News

Peringati Kudatuli, Politisi PKB: Gus Dur dan Megawati Simbol Lawan Orde Baru

Peringati Kudatuli, Politisi PKB: Gus Dur dan Megawati Simbol Lawan Orde Baru
Ketua DPR RI Puan Maharani dan Presiden RI ke-5 Megawati Soekarno Putri menghadiri jamuan makan malam dalam rangka pengukuhan gelar kehormatan Doktor Honoris Causa Dr. HC. Puan Maharani dari Universitas Diponogoro, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (13/2/2020). Gelar doktor ini Merupakan bentuk pengakuan dan penghargaan yg diberikan Universitas Diponegoro kepada putra putri bangsa yang memiliki kontribusi luar biasa terhadap bangsa dan negara terhadap hubungan baik antarbangsa dan negara lain dalam b (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Peristiwa kerusuhan 27 Juli 1996 atau disebut Kudatuli tercatat menjadi salah satu tragedi kelam di era Orde Baru. Kala itu, terjadi serangan terhadap Kantor DPP PDI pimpinan Megawati Soekarnoputri di Jakarta yang memicu serangan balasan terhadap kekuatan pendukung Soeharto di berbagai daerah.

Anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Luqman Hakim memiliki memori sejarah terkait peristiwa Kudatuli. Ia menilai, peristiwa berdarah ini menjadi bagian dari kristalisasi perlawanan rakyat di berbagai daerah terhadap rezim otoriter Orde Baru.

"Jauh sebelumnya, kelompok-kelompok kecil mahasiswa dan rakyat sudah bergerak sporadis di berbagai daerah dengan berbagi isu terkait penindasan rakyat oleh rezim. Sasaran utamanya, menjatuhkan rezim otoriter Orde Baru," kata Luqman, Rabu (29/7/2020).

baca juga:

Luqman yang juga Ketua Bidang Politik dan Pemerintahan PP GP Ansor ini mengatakan, simbol perlawanan terhadap Orde Baru tidak luput dari dua tokoh bangsa yakni KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Soekarnoputri.

Kedua tokoh ini menjadi kunci perlawanan rakyat terhadap kesewenang-wenangan penguasa Orde Baru. Hingga akhirnya demokratisasi bisa dimulai di Indonesia.

"Gus Dur dan Megawati, kedua tokoh ini menjadi simbol perlawanan terhadap orde baru. Selama Orba berkuasa, kaum Nahdliyin dan Marhaenis adalah elemen paling ditindas. Puncaknya, 21 Mei 1998, Soeharto dipaksa mundur oleh gerakan rakyat dan mahsiswa. Dimulailah era demokrasi di negeri ini," kata Luqman.[]