News

Perjalanan Dakwah Sunan Kudus, Wali yang Ajarkan Akulturasi Budaya Hindu dengan Islam


Perjalanan Dakwah Sunan Kudus, Wali yang Ajarkan Akulturasi Budaya Hindu dengan Islam
Masjid Menara Kudus peninggalan Sunan Kudus (flickr.com)

AKURAT.CO, Sunan Kudus adalah satu di antara anggota Wali Songo yang sukses membumikan Islam di nusantara. Nama aslinya adalah Sayyid Ja'far Shadiq Azmatkhan putra dari Sunan Ngudung atau Raden Usman Haji, yang tak lain adalah seorang panglima perang Kesultanan Demak.

Sementara itu Sunan Kudus mempunyai istri yang merupakan adik dari Maulana Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang yang sama-sama berguru kepada Sunan Ampel.

Di masa pengembaraan mencari ilmu, Sunan Kudus juga berguru kepada Kiai Telingsing, seorang ulama yang berasal dari daratan China.

Berkat kecerdasan dan kedalaman ilmu yang dimilikinya, Sunan Kudus mendapat jabatan strategis di Kesultanan Demak. Ia menjadi seorang penasihat raja, qadhi, panglima perang, mufti, imam besar, mursyid tarekat.

Ajaran Islam yang disebarkan di wilayah Kudus, Jawa Tengah kala itu tidaklah mudah. Ia harus berhadapan dengan masyarakat Jawa yang kental dengan agama Hindu dan Buddha yang sudah lebih dahulu masuk.

Sunan Kudus harus memutar otak untuk menemukan cara memperkenalkan Islam kepada masyarakat saat itu. Kuncinya, dakwah yang dilakukan harus dengan metode yang baik, halus, tidak memaksa sehingga banyak masyarakat yang berhasil memeluk Islam.

Melihat kondisi sosial masyarakat Kudus yang saat itu masih kuat dengan ajaran Hindu dan Buddha, Sunan Kudus mulai mencoba menarik perhatian masyarakat.

Salah satu usaha yang dilakukannya adalah dengan membangun sebuah masjid yang memiliki arsitektur mirip dengan agama Hindu. Hasilnya, saat itu banyak masyarakat yang mulai penasaran dengan ajaran Sunan Kudus dan perlahan mulai terpengaruh dengan Islam.

Tidak hanya itu, dalam masjid yang diberi nama Masjid Al-Aqsha tersebut dibuatkan delapan titik pancuran untuk berwudu. Uniknya, pancuran tersebut dilengkapi arca Kebo Gumarang yang sangat dijunjung tinggi masyarakat.

Perjuangan Sunan Kudus dalam menyebarkan Islam juga dengan strategi pendekatan sosial dari hati ke hati tidak hanya dengan simbolisasi bangunan.

Sunan Kudus ketika mengajarkan kurban di masyarakat saat itu melarang pengikutnya menyembelih sapi. Hal itu karena sapi adalah binatang yang dianggap sakral oleh masyarakat Hindu. Akhirnya, ajaran tersebut masih dilestarikan sampai saat ini di Kudus.

Sementara dalam menyikapi ritual-ritual agama Hindu, Sunan Kudus memasukkan nilai-nilai Islam. Saat ritual mitoni (syukuran tujuh bulan memperingati seorang ibu yang tengah hamil) misalnya, ditekankan agar rasa syukur hanya ditujukan kepada Allah bukan kepada dewa-dewa.

Kemudian, hewan ternak yang dikurbankan, yang semula ditujukan sebagai sesajen kemudian diubah menjadi sebuah hidangan syukuran dan dibagikan kepada masyarakat dengan niat sedekah.

Metode dakwah dengan lemah lembut yang dilakukan Sunan Kudus terbukti sukses mengambil hati masyarakat Jawa kala itu. Sunan Kudus mengajarkan kepada kita arti pentingnya toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.

Salah satu ajaran yang diwariskan Sunan Kudus adalah Gusjigang yang berarti Bagus, Ngaji dan Dagang. Ajaran ini mengajarkan kepada masyarakat bahwa dalam hidup harus seimbang antara tata krama, tingkah laku, bekerja dan ibadah.

Itulah sedikit tentang Sunan Kudus, seorang ulama yang mampu mengajarkan agama Islam dengan baik meski masyarakat yang dihadapinya kuat dengan agama Hindu.

Wallahu a'lam.[]