Olahraga

'Pertandingan Paling Berkesan Adalah Menang'


'Pertandingan Paling Berkesan Adalah Menang'
Pelatih PSS Sleman, Seto Nurdiantoro saat sesi jumpa pers di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Kamis (19/9/2019). ( AKURAT.CO/Kumoro Damarjati)

AKURAT.CO Melakoni tahun ketujuh karier kepelatihan senior, Seto Nurdiantoro perlahan mulai menemukan ritmenya. Namanya, yang dulu dikenal sebagai pemain penjelajah klub-klub Bumi Mataram, sekarang moncer sebagai pelatih yang bahkan dianggap layak menakhodai tim nasional sepak bola Indonesia.

Menyambangi kediamannya di Perum Yogya Regency, Caturtunggal, Depok, Sleman, DIY, awal Oktober 2019 lalu, AKURAT.CO berbincang lebih jauh soal pengalaman melatih dan sedikit mengenai kehidupan pribadi pria yang kini menjadi Pelatih Kepala PSS Sleman.

Semua tersaji dalam sesi tanya jawab bagian 2 berikut ini.

1. Siapa yang dulu mengajari sepak bola?

Nggak ada yang ngajarin. Saya main bola itu dari tanpa alas kaki di halaman orang. Uniknya di situ. Pakai bola plastik. Diusir. Dilempari. Tapi mulai pakai sepatu bola ya dikasih kakak-kakak (Aris Widiyantoro dan Kristyantoro) itu mulai lulus SMP.

Kebetulan kakak juga PSS di divisi 2 waktu itu. Jadi pembagian, saya dikasih. Jadi kalau yang ngajarin siapa, ya ndak ada yang ngajarin. Tapi kadang di rumah, di halaman rumah kakak, saya sering main bola di situ.

2. Jika tak menjadi pesepak bola Anda akan jadi apa?

Artis (bercanda). Nggak lah. Anggan-anggan dulu, sebenarnya jadi pengusaha keinginannya. Kalau bisa dua-duanya. Pengusaha dan pelatih. Kalau dulu nggak jadi pemain bola ya jadi pengusaha.

3. Apa yang Anda lakukan sebelum pertandingan?

Dari pagi jelas rileks lah. Ngopi pasti, rileks santai pasti. Tapi sebelum berangkat minta doa restu istri, doa restu anak, doa restu orang tua, meskipun orang tua sudah meninggal berdoa dan mendoakan. Di lapangan juga sama, berdoa. Hanya itu saja.

4. Pelatihnya rileks tapi kok pemainnya yang malah kelihatan tegang?

Ya itu, kalau saya sih mungkin tipikal juga. Saya terinspirasi saat Jerman juara 2014 jadi saya melihat pemain itu tidak menunjukkan euforia yang berlebihan. Saya nggak melihat pelatih yang sering rogoh-rogoh itu ya (Joachim Low). Saya melihat secara tim, “Wih pemain-pemain Jerman ini sampai sebelum ke final, mereka saat mencetak gol oke rangkulan sama-sama, tidak menunjukkan euforia yang berlebihan”. Tapi setelah final mereka juara, baru disitu. Nah ini merupakan salah satu inspirasi saya.

Kalau target saya belum tercapai. Target manajemen belum tercapai. Saya tetap mencoba kalau saya ada keyakinan, maksudnya saya melihat pemain-pemain itu tidak euforia karena mental mereka mental juara. Mental mereka sudah dibentuk untuk tidak merayakan euforia pada setiap pertandingan.

5. Bagaimana dengan PSS sendiri, apakah masih kerap kali terjebak euforia tiap kali memetik hasil positif?

Ya itu PR. Artinya menjadi pembelajaran kami (pelatih) dan pemain, artinya kompetisi ini panjang kan gitu. Tidak hanya setiap pertandingan. Saya sih sudah membuat mindset dalam setiap latihan atau pertandingan di situ top form-nya. Tapi itu kembali ke pemainnya, kadang pemain mungkin, saya nggak tahu pasti euforianya berlebihan, dia tidak fokus, bisa jadi seperti itu, tapi sejauh ini secara kekompakan dan kekeluargaan sudah bagus.

Cuman inkonsisten itu di setiap pertandingan yang menjadi masalah. Bentuknya juga macam-macam. Saya tidak bisa men-judge pemain, bisa jadi masalah bonus, bisa jadi di situasi pemain dengan keluarganya, kita nggak tahu.

