Lifestyle

Perjalanan Sejarah Bahasa Sunda yang Disinggung Arteria Dahlan

Bahasa Sunda kini menjadi perbincangan publik karena bermula dari ucapan Arteria Dahlan


Perjalanan Sejarah Bahasa Sunda yang Disinggung Arteria Dahlan
Deretan wisata yang ada di kawasan Bogor, Jawa Barat (Instagram/nisfatulh_ )

AKURAT.CO, Ucapan Arteria Dahlan yang menyentil Jaksa Agung, agar memecat Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) yang berbahasa Sunda dalam Raker Komisi III DPR RI, berbuntut panjang. Arteria akhirnya dilaporkan Majelis Adat Sunda ke Polda Jawa Barat, Kamis (20/1/2022).

Pupuhu Agung Dewan Karatuan Majelis Adat Sunda Ari Mulia Subagja Husein, selaku pelapor bersama perwakilan adat Minang dan sejumlah komunitas adat kesundaan ke Polda Jabar. 

Adapun pelapor membuat laporan ke SPKT Polda Jabar, dan pelaporan ini masih harus berkoordinasi dengan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jabar.

baca juga:

Arteri Dahlan pun telah menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Jawa Barat, berkenaan dengan kontroversi tersebut di Kantor DPP PDIP, Menteng, Jakarta.

Klarifikasi dan permintaan maaf Arteria disampaikannya saat diterima oleh Sekjen DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, dan Ketua DPP PDI Perjuangan, Komarudin Watubun.

Arteria pun berjanji, akan lebih efektif dalam berkomunikasi. Sebenarnya bahasa Sunda tidak hanya dituturkan oleh masyarakat yang berada di Jawa Barat, seperti yang Arteria pikirkan.

Selain di Jawa Barat, bahasa ini juga memiliki sebaran di beberapa wilayah Indonesia lainnya, misalnya di Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Lampung, Bengkulu, dan Sulawesi Tenggara.

Berdasarkan hasil penghitungan dialektometri yang dilakukan Peta Bahasa Kemdikbud, perbedaan dialek bahasa Sunda di Jawa Barat dengan bahasa Sunda di Provinsi DKI Jakarta memiliki persentase perbedaan 51,25%; dengan Banten 60%; dengan Jawa Tengah 56,50%; dengan Lampung 50,50%; dengan Bengkulu 71%; dan dengan Sulawesi Tenggara 64,5%.

Tidak diketahui kapan bahasa sunda lahir, tetapi dari bukti tertulis yang merupakan keterangan tertua, berbentuk prasastiKawali berasal dari abad ke-14.

Prasasti dimaksud ditemukan di Kawali, Ciamis, yang ditulis pada batu alam dengan menggunakan aksara dan Bahasa Sunda (kuno).

Prastasti Kawali Potret bentuk Prastasti Kawali I Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies and Leiden University Library/Wikipedia Commns

Diperkirakan, prasasti ini terbagi dalam enam buah dan dibuat pada masa pemerintahan Prabu Niskala Wastukancana (1397-1475) dari Kerajaan Sunda Galuh.

Dikutip dari laman Pusat Bahasa Al Azhar, berikut tulisan Prasast Kawali bagian I yang berbunyi, “Nihan tapak walas nu siya mulia, tapak inya Prabu Raja Wastu mangadeg di Kuta Kawali, nu mahayuna kadatuan Surawisésa, nu marigi sakuliling dayeuh, nu najur sakala désa. Ayama nu pandeuri pakena gawé rahayu pakeun heubeul jaya dina buana"

Dengan makna, "Onilah peninggalan mulia, sungguh peninggalan Eyang Prabu Adipati Wastukentjana yang bertakhta di Kota Kawali, yang memperindah keraton Surawisesa, yang membuat parit pertahanan sekeliling ibukota, yang menyejahterakan seluruh negeri. Semoga ada yang datang kemudian membiasakan diri berbuat kebajikan agar lama berjaya di dunia".

Dengan prastasti ini, dipastikan bahwa Bahasa Sunda telah digunakan secara lisan oleh masyarakat Sunda jauh sebelum masa itu. Bukti penggunaan Bahasa Sunda (kuno) juga  banyak dijumpai lebih luas dalam bentuk naskah, yang ditulis pada daun lontar, enau, kelapa dan nipah yang berasal dari zaman abad ke-15 sampai dengan 180. 

Karena lebih mudah cara menulisnya, maka naskah lebih panjang dari pada prasasti, sehingga perbendaharaan katanya lebih banyak dan struktur bahasanya pun lebih jelas.

Contoh bahasa Sunda yang ditulis pada naskah adalah sebagai berikut.

