News

Perlahan Kembali Normal, Warga AS yang Sudah Divaksin COVID-19 Boleh Tak Pakai Masker

CDC tak lagi mewajibkan warga yang telah divaksinasi lengkap untuk mengenakan masker di luar ruangan dalam keramaian.


Perlahan Kembali Normal, Warga AS yang Sudah Divaksin COVID-19 Boleh Tak Pakai Masker
Presiden AS Joe Biden yang telah divaksinasi COVID-19 kini tak lagi wajib memakai masker. (Foto: REUTERS)

AKURAT.CO, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS) pada Kamis (13/5) melonggarkan protokol pemakaian masker bagi warga yang telah divaksinasi lengkap terhadap COVID-19.

Dilansir dari Deutsche Welle, CDC tak lagi mewajibkan warga yang telah divaksinasi lengkap untuk mengenakan masker di luar ruangan dalam keramaian. Gedung Putih pun menyebut pelonggaran ini sebagai 'berita besar'.

"Kita sudah sejauh ini. Baik memilih untuk divaksinasi maupun memakai masker, harap lindungi diri Anda sampai kita mencapai garis finis," twit Gedung Putih pada Jumat (14/5).

Presiden AS Joe Biden pun muncul tanpa masker untuk berpidato kepada wartawan di depan Gedung Putih. Ia menyebut pedoman baru CDC ini sebagai pencapaian besar dalam perang melawan COVID-19.

Namun, orang nomor satu di AS itu juga mengingatkan bahwa siapa pun yang belum divaksinasi lengkap harus terus memakai masker. Biden juga mengimbau rakyatnya agar berhenti mempolitisasi pemakaian masker dan menghormati warga yang memilih terus mengenakan masker.

Menurut Direktur CDC Dr. Rochelle Walensky, siapa pun yang telah divaksinasi lengkap boleh beraktivitas di dalam dan di luar ruangan, baik besar maupun kecil, tanpa mengenakan masker atau menjaga jarak fisik.

"Jika Anda telah divaksinasi lengkap, Anda dapat mulai melakukan hal-hal yang sebelumnya dilarang karena pandemi," terangnya.

Namun, instansi pemerintah ini mewajibkan masyarakat agar tetap memakai masker di ruang tertutup dan padat, seperti bus, pesawat, dan moda transportasi massal. Walensky juga mengatakan kalau beberapa orang harus terus memakai masker mereka. Orang dengan sistem kekebalan yang lemah, seperti penerima transplantasi organ atau pasien kanker pun harus berkonsultasi dengan dokter sebelum melepaskan maskernya.

Selain itu, orang dengan gangguan kekebalan dikhawatirkan tidak merespons vaksin sebaik orang dengan sistem kekebalan yang sehat. Dalam penelitian Johns Hopkins belum lama ini, hanya 54 persen penerima transplantasi yang diteliti memiliki antibodi yang dapat dideteksi terhadap COVID-19 setelah mereka divaksinasi lengkap.

Pelonggaran ini diumumkan setelah angka kasus baru COVID-19 terus turun ke tingkat terendah sejak September lalu. Jumlah kematian pun terjun ke tingkat yang belum pernah terlihat sejak April 2020. Sementara itu, tingkat positif tes berada di titik terendah sejak pandemi dimulai di Negeri Paman Sam.

Sekitar 154 juta warga AS, atau lebih dari 46 persen populasi, telah divaksin COVID-19 setidaknya 1 dosis. Sementara itu, lebih dari 117 juta warga AS telah divaksinasi lengkap.

CDC sebelumnya sempat menyarankan bahwa orang yang telah divaksinasi lengkap terus memakai masker saat berada di dalam ruangan dan saat berada di luar dalam kerumunan besar. Artinya, pengumuman pada Kamis (13/5) sangat bertolak belakang.

Dalam rapat daring dengan kelompok bipartisan gubernur awal pekan ini, Biden mengakui kalau ia perlu berbuat lebih banyak demi menunjukkan manfaat vaksin. CDC pun mengungkapkan kalau data baru yang dikumpulkan dalam 2 pekan terakhir menunjukkan keampuhan vaksin di dunia nyata, ketahanannya terhadap varian virus corona, dan orang yang divaksinasi cenderung tidak menularkan virus.

"Kami mengikuti sains di sini. Semakin banyak perpaduan sains baru muncul pekan lalu," dalih Walensky.[]

Ahada Ramadhana

https://akurat.co