News

Pertemuan ASEAN-China, Menlu Retno Bahas Isu Pandemi Hingga Stabilitas Kawasan

Salah satu yang menjadi isu utama yakni terkait Myanmar.


Pertemuan ASEAN-China, Menlu Retno Bahas Isu Pandemi Hingga Stabilitas Kawasan
Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi melakukan pertemuan dengan Menlu Singapura Vivian Balakrishnan pada Kamis (25/3/2021) (Dok. Kemlu)

AKURAT.CO, Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi melakukan pertemuan dengan Para Menlu ASEAN dan Menlu Republik Rakyat Tiongkok di Chongqing, RRT pada Senin (7/6/2021) malam. 

Ada sejumlah isu utama yang menjadi pembahasan, yakni peningkatan respon ASEAN-RRT terhadap pandemi, pemajuan kerja sama untuk pemulihan ekonomi berkelanjutan serta perdamaian dan stabilitas di kawasan.

Terkait dengan isu perdamaian dan stabilitas di kawasan. Menlu Retno menyampaikan tiga isu, yang pertama mengenai masalah Myanmar. 

"Saya sampaikan kembali bahwa keselamatan dan kesejahteraan masyarakat Myanmar serta pemulihan demokrasi harus menjadi prioritas utama kita," kata Menlu Retno dalam jumpa pers secara virtual sebagaimana dikutip AKURAT.CO pada Selasa (8/6/2021).

Kata dia, ASEAN telah bekerja keras, sehingga ASEAN Leaders Meeting dapat diselenggarakan di Jakarta, 24 April yang lalu, dan menghasilkan 5 point of consensus. Tugas ASEAN sekarang ini adalah segera mengimplementasikannya.

"Dukungan RRT kepada ASEAN guna menindaklanjuti 5 point of consensus akan sangat dihargai, karena hal ini akan memberikan kontribusi bagi upaya mencapai solusi damai atas krisis yang terjadi," ujarnya.

Kemudian isu Indo Pasifik. Di mana ia menekankan dinamika geopolitik yang berkembang mengharuskan semua untuk menjaga kawasan agar tetap stabil, damai dan sejahtera.

"Oleh karena itu, kita harus terus meningkatkan kebiasaan untuk berdialog dan bukan persaingan (rivalry); terus membangun kepercayaan strategis, dan bukan justru menciptakan defisit kepercayaan; dan membangun kerja sama konkret yang saling menguntungkan atau win-win dan bukan zero-sum game, sejalan dengan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific," ucapnya.

Lalu, isu Laut Tiongkok Selatan. Retno menekankan bahwa kemampuan mengelola Laut Tiongkok Selatan akan menjadi ujian bagihubungan ASEAN-RRT.

"ASEAN dan RRT harus segera melanjutkan pembahasan Code of Conduct yang kemajuannya saat ini sangat lambat. Kita berharap perundingan ini cepat selesai dengan hasil yang efektif dan substantif," ujarnya.

Dalam kaitan ini, Indonesia siap menjadi tuan rumah pertemuan negosiasi Code of Conduct di Jakarta dalam waktu dekat.Indonesia juga mendorong agar semua pihak terus mematuhi pelaksanaan Declaration of Conduct (DOC) termasuk menahan diri (self restraint).

"Saya mengulangi kembali bahwa kemampuan kita mengelola Laut China Selatan akan dapat memperkuat kemitraan kita yang setara, salingmenguntungkan dan sangat diperlukan bagi perdamaian dan stabilitas global dan semua harus dilakukan sesuai dengan UNCLOS 1982," katanya.

Ia menjelaskan, hasil dari Pertemuan para Menlu ASEAN dengan Menlu RRT sampai saat ini masih dinegosiasikan. Jadi negosiasi mengenai hasil pertemuan masih berjalan. 

Namun secara garis besar hasil pertemuan akan mencakup tiga isu utama, yaitu:

- Kerja sama ASEAN-RRT dalam menanggulangi COVID-19 dan kerja sama kesehatan secara umum, termasuk kerja sama vaksin, pasokanmedis dan pemberian bantuan teknis;

- Upaya saling dukung dalam pemulihan ekonomi.

- Komitmen bersama untuk memulai kembali negosiasi teks Code of Conduct atau Kode Perilaku di Laut Tiongkok Selatan, yang selama setahun lalu tertunda akibat pandemi.[]