Dr. Abdul Rojak, M.Si

Dosen UIN Jakarta; Pegiat Good University Governance
News

Perguruan Tinggi di Era Disruptif

Saat ini kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tengah memasuki era yang disebut dengan revolusi industri 4.0.


Perguruan Tinggi di Era Disruptif
Ilustrasi - Industri 4.0 (AKURAT.CO/Ryan)

AKURAT.CO, Saat ini kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tengah memasuki era yang disebut dengan revolusi industri 4.0. Fenomena ini juga dikuti oleh perkembangan masyarakat yang memasuki era society 5.0. Revolusi Industri 4.0 (penemuan teknologi digital, robotika, machine learning & kecerdasan buatan (AI), Internet of Things, serta 3D printing) merupakan kelanjutan dari tahapan perkembangan era sebelumnya yang disebut dengan Revolusi Industri 3.0 (penemuan teknologi elektronik, informasi & otomasi), era 2.0 (penemuan teknologi listrik) dan  era 1.0 (penemuan teknologi mesin uap).

Titik berat Industri 4.0 ada pada adanya kolaborasi, jaringan kerja sama, inter konektivitas, serta keterbukaan data yang memungkinkan kolaborasi dilakukan tak hanya antar manusia namun juga antar mesin.

Pada Era Industri 4.0, keberadaan mesin-mesin maupun pabrik-pabrik akan saling terhubung, bertukar data, bekerja sama, serta mengambil keputusan mandiri secara kolektif dengan mekanisme kerja secara otomatis dan robotica. Perubahan pola kerja tersebut tidak saja dalam dunia industri, tentu saja hal ini akan mengubah banyak hal dalam berbagai dimensi kehidupan manusia seperti bagaimana pabrik beroperasi, bagaimana hubungan bisnis dilakukan, maupun bagaimana konsumen berbelanja, bagaimana dunia pendidikan melayani pembelajaran. Era Industri 4.0 menawarkan efisiensi waktu dan sumber daya, penghematan biaya, kenaikan pendapatan, kelincahan (agility), maupun inovasi bagi industri. Industri lama akan digantikan oleh industri gaya baru yang lebih efisien. Disrupsi ini harus diantisipasi dengan baik sehingga kita dapat melihat peluang-peluang baru di masa depan.

baca juga:

Disrupsi sebagai dampak adanya kreasi dan inovasi serta kemajuan teknologi ini sebenarnya berlangsung sudah sejak lama. Dahulu disrupsi terjadi relatif lambat, namun karena perkembangan teknologi informasi dan digital, disrupsi saat ini datang dan terjadi lebih cepat dan masif. Clayton Christensen pada tahun 1997 membuat teori disruptive innovation yang menyatakan bahwa berakhirnya zaman di tangan para inovator yang menciptakan sesuatu yang baru dengan menjawab kebutuhan zaman melalui mekanisme lebih sederhana, lebih terjangkau, dan lebih mudah diakses.

Beberapa contoh antara lain penarik becak tergantikan oleh tukang ojek pangkalan, lalu kini muncul ojek daring sebagai disrupsi terhadap ojek pangkalan. Pendapatan sopir taksi konvensional tergerus oleh sopir taksi daring. Pedagang tradisional banyak digantikan dengan pedagang modern, dan saat ini banyak digantikan dengan belanja daring. Hal yang terjadi juga dalam dunia pendidikan seperti dengan pandemi COVID-19, di mana terjadi transformasi digital yang massif.

Bahkan disrupsi dalam dunia pendidikan datang begitu cepat di mana pembelajaran offline atau luring serta merta digantikan dengan pembelajaran daring-daring. Padahal dulu model ini hanya dikenal untuk kampus seperti UT dengan distance learningnya.

Oleh karena itu, memasuki era revolusi industri yang disruptif  saat ini berbagai instansi baik pemerintah maupun swasta tak terkecuali perguruan tinggi tidak bisa tidak harus melakukan transformasi digital melalui digitalisasi data dan layanan serta aktivitas kampus agar tidak tertinggal dan ditelan zaman. Digitalisasi perguruan tinggi merupakan perubahan pola kerja dan manajemen kampus dari pola konvensional menuju pola yang serta digital yang akan memudahkan civitas kampus dalam melakukan berbagai hal terutama terkait dengan pelaksanaan tri darma perguruan tinggi dan layanan pendidikan lainnya secara cpat, tepat,, akuntabel, berbasis data, efisien dan efektif serta berbiaya murah. 

