Ekonomi

Perjalanan Bisnis Tirta Mandira Hudhi, Pernah Ditipu hingga Kerap Diejek Dokter Tukang Sepatu

Tirta Mandira Hudhi memaparkan perjalanan bisnisnya pada AKURAT.CO melalui live Instagram bertajuk "Ngobrol Bisnis dan COVID-19 Bareng dr. Tirta".


Perjalanan Bisnis Tirta Mandira Hudhi, Pernah Ditipu hingga Kerap Diejek Dokter Tukang Sepatu
Tirta Mandira Hudhi. (Instagram/dr.tirta)

AKURAT.CO, Nama Tirta Mandira Hudhi dikenal sebagai dokter, pebisnis, sekaligus influencer. Sebelum berada di pencapaiannya seperti saat ini, ia telah mengalami berbagai fase kesulitan dalam hidup. Misalnya ketika kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) dulu dr. Tirta tak jarang hanya makan nasi kuah atau nasi kecap di warung dekat kosnya dulu. 

Hal itu dikisahkannya pada AKURAT.CO melalui live Instagram dalam tajuk "Ngobrol Bisnis dan COVID-19 Bareng dr. Tirta" pada Minggu (1/8). Dalam obrolan selama 35 menit, dr. Tirta memaparkan panjang lebar perjalanan bisnisnya, termasuk saat kena tipu dari pedagang di Kaskus. 

Dikisahkan bahwa pada 2011 ia memborong banyak sepatu dari seorang penjual di forum Kaskus, yang pada masa itu jadi salah satu situs jualan terkemuka. Tak disangka, sepatu yang datang ternyata sepatu bekas dan hanya sebelah kiri. Momen kehilangan uang dalam jumlah besar itu pun menjadi pelajaran penting bagi dr. Tirta dalam menjalankan bisnis. Ia juga mengaku pukulan itu membuatnya memperbaiki manajemen keuangannya. 

Sepatu-sepatu itu pun hanya berakhir di tempat pembuangan karena sama sekali tak bisa dipakai. Ia pun mengaku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Dirinya tak mengajukan langkah hukum karena era ketika itu belum seperti sekarang yang memungkinkan banyak orang melek terhadap kejahatan digital ataupun penipuan online. 

Perjalanan lain yang dikisahkan adalah betapa pandemi telah menghajar telak bisnisnya. Dicontohkan, bisnis dr. Tirta selain di bidang persepatuan, yakni bisnis clothing Communion Management. Sebelum pandemi, dituturkan bahwa toko Communion Management mampu meraih omzet Rp320 juta per bulan. Saat awal 2019 bahkan mencapai Rp350-400 juta per bulan. Namun semenjak pandemi pemasukannya turun drastis.

Sosok yang juga akrab disapa Cipeng ini juga menjelaskan planning semua bidang bisnisnya yang terpaksa kandas. Harusnya menurut perencanaan, di tahun 2020-2021 dia sudah punya total 150 toko, menggelar 42 event di 22 kota, serta memiliki 1 unit mobil Ferrari. Namun target membuka banyak cabang serta berbagai event terpaksa kandas karena pandemi. 

"Harusnya di 2020 saya ada agenda buka 17 toko. Hancur total, hancur berantakan. Jadi tokonya tinggal 72. Nah di 2021 tambah hancur, 2 toko saya close karena pandemi. Event saya ada 42 sepanjang 1,5 tahun terakhir batal. Communion omzet anjlok 60 persen." tuturnya. 

Selama pandemi ini ia mengalami tambal sulam. Toko yang luar Jawa seperti Makassar, Manado, Pekanbaru, yang masih aman berperan menutupi kerugian dari toko di Jakarta yang sedang sulit. 

"Saya pengin pandemi selesai. Karena kalau nggak ada pandemi, saya tiap 2 minggu buat 1 toko." jelasnya.