News

Perintahkan Pemusnahan Massal Cerpelai untuk Cegah Corona, Denmark Akui Tak Punya Dasar Hukum

Pemerintah Denmark mengakui pemusnahan massal cerpelai yang dilakukannya tidak berdasar hukum


Perintahkan Pemusnahan Massal Cerpelai untuk Cegah Corona, Denmark Akui Tak Punya Dasar Hukum
Mutasi virus corona yang dapat menyebar ke manusia ditemukan di peternakan cerpelai (BBC)

AKURAT.CO, Pemerintah Denmark mengakui pemusnahan massal cerpelai yang dilakukannya tidak berdasar hukum. Tindakan itu diperintahkan setelah ditemukan mutasi virus corona pada hewan tersebut.

Dilansir dari BBC, Denmark merupakan produsen bulu cerpelai terbesar di dunia dengan pasar ekspor utamanya China dan Hong Kong. Pemusnahan ini dimulai akhir bulan lalu setelah banyak kasus cerpelai terdeteksi.

"Meski kami terburu-buru, seharusnya kami menyadari diperlukan undang-undang baru, tetapi ternyata tidak. Saya minta maaf atas hal itu," kata Perdana Menteri Mette Frederiksen kepada parlemen, pada Selasa (10/11).

baca juga:

Menteri yang bertanggung jawab atas pertanian, Mogens Jensen, telanjur mendesak semua peternak cerpelai untuk melanjutkan pemusnahan sebagai tindakan pencegahan. Hal ini diungkapkan oleh Tage Pedersen, kepala asosiasi peternak cerpelai Denmark.

"Saya masih mendorong petani cerpelai untuk bekerja sama karena saat ini kami harus melakukan segala yang bisa dilakukan demi kebaikan kesehatan masyarakat," ujar Jensen.

Mutasi virus corona yang dapat menyebar ke manusia sebelumnya ditemukan di peternakan cerpelai. Bahkan, ada 6 negara yang telah melaporkan wabah virus corona di peternakan cerpelai, yaitu Belanda, Denmark, Spanyol, Swedia, Italia, dan Amerika Serikat.

Cerpelai diketahui rentan terhadap SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19, yang dapat menyebar dengan cepat dari hewan ke hewan di peternakan cerpelai di mana ribuan hewan itu dipelihara saling berdekatan.

Hewan mirip musang ini telah tertular oleh pekerja peternakan selama pandemi dan terkadang menularkan virus kembali ke manusia. Kondisi ini berpotensi membawa mutasi virus baru.

Ilmuwan Denmark khawatir perubahan genetik pada satu bentuk virus terkait cerpelai yang telah ditemukan pada belasan orang berpotensi menyebabkan vaksin di masa depan menjadi kurang efektif.