Berikut beberapa bentuk digitalisasi kampus di era disruptif. 1. SPMB; 2. Sistem pembayaran; 3. Presensi digital dengan QR-Code, 4. E-learning dengan LMSnya, 5. Aplikasi penelitian dan pengabdian kampus, 6. Sistem akademik kampus; 7. Sistem job fair dan career center; 8. Dashbord perkembangan kampus, 9. E-sertifikat untuk kegiatan dosen dan mahasiswa, 10. Sistem keuangan, 11. Sistem kepegawaian dan sebagainya

Tantangan Perguruan Tinggi di Era Disrupsi

Perguruan tinggi sudah seharusnya menjadi organisasi yang dinamis, responsif, adaptif, akseleratif dan menjadi rujukan inovasi seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Adaptasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mengambil peranan yang sangat penting. Perguruan tinggi harus menjadi motor inovasi disruptif, mengubah pola pikir, cara kerja organisasi, produktivitas, disiplin, inovasi. progresif, terbuka terhadap perubahan, agresif dalam melakukan terobosan.

Karena itu pola pengelolaan-manajemen perguruan tinggi hanya sebagai business us usual (apa adanya, tidak ada inovasi, konservatif dan konvensional) harus ditinggalkan karena menjadi kontra produktif di era disrupsi dan VUCA (istilah yang digunakan sejak era tahun sembilan puluhan merupakan singkatan dari volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity

Secara umum, VUCA adalah fenomena yang menggambarkan situasi dunia yang mengalami perubahan sangat cepat dan cenderung tidak bisa ditebak. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Kemendikbud-Ristek) telah menetapkan kebijakan merdeka belajar-kampus merdeka sebagai salah satu langkah antisipasi dan strategis perguruan tinggi dalam memberikan respon era disrupsi dan VUCA. Penerapan kebijakan merdeka belajar-kampus merdeka yang salah satunya memberikan fleksibilitas pada mahasiswa untuk dapat berinteraksi dan belajar tidak saja di dalam lingkup program studinya melainkan ke dunia industri, dunia usaha, instansi pemerintah dan lembaga-lembaga sosial dan kemanusiaan melalui 8 bentuk program pembelajaran yang fleksibel tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu solusi dari berbagai permasalahan yang dihadapi dunia pendidikan tinggi.

Hadirnya era revolusi industri 4.0 harusnya dijadikan peluang oleh dunia perguruan tinggi dengan cara meyakini bahwa setiap terjadi perubahan pada waktu yang sama terbuka peluang yang dapat dimanfaatkan untuk mencarikan solusi berbagai problem kemanusiaan yang semakin meningkat, seperti kemiskinan global, kriminalitas meningkat, bunuh diri massal dsb. Sejatinya teknologi hadir untuk membantu manusia dalam menjalankan fungsi utamanya menjadi khalifatul fil ardh-insan kamil-ulul albab. Dengan peran ini, manusia bisa menjaga alam dan makhluk yang lainnya dengan pengaturan terbaik dari Sang Pencipta. Namun, bila kemajuan teknologi justru mengancam eksistensi manusia, maka selayaknya menjadi evaluasi bersama. Tak ada yang salah dengan teknologi. Tapi pemanfaatan teknologi ini butuh didukung sumber daya manusia dan manajerial yang bijak agar kehadirannya bermanfaat bagi manusia.

Ani Cahyadi Masri menegaskan bahwa kecanggihan teknologi memudahkan siapa pun memperoleh ilmu pengetahuan secara mudah dan cuma-cuma. Namun, peran mendidik hanya bisa dilakukan oleh pendidik yang tidak hanya meningkatkan kompetensi peserta didik, namun juga mengajarkan nilai-nilai yang sejalan dengan prinsip kemanusiaan. Para dosen, mahasiswa, dan lulusan dituntut dapat beradaptasi dengan perubahan. Namun proses pendidikan harus menyentuh pada taraf kenyataan sosial yang sebenarnya. Di sisi lain, peningkatan kompetensi dosen dan mahasiswa menjadi hal yang mutlak dilakukan, di samping peran untuk membumikan keilmuan. Ilmu bertujuan untuk memajukan harkat dan martabat manusia dan bukan sebaliknya. 

