Ekonomi

Permintaan Menjulang, Pentingnya Poles Tata Niaga Kopi Lewat Koperasi

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki di tengah harga komoditas pertanian yang turun di saat panen raya, justru kopi melimpah


Permintaan Menjulang, Pentingnya Poles Tata Niaga Kopi Lewat Koperasi
Pengusaha menyortir biji kopi di Rumah Roasting Pitoe Kopi, Depok, Jawa Barat, Selasa, (23/3/2021). (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan di tengah harga komoditas pertanian yang turun di saat panen raya, justru kopi melimpah. Untuk itu Teten menegaskan, agar tata niaga kopi di Aceh Tengah diperbaiki. Terutama kelembagaannya lewat koperasi.

Teten menyebut saat ini, harga kopi mulai membaik menjadi 6 dolar Amerika Serikat atau setara Rp86.299 per kilogram (kg) di pasar New York. Sebelumnya hanya di angka 5,9 dolar AS atau setara Rp84.916 per kg. 

"Sementara harga kopi kita ini sebenarnya mahal, di harga 11 dolar AS, atau sekitar Rp158.270 per kilogram. Kenaikan harga kopi ini kemungkinan karena produksi dunia yang turun, termasuk Brazil. Ini bisa berimbas pada permintaan kopi Indonesia akan tinggi. Jadi, stok lama di dalam negeri bisa diserap pasar luar negeri," papar Teten dalam kunjungan kerjanya ke Kokowagayo di Bener Meriah, Aceh Tengah. 

Pihaknya mengusulkan agar memperkuat koperasi-koperasi di sektor pangan/riil. Karena 59 persen koperasi masih banyak yang bergerak di sektor simpan pinjam.

Sementara itu, Teten pun mengapresiasi Koperasi Kopi Wanita Gayo (Kokowagayo), yang telah malang-melintang di pasar internasional. 

Kokowagayo menjadi satu-satunya koperasi wanita di kawasan Asia Tenggara yang masuk dalam organisasi petani kopi wanita internasional berbasis di Peru, Amerika Selatan, yaitu Organic Product Trading Company (OPTCO) Cafe Femenino. 

"Kokowagayo ini sudah mendunia. Menjadi kebanggaan Indonesia, bahwa ada koperasi wanita kiprahnya diakui secara internasional," ucap Teten.

Kopi Gayo dari Aceh Tengah, kata Teten, memang menjadi salah satu kopi terbaik yang diakui dunia. Namun, ada beberapa kendala yang dihadapi para petani kopi gayo di Aceh Tengah, termasuk Kokowagayo, yaitu masalah harga dan kualitas kopi. 

Ketua Kokowagayo, Rizkani Melati, mengatakan, seluruh anggota koperasi ini diisi oleh petani kopi perempuan, yang berjumlah 409 orang dan mengelola lahan sebanyak 342 hektare (ha).