News

Perebutan Kekuasaan Israel Memanas, Netanyahu Dituding Hasut Kekerasan demi Bertahan

Perebutan Kekuasaan Israel Memanas, Netanyahu Dituding Hasut Kekerasan demi Bertahan
Kolase foto Benjamin Netanyahu dan Naftali Bennett. (Foto: Saudi Gazette) ()

AKURAT.CO, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menyangkal tuduhan penghasutan. Menurutnya, koalisi yang baru dibentuk dan siap untuk menggulingkannya merupakan hasil dari kecurangan terbesar Pemilu dalam sejarah demokrasi Israel.

Setelah berkuasa selama 12 tahun berturut-turut, Netanyahu kini terancam digulingkan oleh koalisi aneka warna dari 8 partai yang disatukan hanya karena mereka sama-sama memusuhinya.

"Kami menyaksikan kecurangan terbesar Pemilu dalam sejarah negara ini, menurut pendapat saya dalam sejarah demokrasi mana pun," komentarnya kepada para legislator partai sayap kanannya, Likud, dilansir dari Al Jazeera.

baca juga:

Terperosok dalam pertempuran pengadilan atas tuduhan korupsi yang membuatnya bisa dipenjara, Netanyahu memobilisasi pendukungnya untuk menjaring pembelot dari pihak lawan menjelang pemungutan suara konfirmasi. Namun, hal ini justru mendorong kepala badan keamanan internal Shin Bet Israel Nadav Argaman merilis peringatan umum pada Sabtu (5/6) tentang eskalasi parah dalam wacana kekerasan dan hasutan di media sosial.

"Wacana ini dapat dipahami oleh kelompok atau individu tertentu sebagai pembenaran kekerasan ilegal yang dapat merenggut nyawa," ujar Argaman.

Ia pun meminta pejabat publik untuk menyerukan penghentian wacana ini. Meski begitu, seorang juru bicara Shin Bet tidak menyebut kalau peringatan ini mengacu pada kelompok atau orang tertentu.

"Ini adalah situasi umum yang harus dihentikan," dalihnya.

Di sisi lain, para politisi yang menentang Netanyahu dan sejumlah media lokal menafsirkannya sebagai peringatan kepada perdana menteri.

"Ada garis yang sangat tipis antara kritik politik dan menghasut kekerasan. Kritik dari kanan disebut hasutan untuk melakukan kekerasan, sedangkan kritik dari kiri disebut penggunaan kebebasan berekspresi yang dibenarkan," keluhnya dalam rapat anggota partai Likud.

Ia pun mengklaim dijadikan target kampanye yang lebih serius dan sekali lagi menyebut koalisi yang berusaha menggantikannya sebagai pemerintah sayap kiri yang berbahaya. Aliansi itu terdiri dari 3 partai sayap kanan, 2 tengah, dan 2 sayap kiri, serta 1 partai orang Palestina Israel. Berdasarkan perjanjian koalisi, Naftali Bennett dari partai sayap kanan Yamina akan menjadi perdana menteri selama 2 tahun, kemudian digantikan Yair Lapid yang berhaluan tengah dari partai Yesh Atid pada 2023.

Pendukung Netanyahu telah bekerja keras untuk memenangkan pembelotan dari wakil Yamina yang tidak nyaman bekerja sama dengan orang Palestina Israel dan golongan kiri Yahudi. Beberapa di antaranya telah mengadakan demonstrasi di luar rumah legislator Yamina.

Sementara itu, sebuah mosi kepercayaan parlemen untuk meresmikan pemerintahan baru dapat diadakan pada Rabu (9/6) atau Senin (14/6) berikutnya. Dalam pidato yang disiarkan televisi, Bennett meminta Yariv Levin, juru bicara parlemen sekaligus loyalis Netanyahu, agar tidak mencoba mengulur waktu untuk mendorong anggota koalisi baru yang membelot.

Komite keamanan parlemen pun mengatakan akan mengadakan pertemuan darurat pada Senin (7/6) jam 9 pagi akibat dirilisnya peringatan langka oleh kepala Shin Bet dan atas seruan tokoh sayap kanan untuk berdemonstrasi di Yerusalem Timur yang diduduki pada Kamis (10/6).[]