News

Periksa Christian Soetio, KPK Dalami Setoran Rp 91 Miliar ke Mardani Maming?

Periksa Christian Soetio, KPK Dalami Setoran Rp 91 Miliar ke Mardani Maming?
Gedung Merah Putih KPK (AKURAT.CO/Fajar Rizky Ramadhan)

AKURAT.CO, Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadwalkan pemeriksaan terhadap Direktur PT Prolindo Cipta Nusantara (PCN), Christian Soetio terkait kasus dugaan suap dan gratifikasi pemberian ijin usaha pertambangan di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.

"Didalami pengetahuannya untuk perkara tersangka Mardani Maming," kata Juru Bicara KPK Ali Fikri dalam keterangannya, Selasa (13/9/2022).

Christian diperiksa sebagai saksi. Pemeriksaan dilakukan di Gedung Merah Putih KPK Jalan Kuningan Persada Kav. 4 Jakarta pada hari ini. 

baca juga:

Ali enggan merinci terkait materi pendalaman penyidik terhadap Christian. Ali berjanji bakal menginformasikannya ke publik sebagai bentuk akuntabilitas komisi antirasuah dalam menangani perkara.

Mardani Maming disebut pernah merima uang Rp 2 miliar dari PT. PCN. Hal ini sebagaimana terungkap dalam persidangan dengan terdakwa eks Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Tanah Bumbu, Dwidjono Putrohadi Sutopo.

Dari berita acara pemeriksaan (BAP) yang dibacakan di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Banjarmasin pada 25 April 2022, mantan Direktur Utama PT. PCN Henry Soetio mengaku pemberian uang Rp 2 miliar sebagai bentuk dukungan terhadap Mardani Maming yang akan maju menjadi Bupati Tanah Bumbu.

Tak hanya itu, Mardani juga disebut menerima Rp 89 miliar melalui dua perusahaan milik Henry, yakni PT. Permata Abadi Raya (PAR) dan PT. Trans Surya Perkasa (TSP). PT. PAR dan TSP bekerja sama PT. PCN dalam hal pengelolaan pelabuhan batu bara dengan PT. Angsana Terminal Utama (ATU).

Adalah Dirut PT. PCN Christian Soetio yang mengatakan itu. Christian yang merupakan adik dari Henry Soetio mengetahui adanya uang masuk ke Mardani karena melihat percakapan kakaknya yang meninggal pada 2021 terkait adanya perintah agar PT. PCN mentransfer uang itu kepada Mardani.

Uang Rp 89 miliar itu ditransfer ke dua perusahaan Mardani sejak tahun 2014 hingga 2020.[]