Berbentuk prosa pada Kropak 630 berjudul "Sanghyang Siksa Kandang Karesian" (1518), “Jaga rang héés tamba tunduh, nginum twak tamba hanaang, nyatu tamba ponyo, ulah urang kajongjonan. Yatnakeun maring ku hanteu” .

Artinya, hendaknya kita tidur sekedar penghilang kantuk, minum tuak sekedar penghilang haus, makan sekedar penghilang lapar, janganlah berlebih-lebihan. Ingatlah bila suatu saat kita tidak memiliki apa-apa. 

Bahasa Sunda pada masa itu, banyak dimasuki kosakata dan dipengaruhi struktur Bahasa Sanskerta dari India. Setelah masyarakat Sunda mengenal, kemudian menganut Agama Islam, dan menegakkan kekuasaan Agama Islam di Cirebon dan Banten sejak akhir abad ke-16. Hal ini membuat masuknya kosakata bahasa Arab ke dalam perbendaharaan kata bahasa Sunda.

Keraton Kasepuhan Cirebon Keraton Kasepuhan Cirebon sebagai destinasi wisata sejarah yang aman dan nyaman di era adaptasi kebiasaan baru AKURAT.CO / Bonifasius

Kata-kata masjid, salat, magrib, abdi, dan saum, misalnya telah dirasakan oleh orang Sunda, sebagaimana tercermin pada perbendaharaan bahasanya sendiri. 

Pengaruh bahasa Jawa juga sudah ada sejak Zaman Kerajaan Sunda, sebagaimana tercermin pada perbendaharaan bahasanya. Buktinya, pada abad ke-11 telah digunakan Bahasa dan Aksara Jawa dalam menuliskan Prasasti Cibadak di Sukabumi. Begitu pula ada sejumlah naskah kuno yang ditemukan di  Wiayah Sunda ditulis dalam Bahasa Jawa, seperti Siwa Buda, Sanghyang Hayu.

Namun pengaruh Bahasa Jawa dalam kehidupan masyarakat Sunda sangat jelas tampak sejak akhir abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-19 sebagai dampak pengaruh kekuasaan Kerajaan Mataram di wilayah Sunda. 

Pada masa itu fungsi Bahasa Sunda sebagai bahasa tulisan di kalangan kaum elit didesak diganti ke bahasa Jawa, karena Bahasa Jawa dijadikan bahasa resmi dilingkungan pemerintahan. 

Selain itu tingkatan bahasa atau Undak Usuk Basa dan kosa kata Jawa masuk pula kedalam bahasa Sunda, mengikuti pola bahasa Jawa yang disebut Unggah Ungguh Basa, seperti perbedaan bahasa baku dan non-baku dalam Bahasa Indonesia.

Dengan penggunaan penggunaan tingkatan bahasa terjadilah stratifikasi sosial secara nyata. Walaupun begitu Bahasa Sunda tetap digunakan sebagai bahasa lisan, bahasa percakapan sehari-hari masyarakat Sunda. 

Bahkan di kalangan masyarakat kecil terutama masyarakat pedesaan, fungsi bahasa tulisan dan bahasa Sunda masih tetap keberadaannya, terutama untuk menuliskan karya sastra WAWACAN dengan menggunakan Aksara Pegon.

Pada akhir abad ke 19 mulai masuk pengaruh Bahasa Belanda dalam kosakata maupun ejaan menuliskannya dengan aksara Latin sebagai dampak dibukanya sekolah-sekolah bagi rakyat pribumi oleh pemerintah.

Pada awalnya kata "bupati" misalnya, ditulis boepattie seperti ejaan bahasa Sunda dengan menggunakan Aksara Cacarakan dan Aksara Latin yang dibuat oleh orang Belanda. 

Selanjutnya, masuk pula kosakata Bahasa Belanda ke dalam Bahasa Sunda, seperti sepur, langsam, masinis, buku dan kantor.

Pada tahun 1950-an, keluhan semakin keras karena pemakaian Bahasa Sunda telah bercampur dengan Bahasa Indonesia terutama oleh orang-orang Sunda yang menetap di kota-kota besar, seperti Jakarta bahkan Bandung sekalipun.  

Walaupun begitu, tetap muncul pula di kalangan orang Sunda yang dengan gigih memperjuangkan keberadaan dan fungsionalisasi Bahasa Sunda di tengah-tengah masyarakat Jawa Barat. 

Dengan semakin banyaknya orang dari keluarga atau suku bangsa lain atau etnis lain yang menetap di wilayah bahasa Sunda, kemudian berbicara dengan bahasa Sunda dalam pergaulan sehari-harinya dan membawa bahasa Sunda ke wilayah asal atau wilayah rantauan.[]