Ekonomi

Perlu Kolaborasi Hadapi Tantangan Pengembangan Koperasi Syariah di Indonesia

Perlu Kolaborasi Hadapi Tantangan Pengembangan Koperasi Syariah di Indonesia
Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki (DOK. KEMENKOP UKM)

AKURAT.CO Menteri Koperasi dan UKM (MenKopUKM) Teten Masduki menyebutkan perlunya kolaborasi berbagai pemangku kepentingan untuk menghadapi setidaknya empat tantangan dan masalah dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. 

"Untuk itu, perlu kolaborasi dan dukungan semua pihak. Mulai dari pemerintah, parlemen, hingga industri yang menjadi rantai nilai ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia, termasuk koperasi syariah," ucapnya saat membuka acara Bimbingan Teknis (Bimtek) Pembiayaan Dana Bergulir Syariah LPDB-KUMKM dengan pelaku koperasi, di Yogyakarta. 

Tantangan pertama, lembaga keuangan syariah masih menghadapi masalah permodalan. "Sehingga, hal ini dinilai masih menghambat perluasan jangkauan pemberian pembiayaan dan pendanaan bagi pelaku usaha dengan biaya yang lebih rendah," tukasnya. 

baca juga:

Kedua, percepatan pengembangan inovasi produk syariah. "Produk syariah kita perlu lebih variatif dan market friendly," katanya. 

Tantangan ketiga, kata Menteri Teten, terkait pengembangan SDM di sektor ekonomi syariah. Sebab, diperlukan SDM yang bisa mengelola dana umat yang sangat besar. 

"Keempat, keterbatasan infrastruktur di ekonomi dan keuangan syariah yang juga perlu diatasi. Sehingga, layanan keuangan syariah, termasuk pemanfaatan teknologi, bisa semakin diperluas," paparnya. 

Sekarang ini,lanjutnya, masih ada koperasi, termasuk koperasi syariah, yang masih konvensional alias belum go digital.

"Sementara Fintech yang memiliki pangsa pasar yang sama dengan koperasi, sudah memakai teknologi digital. Bahkan, sudah memakai pola credit scoring," ucapnya. 

Di mata Teten, dengan pola credit scoring ini Fintech berani memberikan kredit secara lebih cepat ketimbang bank dan koperasi, plus tanpa agunan.