Rahmah

Hukum Pernikahan Beda Agama Bagi Muslim, Apakah Boleh?

Hukum Pernikahan Beda Agama Bagi Muslim, Apakah Boleh?
Ilustrasi pernikahan beda agama. (Mui.or.id)

AKURAT.CO Ditinjau dari perspektif Al-Qur'an dan hadis hukum pernikahan beda agama bagi muslim adalah haram. Agama Islam secara terang-terangan melarang adanya menikah beda agama. Bahkan Kementerian Agama juga menegaskan Pengadilan Agama tidak bisa mengesahkan pernikahan dengan agama yang berbeda. Akan tetapi, Pengadilan Negeri bisa memerintahkan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil untuk mencatatkan pernikahan tersebut.

Sebenarnya pernikahan dengan dua agama yang berbeda sudah ada sejak lama, bahkan sebelum zaman Rasulullah SAW. Beberapa kisah pernikahan beda agama juga dicatat dalam beberapa ayat Alquran. Di antara pernikahan beda agama, sebut saja kisah pernikahan Nabi Nuh dan Nabi Luth, keduanya merupakan sosok muslimin yang taat kepada Allah SWT, namun masing-masing dari mereka memiliki istri yang termasuk ke dalam golongan kafir. Kemudian juga dengan pernikahan Siti Aisyah, seorang muslim yang dipaksa untuk menikah dengan Firaun dan pernikahan Abu Lahab dengan istrinya yang seorang muslimah bernama Ummu Jamil.

Beberapa sahabat Rasulullah SAW pun pernah melakukan pernikahan beda agama, namun kemudian mereka masuk Islam. Beberapa contoh yang telah disebutkan menjadi bukti nyata bahwa peristiwa ini sudah terjadi dan bukan menjadi isu yang baru-baru ini saja.

baca juga:

Dalil Larangan Pernikahan Beda Agama

Telah dijelaskan dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 221, Allah berfirman tentang anjuran menikah antar-sesama muslim.

Hukum Pernikahan Beda Agama Bagi Muslim, Apakah Boleh - Foto 1
(Alquranmulia.wordpress.com)

Artinya: "Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran."

Dari ayat alquran di atas menegaskan bahwa ajaran Islam melarang umatnya untuk menikah dengan orang selain muslim atas alasan apapun. Adapun hukum menikah beda agama antara muslim dan musyrik adalah haram.

Pernikahan Beda Agama dalam Pandangan MUI

Melansir pada situs resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam Musyawarah Nasional Nomor 4/MUNAS VII/MUI/8/2005 tentang Perkawinan Beda Agama, dalam penetapan fatwa yang telah disahkan Komisi C Bidang Fatwa bahwa musyawarah nasional ini menghasilkan dua poin utama.

Poin pertama yang berisi pernyataan mengenai pernikahan beda agama adalah haram dan tidak sah. Kemudian poin kedua tentang perkawinan laki-laki muslim dengan wanita Ahlu Kitab, menurut qaul mu'tamad adalah haram dan tidak sah.

Dalam hal ini, fatwa yang telah dikeluarkan oleh MUI itu sudah berlandaskan pada nash agama, baik itu dari segi Al-Qur'an dan hadis. Adanya larangan pernikahan beda agama ini merujuk serta mempertimbangkan dari segi dampak yang akan ditimbulkan dari peristiwa pernikahan beda agama.

Dampak Pernikahan Beda Agama

Adapun dampak yang akan ditimbulkan dari pernikahan beda agama, sebagai berikut:

  • Pernikahannya menjadi tidak sah
  • Menimbulkan keretakan dalam rumah tangga karena adanya ketidaknyamanan dan permasalahan, terutama bagi anak
  • Hubungan suami istri menjadi tidak sah karena dianggap seperti layaknya berzina
  • Pertalian nasab bapak dengan anak menjadi terputus
  • Hukum nafkah bagi bapak menjadi tidak ada
  • Jika bapak kandung menjadi wali anaknya yang merupakan hasil nikah beda agama, maka status kewaliannya tidak sah

Nah, itulah ulasan mengenai hukum pernikahan dengan beda agama. Berdasarkan penjelasan di atas, perkawinan yang dilakukan di wilayah hukum Indonesia harus dilakukan dengan satu jalur agama artinya pernikahan beda agama tidak diperbolehkan untuk dilaksanakan dan jika tetap dipaksakan untuk melangsungkan pernikahan beda agama berarti tidak sah.