Rahmah

Perempuan dalam Pusaran Radikalisme; dari Coba-coba Kemudian Suka

Akhir-akhir ini sosok perempuan seringkali dikaitkan dengan kelompok radikal.


Perempuan dalam Pusaran Radikalisme; dari Coba-coba Kemudian Suka
Ilustrasi Perempuan (Magdalene)

AKURAT.CO Aktivitas terorisme merupakan tindakan kejahatan yang mengancam keselamatan umat manusia di negara maupun di seluruh penjuru dunia. Tak jarang gerakan kelompok radikal seringkali melibatkan kaum perempuan dalam melancarkan aksinya. 

Sebut saja keterlibatan perempuan dalam aksi bom bunuh diri di Surabaya yang masih membekas di kenangan. Sehingga menunjukkan adanya legitimasi bahwa kaum perempuan memiliki peran aktif dalam kegiatan di lingkungan kelompok radikal. Padahal sejatinya perempuan merupakan figur yang lembut dan memiliki sifat mengayomi. 

Peneliti Terorisme serVe Indonesia, Dete Aliah menyebut setidaknya ada 500 perempuan Indonesia yang terlibat gerakan aksi terorisme baik di regional maupun Internasional. Hal tersebut ia sampaikan dalam kegiatan Webinar yang diselenggarakan oleh PPIM UIN Jakarta "Perempuan dalam Lingkaran Ekstrimisme: Eksistensi atau Eksploitasi?" pada Jumat (15/10/2021).

Dete mengatakan setidaknya ada lima poin yang menjadi motivasi bagi kaum perempuan ikut terlibat dalam gerakan kaum radikal.

Pertama, Brainwashing atau cuci otak. Para perempuan dicuci otaknya dengan narasi yang bermacam-macam. 

"Misalnya Pemerintah Indonesia dianggap Thogut. Sehingga mereka berpikir bahwa pemerintah perlu dilawan atau ditumbangkan," ujar Dete.

Narasi berikutnya yang sering terjadi adalah tentang khilafah. Mereka menganggap bahwa khilafah adalah obat dari segala problem sosial, politik dan ekonomi. Sehingga mereka menilai ketika negara Indonesia diterjang berbagai problem, maka hanya ada satu obat yaitu khilafah.

Selain itu ada narasi yang menyatakan bahwa yang mereka lakukan adalah termasuk dalam janji syahid (surga dan syafaatnya), pan Islamisme (solidaritas Islam). Ada juga narasi yang beranggapan bahwa mereka ingin hidup di negara hukum Islam (pindah kewarganegaraan). 

"Mereka menganggap bahwa Indonesia adalah negara Daarul Kufur, makanya mereka ingin pindah ke negara Daarul Islam," ujar Dete.

Kedua, faktor balas dendam. Dete menyebut di Indonesia ada istilah Blackwidow yaitu kumpulan perempuan-perempuan yang ditinggal suaminya pada saat penangkapan, ditembak atau kejadian lainnya yang membuat mereka frustasi dan kecewa. Sehingga ingin membalaskan dendam mereka dengan cara melakukan aksi-aksi radikal.

"Pada tahun 2016, ketika hari valentine, mereka hampir melakukan aksinya, akan tetapi karena diketahui oleh intelejen, akhirnya mereka gagal," kata Dete.

Ketiga, pertaubatan. Misalnya ada sebagian perempuan yang telah melakukan sebuah dosa, seperti pergaulan bebas, miras dan lain sebagainya. Ketika mereka merasa jenuh dan ingin bertaubat. Mereka digiring dan diajak diskusi agama. Namun sayangnya mereka bertaubat di tempat dan lingkungan yang salah.

Keempat, kekecewaan. Karena mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT),  putus cinta, atau belum menikah. 

"Karena belum menikah, terus kemudian dia direkrut oleh kelompok radikal terus kemudian ditawari menikah dengan para jihadis yang menurut mereka dapat memberi tiket ke surga," ucap Dete.

Kelima, faktor ketaatan pada suami. Dete mengatakan bahwa ada satu perempuan di Indonesia, dimana suaminya sudah meninggal di Syiriah, namun suaminya berpesan agar sang istri pergi ke Syiriah dan meninggal di sana. 

"Jadi perempuan itu pergi ke Syiriah untuk menjemput ajalnya sesuai dengan permintaan sang suami," jelas Dete.

Lebih lanjut lagi, Dete menguraikan setidaknya ada enam startegi kelompok radikal merekrut perempuan.

Pertama, karena ingin mempermalukan lelaki. 

"Karena lelaki sedikit yang terlibat dalam gerakan jihad tidak seperti dulu yang selalu didominasi oleh lelaki. Maka, kelompok radikal tersebut merasa perlu mempermalukan lelaki dengan menggunakan perempuan," tutur Dete.

Kedua, kekurangan personel. Demi menambah kekuatan kelompoknya, akhirnya mereka merekrut perempuan.

Ketiga, perempuan tidak dicurigai oleh pihak keamanan. Karena dianggap tidak mungkin perempuan melakukan aksi kekerasan.

Keempat, sulit merekrut anggota di luar keluarga.

Kelima, perempuan dapat menjaga rahasia gerakan.

Keenam, perempuan juga mudah dipengaruhi. []