News

Peristiwa Sejarah Hari Ini, Mengenang Lahirnya Soekarno: Masa Kecil hingga Menjadi Tokoh Besar

Hari ini, 120 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 6 Juni 1901, Presiden Republik Indonesia pertama dan sang proklamator, Soekarno, lahir ke dunia.


Peristiwa Sejarah Hari Ini, Mengenang Lahirnya Soekarno: Masa Kecil hingga Menjadi Tokoh Besar
Presiden Soekarno (Facebook/Karina Soekarno) ()

AKURAT.CO, Berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak bisa lepas dari perjuangan para pahlawan yang telah menumpahkan keringat, darah, tenaga, serta pemikirannya untuk membebaskan bangsa dari penjajahan. Di antara yang paling berjasa adalah sosok Soekarno dan Mohammad Hatta yang memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 di Jakarta, setelah melalui proses yang sangat panjang.

Hari ini, 120 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 6 Juni 1901, Presiden Republik Indonesia pertama dan sang proklamator, Soekarno, lahir ke dunia. Berkat jasanya terhadap Indonesia, Soekarno selalu diingat sebagai tokoh besar dan pahlawan Tanah Air.

Soekarno lahir pada 6 Juni 1901 di Surabaya, Jawa Timur, dengan nama lengkap Koesno Sosrodihardjo yang diberikan oleh orangtuanya. Akan tetapi, karena ia sering sakit maka ketika berumur sebelas tahun namanya diubah menjadi Soekarno oleh ayahnya. Nama tersebut diambil dari seorang panglima perang dalam kisah Bharata Yudha yaitu Karna.

Kata "Karna" menjadi "Karno" karena dalam bahasa Jawa huruf "a" berubah menjadi "o" sedangkan awalan "su" memiliki arti "baik". Tumbuh di keluarga yang jauh dari berkecukupan, tak jarang Soekarno mengalami kisah getirnya kehidupan.

Soekarno memiliki garis keturunan darah bangsawan Jawa-Bali. Ayahnya, Raden Soekemi Sosrodihardjo merupakan cucu dari seorang pejuang. Nenek Soekemi menjadi pengikut Pangeran Diponegoro. Ia menunggang kuda di belakang sang pangeran dan terlibat perang Jawa dalam kurun waktu 1825-1830.

Sementara sang ibu, Ida Ayu Nyoman Rai merupakan keturunan Kerajaan Singaraja Bali dengan kasta Brahmana yang moyangnya gugur dalam Perang Puputan. Setelah kerajaan itu ditaklukkan, keluarga ibu Soekarno jatuh miskin.

Raden Soekemi Sosrodihardjo yang merupakan seorang guru menikah dengan Ida Ayu Nyoman Rai saat ditempatkan di Sekolah Dasar Pribumi di Singaraja, Bali. Soekarno kecil tinggal bersama ibu, ayah, dan kakaknya, Sukarmini, di sebuah rumah sewa di Jalan Pahlawan 88 seharga Rp15. Gaji sang ayah kala menjadi guru hanya mendapatkan Rp25 per bulan.

Dalam penuturannya kepada Cindy Adams, penulis buku autobiografi Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat, Soekarno bercerita ayahnya tidak mampu memanggil seorang dukun beranak saat dirinya dilahirkan. Ibu Soekarno, Ida Ayu Nyoman Rai, melahirkan Soekarno hanya ditemani sahabat dan sudah sangat tua saat dilahirkan.

Saat itu pula, tak jauh dari kediamannya Gunung Kelud meletus, yang menurut kepercayaan orang Jawa zaman dulu yang memercayai hal-hal gaib menyebut bahwa peristiwa itu merupakan penyambutan kelahiran Soekarno. Sang ibu juga menceritakan bahwa Soekarno lahir saat fajar menyingsing dan mengatakan kelak ia akan menjadi sosok besar.

Soekarno bersekolah pertama kali di Tulung Agung hingga akhirnya ia pindah ke Mojokerto di usia enam tahun, mengikuti orangtuanya yang ditugaskan di kota tersebut. Mereka kemudian tinggal di perkampungan di mana warga setempat juga memiliki perekonomian rendah. Di Mojokerto, ayahnya memasukkan Soekarno ke Eerste Inlandse School, sekolah tempat ia bekerja.

Kemudian pada Juni 1911 Soekarno dipindahkan ke Europeesche Lagere School (ELS) untuk memudahkannya diterima di Hogere Burger School (HBS). Empat tahun setelahnya, Soekarno menyelesaikan pendidikan di ELS dan berhasil melanjutkan ke HBS di Surabaya, Jawa Timur. Ia dapat diterima di HBS atas bantuan seorang kawan ayahnya yang bernama H.O.S. Tjokroaminoto. 

Ayahnya lantas menitipkan Soekarno di rumah tokoh pergerakan nasional H.O.S. Tjokroaminoto bahkan memberi tempat tinggal bagi Soekarno di pondokan kediamannya. Di Surabaya, Soekarno banyak bertemu dengan para pemimpin Sarekat Islam, organisasi yang dipimpin Tjokroaminoto saat itu, seperti Alimin, Musso, Darsono, Haji Agus Salim, dan Abdul Muis.

Soekarno kemudian aktif dalam kegiatan organisasi pemuda Tri Koro Dharmo yang dibentuk sebagai organisasi dari Budi Utomo. Nama organisasi tersebut kemudian ia ganti menjadi Jong Java (Pemuda Jawa) pada 1918. Selain itu, Soekarno juga aktif menulis di harian "Oetoesan Hindia" yang dipimpin oleh Tjokroaminoto.[]