Rahmah

Peringati Hari Santri Nasional, Ketua PBNU Ungkap Peran Santri dan Kiai dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Kiai Marsudi mengatakan bahwa Nahdlatul Ulama didirikan tidak lain tujuannya untuk memerdekakan Republik Indonesia.


Peringati Hari Santri Nasional, Ketua PBNU Ungkap Peran Santri dan Kiai dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
Ketua PBNU KH Marsudi Syuhud (Bolongopi)

AKURAT.CO  Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Marsudi Syuhud mengatakan diperingatinya Hari Santri Nasional sebagai bentuk menghormati para kiai yang memiliki andil besar terhadap negara Indonesia sebelum kemerdekaan. Sehingga para kiai-kiai pondok pesantren mendirikan terlebih dahulu organisasi bernama Nahdlatul Ulama (NU).

"Nahdlatul Ulama didirikan karena tidak lain tujuannya untuk memerdekakan Republik Indonesia," ujarnya dalam Peringatan Maulid Nabi dan Hari Santri Nasional 2021 'Pembacaan 1 Miliar Sholawat Nariyah' yang disiarkan secara langsung melalui YouTube NU Channel, Kamis (21/10/2021).

Kiai Marsudi menyebut pada tanggal 30 Januari 1926, KH Wahab Hasbullah menyampaikan bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan syarat nomor satu. Di hari berikutnya, yaitu pada tanggal 31 Januari 1926, diadakan sebuah rapat bernama Komite Hijaz yang memutuskan pengiriman delegasi ke Makkah dengan sebutan nama Nahdlatul Ulama (NU).

Kiai Marsudi menambahkan, pada tahun 1936 diadakan Muktamar NU ke-11 di Banjarmasin. Kala itu, para kiai-kiai memimpikan segera didirikan Republik Indonesia. Para kiai melakukan lalu Bahtsu Masail seperti halnya Rasulullah SAW ketika mendirikan negara Madinah, yaitu program yang pertama dilakukan Rasulullah SAW adalah menyatukan.

Dengan demikian, untuk menyatukan umat Islam, lanjut Kiai Marsudi menjelaskan bahwa para kiai memutuskan untuk melakukan Bahtsu Masail. Adapun hasil Muktamar pada saat itu ialah mengutip dari sebuah kitab Bughiyatul Mustarsidin, yang intinya adalah ketika suatu tempat sudah terdapat banyak umat Islam, maka tempat itu sudah disebut sebagai Daarul Islam.

"Karena umat Islam disitu sudah mau dan tidak diganggu untuk beribadah melaksanakan agamanya, agar umat Islam mau bersatu," tutur Kiai Marsudi.

Kiai Marsudi lalu menguraikan pada bulan Juni tahun 1940 tepatnya pada Muktamar ke-15, terdapat sebelas kiai yang memimpikan jika Bangsa Indonesia sudah merdeka, siapa yang akan menjadi proklamatornya, siapa calon presidennya. Kemudian sepuluh kiai memilih Soekarno sebagai proklamator, sedangkan satu kiai memilih Mohammad Hatta.

"Maka akhirnya Soekarno dan Hatta menjadi proklamator Republik Indonesia," pungkas Kiai Marsudi yang juga merupakan Wakil ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu.

Dengan demikian, di tahun 1942-1942 tepatnya pada masa penjajah Jepang, Kiai Marsudi menyebut jika NU melakukan konsolidasi bahwa Indonesia harus segera merdeka. Sehingga pada tahun 1945 bulan Mei sampai Agustus, KH Wahid Hasyim terlibat aktif dalam merumuskan dasar negara. []