Tapi secara prinsip, sebagai pelatih saya berusaha memprogram menyiapkan saat pertandingan dalam kondisi yang bagus. Tapi kalo tentang inkonsisten juga masih menjadi tanda tanya juga. Padahal saya menelusuri, program latihan sudah oke menurut saya. Jadi mungkin banyak faktor tidak hanya di saya saja, mungkin di manajemen soal bonus, soal traveling, tentang masalah pemain dengan keluarga, ya macam-macam lah.

Pertandingan Paling Berkesan Adalah Menang - Foto 1
AKURAT.CO/Avila Dwi Putra



6. Pertandingan paling berkesan selama melatih dan menjadi pemain?

Yang paling berkesan ya menang.

7. Ada satu pertandingan spesifik, Coach?

Kalau untuk Liga 1 ini jelas, lawan PSM Makassar paling berkesan. Nggak menyangka (bisa menang) itu ya, sesudah (ketinggalan) 0-2.

Momen-momen pastinya itu salah satunya PSM. Kalau di Liga 2 dulu saat lawan Kalteng Putra saat semifinalnya. Kalau juaranya bagi saya bonus. Soalnya sudah pasti lolos Liga 1.

Kalau jadi pemain tentunya ya saat cetak-cetak gol yang di luar dugaan itu salah satu, kemudian bisa ke timnas. Merasakan juara 1 dan 2 di turnamen. Terus situasi-situasi saat kalah, terus bisa membalikkan keadaan. Mungkin waktu itu saya menjadi salah satu kreatornya.

8. Soal pemain asing, apa sisi menarik dari mereka menurut Anda? Mungkin sebenarnya apa sih yang bisa dipetik pemain lokal dari asing?

Sebenarnya pilihan pure saya sebenarnya (Guilherme) Batata sama Brian (Ferreira), itu pure saya. Kalau untuk Alfonso (de la Cruz) kebetulan Alfonso seleksi di sini, saya di Malang. Jadi saya hanya memantau dari informasi teman-teman. Sementara Yevhen (Bokhashvili) sebenarnya pilihan dari CEO. Jadi, ya menarik bagaimana Yevhen yang bukan merupakan tipikal yang saya, maksudnya okelah kalau dia ikut. Saya harus bentuk dia di situ. Alfonso juga sama. Batata dan Brian juga sama.

Tapi satu sorotan mungkin untuk seorang Batata. Harapan saya pemain-pemain lokal bisa belajar dari dia profesionalitasnya, sebelum berlatih, bagaimana sebelum bermain, setelah bermain, setelah berlatih, bagaimana dia mangatasi cedera, bagaimana dia saat bertanding, tidak kenal rasa lelah, tidak kenal rasa sakit, selalu menjadi benteng pertama di pertahanan.

Jadi setiap pemain memiliki keunikan sendiri-sendiri. Si Yevhen yang notabene seperti itu harus saya bentuk seperti ini dan akhirnya dia bisa mencetak 11 gol, dan Brian juga sebenarnya cara bermainnya tipikal keuletannya oke, tapi saya harus bentuk supaya lebih efektif efisien. Maksudnya kapan dia harus nge-pass bola, kapan dia harus dribbling, nah ini yang masih selalu saya berikan info ke dia.

Batata juga hampir sama. Bagaimana dia harus menjaga keseimbangan, tidak begitu liar, walaupun di beberapa pertandingan masih sangat liar. Nah ini yang harus (jadi perhatian), si Alfonso juga. Yang saya inginkan dari pemain belakang selain berani blow up tadi, bola-bola atasnya juga harus tangguh dia juga berani akselerasi ke depan. Memang ada beberapa poin yang saya selalu tekankan belum terjadi.

9. Awal rencana merekrut Batata sempat dicibir sana-sini karena dinilai bisa merugikan tim melihat rekam jejaknya, apa yang membuat Anda kekeh merekrut dia?

Ya itu tadi saya selalu diumpat-umpat netizen. Saya selalu melihat video. Saya ya di video saya melihat tipikal dan karakter. Saya melihatnya secara teknik, taktik, teknikal skill-nya saya suka. Yang kedua saya melihat dia ini dari Brasil, Brian dari Argentina.