Tahapan Langkah Dalam Era Disrupsi 

REVOLUSI INDUSTRI 4.0 telah menemukan pola baru ketika disruptif teknologi (disruptive technology) bersamaan pandemi COVID-19 memaksa begitu cepat dan mengubah tatanan dunia kerja, dunia industri, bisnis termasuk juga pendidikan. Nizam dalam satu satu webinar konsorsium keteknikan menegaskan harapannya bahwa pergurun tinggi dapat menghasilkan sumber daya yang unggul, out the box, ready future dan future proof. Siap bekerja, siap menciptakan lapangan kerja dan juga tahan pada situasi yang sangat dinamis pada saat ini. “Kita juga berharap fakultas teknik ini bisa menghasilkan teknologi karya-karya yang bermanfaat bagi bangsa dan negara,” jelas Nizam. Menurut Nizam, selama pandemi COVID-19 berlangsung, sudah ada 1.600 inovasi yang dihasilkan oleh perguruan tinggi. Terutama dari kelompok insinyur yang bekerja sama dengan fakultas kedokteran dan kesehatan. Hal ini menurut Nizam juga memberikan dampak positif di mana dalam waktu dua bulan insinyur mampu menghasilkan alat yang langsung diproduksi, serta sudah dalam tahap pemasaran dan digunakan oleh rumah sakit. “Kita perlu dorong lebih lanjut untuk betul-betul merayakan teknologi merah putih,” ujarnya.

Di sisi lain, Mensesneg Pratikno menekankan 4 poin dalam menghadapi tantangan disrupsi di pendidikan tinggi, yaitu memahami disrupsi, hiperkompetisi, output talenta dan teknologi, serta strategi yang kontributif dan agile. Saat ini, jelasnya, disrupsi teknologi memaksa perguruan tinggi untuk menyesuaikan kurikulum sesuai kebutuhan zamannya. Membuat penguasaan ilmu tidak lagi linier, bukan hanya multi, atau interdisiplin ilmu, tetapi transdispilin bidang dan ilmu. Selain itu, terangnya, perguruan tinggi harus menghasilkan SDM bertalenta yang salah satunya dalam bidang teknologi. Sifat dari SDM bertalenta menurut Pratikno adalah talenta yang siap mendisrupsi dan mampu mendisrupsi. Bukan beradaptasi dengan disrupsi melainkan menjadi pemimpin dengan kemampuan mendisrupsi. “Kita bukan hanya mencipta insinyur. Kita mencipta orang pembelajar. Orang yang bisa survive ke depan adalah orang yang pembelajar, menjadi agile powerful learner, pembelajar yang cerdik karena dunia penuh disrupsi. Menurut saya bahwa lulusan fakultas teknik juga perlu menguasai essentials skill,” tutur Pratikno ketika menjelaskan pentingnya kemampuan individu untuk bertahan pada masa hiperkompetisi.

Pratikno juga mengibaratkan bahwa strategi menghadapi disrupsi seperti berjalan di atas api. Selain perlunya memiliki kemampuan bergerak dengan cepat, juga perlu menjaga keseimbangan dalam berjalan menapakinya (agile). Beberapa strategi penting lainnya seperti program studi inovatif dan relevan, mengisi celah talenta digital, transformasi di seluruh level (mahasiswa, dosen, fakultas, dan universitas). Perguruan tinggi juga perlu memanfaatkan kebijakan Merdeka Belajar: Kampus Merdeka sebagai bentuk kemerdekaan kampus untuk menyesuaikan diri terhadap relevansi perubahan zaman. Sementara Rektor ITB, Reini, menuturkan sumber daya manusia Indonesia kini semakin dituntut untuk mampu memberikan kinerja terbaiknya, dalam situasi-situasi industrial yang berpola disruptif, dan pembelajaran yang berpola jejaring. Untuk mencapai hal tersebut, kampus kini harus bisa memastikan para mahasiswa semakin mampu untuk berpikir analitik, kritis, sistematik/kompleks, serta berpikir problem-solving secara strategis.

