News

Peringati 72 Tahun Perang Korea, Korut Kutuk 'Agresi' AS dan Bersumpah Balas Dendam!

Korea Utara menuding AS mendorong pengerahan 'aset strategis' ke Korea Selatan untuk memprovokasi perang baru.


Peringati 72 Tahun Perang Korea, Korut Kutuk 'Agresi' AS dan Bersumpah Balas Dendam!
Sejumlah organisasi pekerja Korea Utara pada Sabtu (25/6) mengadakan pertemuan untuk bersumpah membalas dendam pada imperialis AS dalam peringatan 72 Tahun Pecahnya Perang Korea. (KCNA)

AKURAT.CO, Korea Utara mengutuk 'gerakan agresi' Washington dan Seoul dalam peringatan 72 tahun pecahnya Perang Korea. Negara itu pun bersumpah untuk membalas dendam di tengah meningkatnya ketegangan di Semenanjung Korea.

Dilansir dari CNN, Korea Utara dikhawatirkan tengah menyiapkan uji coba nuklir pertamanya dalam 5 tahun. Karena itu, Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol dan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden pada bulan Mei sepakat untuk mengerahkan lebih banyak senjata AS jika diperlukan demi mencegah Korea Utara.

Menurut kantor berita negara Korea Utara 'KCNA', sejumlah organisasi pekerja pada Sabtu (25/6) telah mengadakan pertemuan untuk bersumpah membalas dendam pada imperialis AS. Mereka menyalahkan AS lantaran memulai Perang Korea 1950-1953.

baca juga:

Perang berakhir dengan gencatan senjata, alih-alih perjanjian damai. Artinya, pasukan PBB yang dipimpin AS secara teknis masih berperang dengan Korea Utara.

Menurut laporan KCNA, Pyongyang mengecam Washington atas 'gerakan agresi' yang dilancarkan bersama Korea Selatan dan Jepang. Laporan itu menyebut dorongan AS guna mengerahkan 'aset strategis' di Selatan bertujuan untuk memprovokasi perang baru. Aset strategis biasanya dapat mencakup kapal induk, pesawat pengebom jarak jauh, atau kapal selam rudal.

"Perilaku kurang ajar dari AS menyebabkan kemarahan dan balas dendam rakyat Korea," bunyi laporan KCNA.

Sebaliknya, dalam peringatan perang di Seoul, Yoon berjanji untuk melakukan yang terbaik demi melindungi kebebasan dan perdamaian.

"Kami akan menjaga postur keamanan yang kuat berdasarkan aliansi Korea Selatan-AS dan militer yang kuat yang didukung oleh ilmu pengetahun dan teknologi," tulisnya di Facebook.

Peringatan hari Sabtu (25/6) datang di tengah kekhawatiran Pyongyang dapat melakukan uji coba nuklir ke-7, yang menurut otoritas AS dan Korea Selatan sekarang dapat dilakukan 'kapan saja'. []