politik itu, Castillo gagal menutup badan legislatif melalui dekrit, dan anggota parlemen terus melanjutkan sidang pemakzulan yang direncanakan sebelumnya. Castillo, yang mulai mengeluarkan dekrit pada Selasa, harus tumbang dengan 101 suara mendukung pencopotannya, enam menentang dan 10 abstain.

baca juga:

Hasil pemakzulan diumumkan dengan sorak-sorai yang meriah, dan badan legislatif langsung memanggil Boluarte untuk menjabat menggantikan Castillo.

Boluarte, yang berusia 60 tahun, menjabat wakil presiden sebelum diangkat pada Rabu. Ia dilantik sebagai presiden hingga tahun 2026, menjadikannya wanita pertama yang memimpin negara di Amerika Selatan itu. 

Boluarte telah menyerukan gencatan senjata politik usai Peru dihadapkan pada ketidakstabilan selama berbulan-bulan, dengan negara itu sampai menyaksikan dua kali upaya pemakzulan. Ia pun telah menyarankan untuk membentuk kabinet baru, yang mencakup semua garis politik.

Boluarte juga sempat mengecam langkah Castillo yang ingin membubarkan Kongres, menyebutnya sebagai 'percobaan kudeta'.

Pada Rabu malamnya, kementerian publik mengumumkan penahanan Castillo, dengan tuduhan melakukan kejahatan 'pemberontakan' karena melanggar tatanan konstitusional.

Castillo, sebelum dimakzulkan dan ditangkap, mengatakan akan menutup sementara Kongres. Sebagai  gantinya, ia berniat meluncurkan 'pemerintahan pengecualian', dan menyerukan pemilihan legislatif baru.

Namun, langkah Castillo itu segera membuat sengkarut, dengan para menterinya memilih muncur. Pengunduran diri massal ini pun terjadi di tengah gelombang tuduhan dari para politisi oposisi dan sekutunya bahwa mantan presiden itu sedang mencoba melakukan kudeta.

Polisi dan Angkatan Bersenjata juga memperingatkan Castillo, bahwa cara yang dia ambil untuk mencoba membubarkan Kongres tidak konstitusional dan polisi mengatakan mereka telah 'campur tangan' untuk memenuhi tugas mereka.

Segera setelah kejatuhan Castillo, beberapa protes kecil terjadi di jalanan. Di Lima, puluhan orang mengibarkan bendera Peru bersorak atas kejatuhan Castillo, sementara di tempat lain di ibukota dan di kota Arequipa, para pendukungnya berbaris dan bentrok dengan polisi. Salah satunya memegang papan bertuliskan: 'Pedro, orang-orang bersamamu'.

Istana Pemerintah dan Kongres di Lima terihat dikelilingi oleh barikade logam, dengan puluhan petugas polisi berjaga-jaga dengan tameng dan helm plastik.

Tiga kali pemakzulan

Castillo, yang seorang mantan guru SD, harus mundur setelah menikmati  jabatannya yang singkat. Ia tercatat baru menjabat pada Juli tahun lalu, atau sekitar 15 bulan sebelum akhirnya dimakzulkan.

Namun, Peru, bagaimanapun, telah mengalami kekacauan politik selama bertahun-tahun, dengan banyak pemimpin dituduh melakukan korupsi, upaya pemakzulan yang sering terjadi, dan masa jabatan presiden dipersingkat.

Pertarungan hukum terbaru dimulai pada bulan Oktober, ketika kantor kejaksaan mengajukan gugatan konstitusional terhadap Castillo karena diduga memimpin 'organisasi kriminal' untuk mendapatkan keuntungan dari kontrak negara dan menghalangi penyelidikan.

Peru Tunjuk Presiden Baru, Pemimpim Lama Pedro Castillo Dicopot dan Langsung Ditangkap - Foto 2
 Presiden Peru yang terguling, Pedro Castillo duduk di sebelah mantan Perdana Menteri Anibal Torres di dalam mobil setelah meninggalkan kantor polisi, di Lima, Peru, Rabu (7/12)-Reuters/Gerardo Marin

Lalu pada minggu lalu, Kongres memutuskan memanggil Castillo untuk menanggapi tuduhan tuduhan 'ketidakmampuan moral' untuk memerintah.

Castillo menyebut tuduhan itu sebagai 'fitnah dari kelompok-kelompok yang berusaha mengambil keuntungan dan merebut kekuasaan mereka yang diambil rakyat melalui pemungutan suara'.

Guru sayap kiri berusia 53 tahun itu telah selamat dari dua kali upaya pemakzulan, sejak menjabat pada 2021.

Namun, setelah upaya hari Rabu untuk membubarkan Kongres, para sekutu Castillo berpaling, dan para kekuatan regional menggarisbawahi perlunya stabilitas demokrasi.

"Amerika Serikat dengan tegas menolak tindakan ekstra-konstitusional apa pun oleh Presiden Castillo untuk mencegah Kongres memenuhi mandatnya," tulis duta besar AS untuk Peru, Lisa Kenna, di Twitter.

Gejolak langsung mengguncang pasar di produsen tembaga nomor dua dunia itu, meskipun para analis mengatakan bahwa pencopotan Castillo, yang telah berjuang melawan Kongres yang bermusuhan sejak mengambil alih kekuasaan, pada akhirnya bisa menjadi hal yang positif.

"Pasar keuangan Peru akan menderita, tetapi tidak akan runtuh, terutama berkat fundamental domestik yang solid," kata Andres Abadia dari Pantheon Macroeconomics. []