Ekonomi

Perjalanan Vaksin Covid-19 untuk Bangkitkan Ekonomi

Berikut perjalanan vaksin covid-19 produksi Sinovac yang diuji klinis di Universitas Padjajaran, Bandung, Indonesia.


Perjalanan Vaksin Covid-19 untuk Bangkitkan Ekonomi
Pekerja saat menurunkan kotak bermuatan vaksin untuk diangkut menggunakan mobil kontainer di Terminal Kargo, Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (31/12/2020). (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Berbeda dibanding tahun sebelumnya, tahun 2020 terasa lebih berbeda. Diawali dengan bencana banjir yang melanda di berbagai wilayah Indonesia lantaran hujan deras di malam pergantian Tahun Baru 1 Januari 2020 hingga pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai hingga saat ini.  

Bermula dari kasus pertama Covid-19 yang diumumkan Presiden Jokowi pada 2 Maret 2020 lalu, sejak itu kehidupan masyarakat Indonesia mengalami perubahan sangat signifikan. Pasalnya wabah virus asal Wuhan, China itu menyebar dengan sangat cepat hingga mampu merenggut ratusan nyawa tenaga kesehatan hingga masyarakat yang terpapar virus tersebut. 

Seiring dengan pilu masyarakat kehilangan keluarganya yang terpapar covid-19 itu, pemerintah bersama dengan para ilmuwan berjibaku membuat vaksin hingga melakukan berbagai upaya agar ekonomi masyarakat tetap aman meski dihantam pandemi. 

Hingga pada pertiga akhir 2020, pemerintah meneken dan menerbitkan beberapa kebijakan terkait bidang kesehatan di Tanah Air. Seperti misalnya Perpres mengenai vaksin Covid-19 dan izin darurat guna darurat obat remdesivir dan favipiravir oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk pasien corona.

Kendati demikian, tentunya dibutuhkan waktu serta biaya yang besar untuk membuat vaksin covid-19. Pemerintah pun menugaskan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk bekerjasama dengan beberapa perusahaan farmasi dari berbagai negara guna pecepatan pembuatan vaksin tersebut. 

Penugasan Pengadaan Vaksin

Salah satunya kerjasama Bio Farma dengan perusahaan farmasi asal China, Sinovac terkait vaksin covid-19. Penandatangan itu disaksikan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Erick Thohir dalam kunjungannya di Sanya, Hainan, China pada Agustus lalu.

Dokumen pertama adalah "Preliminary Agreement of Purchase and Supply of Bulk Product of Covid-19 Vaccine" yang menyepakati komitmen ketersediaan suplai vaksin hingga 40 juta dosis vaksin. Dokumen kedua yang ditandatangani Sinovac dan Bio Farma adalah MoU untuk komitmen kapasitas bulk vaccine 2021.

Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan kerja sama itu tidak hanya transaksi ekonomi, melainkan juga transfer teknologi dan pengetahuan antara Sinovac dan Bio Farma.