Tipikal-tipikal pemain itu yang saya butuhkan, untuk yang cocok di Indonesia maksudnya. Mungkin di sana udaranya tidak terlalu dingin juga, iklim juga menjadi pertimbangan. Kadang di trial pemainnya bagus tapi saat di kompetisi nggak main bagus juga. Bisa jadi seperti itu juga. Tapi bagi saya karakter pemain ini yang saya mau.

10. Perbedaan pemain asing dan lokal menurut Anda?

Memang ada beberapa pemain asing yang mengangkat tim tapi kalau menurut saya sih tidak terlalu banyak. Kalau pemain lokal justru malah bisa menunjukkan taring. Ya itu kendalanya, biasanya setiap tim mengambil pemain asing di porosnya. CB, gelandang, striker, itu porosnya. Jadi sebenarnya banyak pemain yang kayak (Kushedya) Yudo yang di striker bisa tapi ya karena saya masih berikan poros itu. Karena jantungnya di situ.

Jadi banyak pemain yang muncul sebenarnya. Jadi, kalau dibilang hampir sama pemain lokal dan pemain asing. Dan saya sih pengennya regulasi dari PSSI agar lebih banyak pemain lokal yang diprioritaskan, selain pemain juga pelatih lokal. Jadi kalau pemain asing ya yang benar-benar mumpuni. Jangan asal pemain asing. Jadi federasi harus benar-benar memberikan pemain asing yang profesional. Mungkin saya melihatnya di Batata ya mungkin seperti itu.

Pertandingan Paling Berkesan Adalah Menang - Foto 2
TWITTER/PSS Sleman



11. Berarti intinya kalau dari apa yang bisa diserap oleh pemain lokal dari pemain asing itu profesionalismenya ya?

Ya itu, yang kedua teknik, skill cara bermainnya juga. Bagaimana kalau di lapangan oh begini-begini. Profesionalnya bukan hanya profesional di situ, tapi juga profesional di luar lapangan. Bagaimana dia bersikap, profesional dia menghadapi permasalahan misalnya seperti itu.

12. Waktu luang digunakan untuk apa?

Jadi tukang kebun di sini (rumah). Ya ini saya tadi kan jambu panen dari situ, mangga panen sendiri. Itu yang satu. Kemudian sore bermain bola dengan yang tua-tua. Jadi kalau di rumah misalnya sore latihan, paginya lebih banyak bersih-bersih, memelihara tanaman-tanaman.

Kadang motor juga saya preteli. Iya, kadang kalau nggak bisa pasang, ya panggil yang lain.

13. Keluarga, berapa anak Coach Seto dan di mana saja sekarang?

Saya punya dua putri, yang satu 1 SMA di SMA 1. Yang satu kelas 4 di SD Sapen. Ya kalau nggak kesibukan selain ini ya 'ternak teri' kan gitu. Anter anak anter istri. Jadi ini sih, waktu kalau anak-anak sekolah ya habis waktunya ini. Mungkin juga ada kegiatan lain yang kadang kebetulan istri juga ada usaha keluarga, bengkel. Kadang jenguk ke sana. Tapi lebih banyak di sini sih (rumah). Terus kalau kegiatan anak istri juga libur kadang kami ya nonton film terus ke tempat-tempat dataran tinggi yang dingin.

14. Serba favorit, apa makanan, warna, film, yang menjadi favorit Anda?

Waduh kalau makanan sebenarnya makanan yang memakai bumbu-bumbu kacang seperti ketoprak, lotek. Walaupun yang lain juga masuk juga seperti bakso, kambing, tapi saya suka yang bumbu kacang itu.

15. Kalau warna, biru atau hijau?

Biru. Warnanya. Terus katanya biru itu romantis ya. Biru muda.

Film, kalau film suka yang action tapi tidak menutup kemungkinan yang lain seperti film-film kartun, terus film-film romantis kayak Dilan model gitu. Kalau film olahraga, ada ya film olahraga? Lebih suka ke action kayak Mission Impossible. Tapi film-film romantis juga suka.

16. Cita-cita terbesar Anda sebagai pelatih? Timnas?

Lho iya pasti, semua pelatih pengennya ke timnas. Tapi ada mimpi juga melatih di luar Indonesia. Pengen. Yang jelas itu kalau menjadi pelatih salah satu target pengen menjadi membawa salah satu tim liga menjadi juara. Liga 1 menjadi juara. Nggak tahu nanti suatu saat kapan. Yang kedua terlibat di timnas. Yang ketiga bisa menangani tim di luar Indonesia.[]

Ahada Ramadhana

https://akurat.co