Choirul Tanjung saat memberikan orasi ilmiah pada perayaan Dies Natalis 58 ITS menjelaskan bahwa di era disrupsi dibutuhkan adanya transformasi pola pendidikan yang menekankan antara tiga aspek yaitu inovasi, kreativitas, dan entrepreneurship. Potret pendidikan nasional harus dikembangkan secara bertahap mulai dari model Teaching University, Research University, Entrepreneurship University. “Begitulah pola perkembangan evolusi sistem pendidikan di perguruan tinggi dalam menghadapi tantangan perubahan zaman,” ujar pria yang sudah memulai usaha mandirinya sejak 1981 ini. Lebih lanjut ia menjelaskan, inovasi merupakan proses penciptaan nilai tambah. Inovasi bisa dihasilkan dari banyak sumber seperti pengetahuan baru, perubahan persepsi, demografi, dan faktor lainnya. Dalam masalah kreativitas, dibutuhkan sebuah imajinasi yang didasari dengan visi yang jelas serta pemikiran yang berbeda dengan orang lainnya. “Dengan kreativitas, masyarakat akan mudah untuk memahami apa yang kita inginkan. Proses inovasi dan kreativitas bisa menjadi ladang penghasilan dengan adanya sektor entrepreneurship,” tegasnya.

 McKinsey & Company (2016) dalam laporannya yang berjudul: An Incumbent’s Guide to Digital Disruption memformulasikan empat tahapan yang perlu dilakukan organisasi, perusahaan, bisnis termasuk lembaga pendidikan di tengah era disruptif teknologi yaitu:

1. Tahap pertama (signals amidst the noise). Pada tahap ini, perusahaan, organisasi, dan bisnis merespons perkembangan teknologi secara cepat dengan menggeser pola kerja mengikuti tren perkembangan teknologi, preferensi konsumen, regulasi dan pergeseran lingkungan bisnis dan menggunakan media internet yang menjadi tulang punggung dalam era digital.

2. Tahap kedua (change takes hold). Pada tahap ini perubahan sudah tampak jelas baik secara teknologi maupun ekonomis.

3. Tahap ketiga (the inevitable transformation). Pada tahap ini keharusan organisasi, bisnis dan perusahaan mengakseleras transformasi menuju model baru.

4. Tahap keempat (adapting to the new normal). Pada tahap ini, organisasi, perusahaan dan bisnis menerima dan menyesuaikan keadaan dan lingkungan baru sebagai tuntutan untuk terus bertahan di tengah situasi disrupsi.

Mengambil empat kerangka kerja sebagaimana dikemukakan oleh McKinsey & Company untuk diterapkan dalam dunia pendidikan tinggi di tengah situasi disrupsi menjadi hal mendasar dan strategis bila tidak ingin perguruan tinggi tersebut lenyap dan tinggal mengenang nama besar dalam ingatan sejarah publik. Revolusi industri 4.0 yang mendorong terjadinya disrupsi di seluruh aspek hidup masyarakat, dari mulai transformasi sistem manajemen administrasi, tata kelola dan informasi, dunia industri, swasta, bidang ekonomi termasuk pendidikan. Keengganan perguruan tinggi melakukan langkah-langkah perubahan mendasar di era disrupsi teknologi dengan karakteristiknya yang ada; digitalisasi, optimation dan cutomization produksi, otomasi dan adaptasi, interaksi antara manusia dengan mesin, value added services and business, automatic data exchange and communication, serta penggunaan teknologi informasi menjadikan kampus tersebut tempat penyiapan sumber daya manusia yang gagap dan gugup akan realitas dinamika kehidupan. Sebaliknya dengan merespon secara cepat dan tepat yang dilakukan oleh seluruh pemangku kepentingan (pimpinan) di lingkup pendidikan tinggi terhadap disrupsi teknologi menjadikan kampus sebagai jembatan penyelamat bagi lulusan untuk dapat memainkan peran strategisnya dan memenangkan persaingan dalam tataran nasional, regional dan global.

