News

Pertama Kali, Etnis Mayoritas Sri Lanka Peringati Kematian Minoritas Tamil dalam Perang Saudara

"Kita berada di sini bukan sebagai kelompok etnis yang berbeda, melainkan sebagai orang Sri Lanka," pesan Kaushalya Fernando.


Pertama Kali, Etnis Mayoritas Sri Lanka Peringati Kematian Minoritas Tamil dalam Perang Saudara
Para aktivis HAM Sri Lanka mengheningkan cipta untuk mengenang dan mendoakan warga sipil yang tewas dalam Perang Saudara. (Associated Press)

AKURAT.CO, Untuk pertama kalinya, etnis mayoritas Sinhala secara terbuka memperingati kematian etnis minoritas Tamil yang tewas dalam perang saudara selama 26 tahun di Sri Lanka.

Dilansir dari AFP, para demonstran, sebagian besar etnis mayoritas Sinhala, berkumpul di depan kantor presiden di kota Kolombo pada Rabu (18/5). Mereka melarung bunga di laut terdekat dan mendoakan semua warga sipil yang tewas dalam perang saudara 26 tahun, termasuk warga sipil Tamil, pemberontak Tamil, dan tentara pemerintah. Perang etnis berdarah itu berakhir setelah pemimpin gerakan separatis Macan Tamil, Velupillai Prabhakaran, ditembak mati pasukan keamanan pada 18 Mei 2009.

"Ini sangat simbolis dan sangat penting bagi orang Tamil. Sebelumnya juga ada peringatan pribadi, tetapi diadakan diam-diam. Meski begitu, acara publik ini disambut sangat baik," tutur Dharmalingam Sithadthan, anggota parlemen dari Jaffna, jantung Tamil utara.

baca juga:

Para pemuka agama dari komunitas Buddha, Hindu, dan Kristen berdoa di Kolombo dan menyalakan lentera tanah liat untuk korban yang tewas dalam perang saudara.

Pertama Kali, Etnis Mayoritas Sri Lanka Peringati Kematian Minoritas Tamil dalam Perang Saudara - Foto 1
Associated Press

"Saya orang Sinhala sejak lahir. Hari ini kami mengadakan peringatan untuk semua orang yang terbunuh 13 tahun yang lalu, baik Sinhala, Muslim, Hindu, dan semua orang sebagai akibat dari terorisme negara dan terorisme oleh kelompok nonnegara. Masih ada orang yang berduka karena peristiwa ini. Sebagai orang Sinhala, saya berhak untuk berkabung dalam kesedihan mereka karena saya sangat meyakini agama kemanusiaan," ungkap Sumeera Gunasekara, aktivis media sosial yang berpartisipasi dalam acara itu.

Aktris Kaushalya Fernando juga datang untuk mengenang para korban dalam perang yang diciptakan dan disalahgunakan oleh para politisi.

"Arti penting dari tempat ini adalah kita berada di sini bukan sebagai kelompok etnis yang berbeda, melainkan sebagai orang Sri Lanka," pesannya.

Para demonstran juga berbagi bubur nasi, satu-satunya makanan yang bisa didapat rakyat di akhir perang lantaran pasokan diblokade ketat.

Menurut partai utama Tamil negara itu, Aliansi Nasional Tamil (TNA), peringatan ini menunjukkan mayoritas Sinhala bersedia mendukung rekonsiliasi setelah beberapa dekade perang etnis.

"Ini memberi kami banyak harapan. Saya juga berharap orang-orang Tamil akan meresponsnya. Mungkin ada jebakan di sepanjang jalan, tapi ini awal yang sangat baik," ucap juru bicara TNA, M A Sumanthiran.

Pertama Kali, Etnis Mayoritas Sri Lanka Peringati Kematian Minoritas Tamil dalam Perang Saudara - Foto 2
Associated Press

Perang saudara tersebut menewaskan 100 ribu orang, menurut perkiraan PBB. Jumlah sebenarnya diyakini jauh lebih tinggi. Dalam bulan-bulan terakhir pertempuran saja, setidaknya 40 ribu warga sipil Tamil tewas, menurut laporan dari panel ahli PBB.

Sejak pasukan Sri Lanka mengalahkan pemberontak Macan Tamil pada 2009, otoritas Sri Lanka melarang warga Tamil memperingati secara terbuka kematian anggota keluarga mereka. Sejak itu, kelompok HAM menuduh militer negara tersebut membunuh warga sipil menjelang akhir perang. Namun, pemerintah membantahnya.

Etnis Sinhala yang sebagian besar beragama Buddha mencakup 75 persen dari 22 juta penduduk Sri Lanka. Sementara itu, etnis Tamil yang sebagian besar beragama Hindu mewakili 15 persen dari populasi.

PBB telah menuduh kedua belak pihak melakukan kejahatan perang dan telah diberi mandat untuk mengumpulkan bukti. PBB juga memperingatkan kegagalan Sri Lanka dalam mengatasi pelanggaran di masa lalu berisiko terjadi pelanggaran HAM berulang. []