Ekonomi

Perry Optimis Ekonomi Indonesia di 2022 Tumbuh Hingga 5,5 Persen

Perry Warjiyo optimistis ekonomi Indonesia tumbuh antara 4,7 persen sampai 5,5 persen pada 2022 sejalan akselerasi konsumsi swasta dan investasi.


Perry Optimis Ekonomi Indonesia di 2022 Tumbuh Hingga 5,5 Persen
Gurbernur BI, Perry Warjiyo, saat acara Asia's Trade and Economic Prioritize di Hotel Fairmont, Selasa (29/10/2019). (AKURAT.CO/Wayan Adhi Mahardhika )

AKURAT.CO 

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimistis ekonomi Indonesia tumbuh antara 4,7 persen sampai 5,5 persen pada 2022 sejalan akselerasi konsumsi swasta dan investasi.

baca juga:

"Perkiraan ini di tengah belanja fiskal pemerintah dan ekspor yang tetap terjaga, meski risiko kenaikan kasus COVID-19 perlu terus diwaspadai," ungkap Perry dalam konferensi pers RDG BI Bulan Januari 2022 Cakupan Tahunan di Jakarta, Kamis (20/1/2022).

Selain itu, proyeksi tersebut juga didukung oleh mobilitas yang terus meningkat, sejalan dengan akselerasi vaksinasi, pembukaan ekonomi yang semakin luas dan stimulus kebijakan yang berlanjut.

Ia mengatakan kinerja lapangan usaha utama, seperti industri pengolahan, perdagangan, konstruksi, dan pertanian tumbuh meningkat.

Secara spasial, perbaikan ekonomi diprakirakan terjadi di seluruh wilayah terutama Jawa, Sumatera, Kalimantan, serta Bali dan Nusa Tenggara.

"Perkembangan ini seiring dengan tetap kuatnya kinerja ekspor, perbaikan permintaan domestik, dan kinerja lapangan usaha utama," kata Perry.

Sementara untuk 2021, orang nomor satu di bank sentral RI ini memprediksikan ekonomi akan tumbuh di antara 3,2 persen sampai empat persen.

Hal tersebut seiring dengan perkembangan indikator ekonomi pada Desember 2021 mengindikasikan akselerasi proses pemulihan, antara lain mobilitas masyarakat, penjualan eceran, dan keyakinan konsumen.

Sementara sebelumnya, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati optimistis, perekonomian Indonesia pada 2022 mampu tumbuh lebih baik dari pada tahun sebelumnya.

Alasannya, Indonesia mampu mengatasi berbagai persoalan terkait pandemi Covid-19 selama dua tahun terakhir. Termasuk saat dihadapkan dengan merebaknya varian Delta di pertengahan 2021 lalu.

Selain itu, APBN juga mampu menjalankan fungsinya sebagai instrumen countercyclical selama pandemi Covid-19 berlangsung. Sehingga, mampu sebagai penopang perekonomian nasional di situasi sulit akibat pandemi Covid-19.

Kemudian, kinerja penerimaan negara dari sektor perpajakan juga mengalami perbaikan signifikan di tahun 2021 lalu dengan melebihi target yang telah ditetapkan. Senada, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) juga berhasil melewati target yang ditetapkan.

"Penerimaan pajak, bea dan cukai, penerimaan negara bukan pajak itu meningkat luar biasa. Jadi, ini adalah rebound dan cover yang kuat," tekannya.[]

Sumber: Antara