Selanjutnya Asep Totoh (Kepala HRD Yayasan Pendidikan Bakti Nusantara) dalam tulisannya di media daring yang berjudul: “Perguruan Tinggi Era 4.0 Dalam Pandemi COVID-19” merumuskan beberapa langkah strategis yang segera dipersiapkan dan dilakukan perguruan tinggi dalam mengantisipasi perubahan dunia yang disruptif yaitu:

  • Mempersiapkan dan memetakan angkatan kerja dari lulusan pendidikan dalam menghadapi revolusi industri 4.0. Mengubah atau menciptakan kurikulum dan metode pembelajaran yang fleksibel, adaptif, dan kontekstual dengan moda cyber university dan sistem pembelajaran daring learning dan hybrid learning). Adaptasi kurikulum, metode pembelajarannya dan ekosistem pendidikan harus sejalan dengan perubahan iklim bisnis, industri yang semakin kompetitif dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dan sains.
  • Memperkuat kemampuan merespon kebutuhan dunia kerja, usaha dan industri dengan inovasi dan kurikulum lintas disiplin dan kurikulum yang adaptif dan kontekstual.
  • Harus bisa menjadi saluran pemikiran melalui riset dan pelbagai inovasi dan pengembangan cara-cara baru.
  • Menumbuh-kembangkan kreativitas dan inovasi mahasiswa dan dosen sebagi solusi perubahan zaman dan kebermanfaatan masyarakat banyak.
  • Membekali peserta didik dengan berbagai kecakapan agar mereka survive. Pembekalan itu mencakup penguasaan data dan teknologi, pengetahuan humaniora, keterampilan kepemimpinan, dan kewirausahaan.
  • Sinergi dunia pendidikan dan dunia Industri untuk dapat mengembangkan Industrial transformation strategy. Salah satunya dengan mempertimbangkan perkembangan sektor ketenagakerjaan karena transformasi industri akan berhasil dengan adanya tenaga kerja yang kompeten.

 Respon UIN Jakarta

Era disruptif menghendaki adanya perubahan termasuk perubahan proses pembelajaran. Sebagaimana prediksi Prof. Clayton Christenson, dari Harvard Business School, bahwa ke depan yang akan survive hanyalah institusi pendidikan yang mengusung program pendidikan berbasis digital-IT. Makanya yang dibutuhkan ke depan, adalah bagaimana Perguruan Tinggi dapat membangun IT yang lengkap dengan infrastuktur yang andal sebagai langkah digitalisasi pendidikan tinggi. 

Jadi bukan lagi ruang kelas yang banyak tetapi ruang digital yang lengkap dengan infrastruktur program pembelajaran daring. Prof. Nur Syam menegaskan bahwa pilihan kita hanya dua saja, apa perguruan tinggi akan bertahan dengan pendidikan konvensional seperti sekarang atau akan berubah menyongsong new style program pembelajaran. Jika pilihan perguruan tinggi tetap berada di program pendidikan konvensional, maka tunggu waktu kapan PT akan ditinggalkan oleh sumber daya mahasiswa, tetapi jika perguruan tinggi memilih yang new style, maka perguruan tinggi harus melompat menuju sesuatu yang baru. Kurikulum diubah total dipadukan dengan riset dan pengabdian masyarakat dan pembelajaran yang prospektif berbasis pada penggunaan digital-IT yang sangat memadai.

Di hari miladnya yang ke 64, 20 Mei 2021, UIN Jakarta yang merupakan wujud dari transformasi kelembagaan pendidikan tinggi dari ADIA-IAIN-UIN sudahkah mengambil berbagai langkah dan kebijakan strategis dan fundamental dengan rancang bangun dan desain serta program yang terukur, adaptif, kontekstual, konstruktif dan relevan dengan kondisi kekinian, kedisinian dan antisipasi masa depan yang sarat dengan perubahan yang disruptif.

Apakah UIN bisa dan mau merespon dinamika dan tantangan era disrupsi tersebut? Sebagai PTKIN yang terbesar sudah saatnya UIN Jakarta mampu merespon dan menjawab berbagai tantangan yang terjadi di era disrupsi untuk terus menjadi lokomotif dalam menghadapi perubahan besar baik dalam tata kelola kampus (good university governance dan merryt system management) dan selalu terdepan dalam melahirkan gagasan dan pemikiran keagamaan yang inklusif, moderat dan konstruktif serta karya-karya integrasi keilmuan-keislaman yang mengglobal sebagai wujud dari kontribusinya dalam pembangunan peradaban umat manusia.

SELAMAT MILAD KE 64 UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA