News

Perang Roket dengan Israel, 5 Fakta Penting Jihad Islam Palestina

Sejak 2014, PIJ telah melihat kekuatannya terus meningkat dengan dukungan dana dari Iran.

Perang Roket dengan Israel, 5 Fakta Penting Jihad Islam Palestina
Dalam foto ini, para militan Jihad Islam Palestina naik truk pickup saat mereka merayakan pembebasan anggota Jihad Islam Tarek al-Mudalal dari penjara Israel, di Rafah, di Jalur Gaza selatan, 18 Januari 2018 (Reuters/Ibraheem Abu Mustafa)

AKURAT.CO  Gaza kembali membara, dengan pertempuran lagi-lagi menelan korban jiwa, termasuk anak-anak Palestina. Tercatat sejak pekan lalu, perang terus meletus, dengan aksi saling lempar roket terjadi dari kedua belah pihak, baik dari Palestina maupun Israel.

Hampir 600 roket dan mortir dari Palestina telah ditembakkan ke Israel sejak Jumat (5/7), kata seorang pejabat Israel, dilansir dari BBC, Minggu (7/8).

Kekerasan terbaru menjadi gejolak paling serius antara Israel dan Gaza sejak konflik 11 hari pada Mei 2021, yang menewaskan lebih dari 200 warga Palestina dan selusin warga Israel.

baca juga:

Konflik ini, yang melibatkan pasukan Israel, dan Jihad Islam Palestina (PIJ), sejauh ini telah memakan puluhan korban jiwa. Hingga Minggu malam waktu setempat, jumlah korban tewas di pihak Palestina telah mencapai 43 jiwa, termasuk 15 anak-anak.

Lalu siapa sebenarnya PIJ, yang dikenal menjadi kekuatan pendorong dalam konfrontasi dengan pasukan Israel. Dan mengapa Israel begitu menggebu-gebu melawan kelompok militan tersebut, hingga meluncurkan serangan udara ke Jalur Gaza?

Dilansir dari berbagai sumber, AKURAT.CO pada Senin (8/8) menghimpun 5 fakta penting kelompok Jihad Islam Palestina atau yang biasa disingkat PIJ.

1. Asal-usul
Perang Roket dengan Israel, 5 Fakta Penting Jihad Islam Palestina, Kelompok Militan Backingan Iran - Foto 1
 AP/Adel Hana

PIJ didirikan pada tahun 1981 oleh para mahasiswa Palestina di Mesir, dengan tujuan untuk membangun negara Palestina di Tepi Barat yang diduduki, Gaza, dan daerah lain yang sekarang disebut Israel. 

PIJ juga dibentuk sebagai cabang Ikhwanul Muslimin, dan pembentukannya dipengaruhi secara ideologis oleh rezim Islam di Iran. Kelompok ini menjadi anggota Aliansi Pasukan Palestina, yang menolak Kesepakatan Oslo dan yang tujuan tegasnya adalah pembentukan negara Islam Palestina yang berdaulat.

PIJ telah menyerukan penghancuran militer Israel dan menolak solusi dua negara. Dukungan keuangan organisasi secara historis datang terutama dari Suriah dan Hizbullah. Sejak 2014, PIJ telah melihat kekuatannya terus meningkat dengan dukungan dana dari Iran.

Sayap bersenjata PIJ adalah Brigade Al-Quds, juga dibentuk pada tahun 1981, yang aktif di Tepi Barat dan Jalur Gaza, dengan benteng utamanya di Tepi Barat adalah kota Hebron dan Jenin. 

2. Kalah anggota dengan Hamas, tapi sangat terorganisir hingga dianggap lebih agresif dari Hamas
Perang Roket dengan Israel, 5 Fakta Penting Jihad Islam Palestina, Kelompok Militan Backingan Iran - Foto 2
Suhaib Salem/Reuters

Kelompok ini memiliki skala yang lebih kecil dari dua kelompok utama Palestina di Jalur Gaza, dan kalah jumlah dengan kelompok Hamas yang memerintah. Meski begitu, PIJ justru dinilai lebih 'efisien dan terorganisir', dan terbukti berperan dalam semua konfrontasi dengan Israel.

"Meskipun kelompok kecil, Jihad Islam sangat efisien dan sangat terorganisir. Ada tatanan yang kuat di dalam partai itu sendiri. Meskipun ukurannya kecil, ia telah berpartisipasi dalam semua konfrontasi dengan Israel," kata Ibrahim Fraihat dari Institute Doha berbicara kepada Al Jazeera.

Sulit dipastikan berapa jumlah anggota PIJ saat ini. Namun, diperkirakan dari tahun lalu, bahwa pejuang kelompok itu berkisar dari sekitar 1.000 hingga beberapa ribu orang, menurut World Factbook CIA.

Baik Hamas, yang telah berperang lima kali dengan Israel sejak 2009, dan PIJ terdaftar sebagai 'organisasi teroris' oleh Barat. Negara-negara yang mencap PIJ teroris termasuk PIJ Serikat, Uni Eropa, Inggris Raya, Jepang, Kanada, Australia, Selandia Baru, dan Israel.

Hamas dan PIJ, keduanya mendapatkan dana dan senjata dari Iran. Namun, tidak seperti Hamas, PIJ menolak untuk mengikuti pemilu dan tampaknya tidak memiliki ambisi untuk membentuk pemerintahan di Gaza atau Tepi Barat.

Hamas sendiri menguasai Gaza pada 2007 dari Otoritas Palestina yang diakui secara internasional. Kelompok ini pun seringkali terbatas kemampuannya untuk bertindak karena memikul tanggung jawab untuk menjalankan urusan sehari-hari di wilayah yang miskin tersebut. Sebaliknya, PIJ tidak memiliki pertimbangan seperti itu, dan telah muncul sebagai faksi yang dinilai lebih agresif, bahkan kadang-kadang melemahkan otoritas Hamas.

3. Pelatihan dan pendanaan dari Iran
Perang Roket dengan Israel, 5 Fakta Penting Jihad Islam Palestina, Kelompok Militan Backingan Iran - Foto 3
 Kepala Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (kiri) bertemu di Teheran dengan Sekjen PIJ Ziyad Nakhaleh, Sabtu (6/8) -Times of Israel

Iran tidak hanya memasok PIJ dengan dana hingga USD 70 juta (Rp1 triliun) per tahunnya, tetapi juga pelatihan dan keahlian. Kendati begitu, sebagian besar senjata kelompok milisi itu diproduksi secara lokal.

Meskipun basisnya adalah Gaza, PIJ juga memiliki kepemimpinan di Lebanon dan Suriah, di mana gerakan ini telah memelihara hubungan dekat dengan para pejabat Iran.

Dalam pertempuran terbaru ini pun, pemimpin PIJ Ziyad al-Nakhalah dilaporkan telah bertemu dengan Presiden Iran Ebrahim Raisi di Teheran. Pertemuan antara keduanya itu terjadi hanya sehari setelah Israel melancarkan operasi di Gaza untuk mengatasi apa yang dikatakan sebagai 'ancaman langsung oleh PIJ terhadap warga sipil dan tentara'.

Dalam pernyataannya pada Sabtu, kepala IRGC mengatakan bahwa Palestina 'tidak sendirian' dalam perjuangan mereka melawan Israel. Dikatakan pula bahwa Israel akan 'membayar mahal atas serangan yang telah dilancarkannya ke Gaza'.

"Israel akan membayar harga yang mahal untuk kejahatan mereka baru-baru ini," kata Jenderal Hossein Salami, kepala Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), dalam sambutannya di tengah pertemuan dengan Sekretaris Jenderal PIJ, Ziyad Nakhaleh, menurut Reuters.

"Kami bersama Anda di jalan ini sampai akhir, dan biarkan Palestina dan warga Palestina tahu bahwa mereka tidak sendirian," tambah Salami.

4. Kehadiran PIJ yang kuat di Jenin, dengan krisis baru pecah menyusul penangkapan Bassam al-Saadi
Perang Roket dengan Israel, 5 Fakta Penting Jihad Islam Palestina, Kelompok Militan Backingan Iran - Foto 4
MEE/Shatha Hammad

PIJ sejauh ini telah mempertahankan kehadiran yang signifikan di kota Jenin, Tepi Barat. Di sana juga, Bassam al-Saadi, yang menjadi pemimpin senior PIJ, ditangkap pekan lalu, yang lantas memicu krisis baru.

Fraihat pun menggambarkan 'perang di Jenin' selama lima bulan terakhir dengan PIJ memicu serangan di Israel. Dalam operasinya, pasukan Israel telah menyerbu kota tersebut, menangkap serta membunuh para anggota PIJ.

"Di Tepi Barat ada kehadirannya (PIJ), saya katakan mirip dengan Gaza. Tapi ini bukan tentang ukuran, ini tentang kekuatan, efisiensi, dan kemampuan untuk terlibat secara militer dalam konfrontasi dengan Israel. 

"Dan untuk alasan itu, Israel berusaha menangkap para pemimpinnya di Tepi Barat dan menahan setiap tindakan yang mungkin meningkatkan gerakan Jihad Islam," katanya.

Pada Jumat, serangan udara Israel juga berhasil menewaskan Taysir al-Jabari, seorang tokoh senior dan komandan wilayah utara gerakan itu. Pembunuhan itu menyusul penangkapan awal pekan ini, atas Bassam al-Saadi, menghabiskan 15 tahun selama beberapa tugas di penjara Israel karena menjadi anggota Jihad Islam.

Al-Jabari sendiri telah menggantikan Bahaa Abu el-Atta yang juga terbunuh dalam serangan Israel tahun 2019. Tewasnya El-Atta menjadi pembunuhan profil tinggi pertama oleh Israel terhadap tokoh PIJ, sejak perang 2014 di Jalur Gaza.

Pada Sabtunya, Israel mengonfirmasi bahwa pihaknya menangkap 19 anggota PIJ di Tepi Barat yang diduduki. Bersamaan dengan itu, Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz mengancam akan menargetkan para pemimpin PIJ yang tinggal di luar negeri. 

5. Rencana PIJ 'tak mau ada gencatan senjata dengan Israel'
Perang Roket dengan Israel, 5 Fakta Penting Jihad Islam Palestina, Kelompok Militan Backingan Iran - Foto 5
 Ziyad al-Nakhalah (kanan) bersama dengan mendiang Komandan IRGC, Qasem Soleimani, 15 Februari 2018- MEHR News Agency/Shahab Ghayuomi

Operasi PIJ di antaranya termasuk pemboman bunuh diri, serangan terhadap warga sipil Israel, pembunuhan militer Israel, hingga penembakan roket ke Israel. Serangan kelompok ini, yang dilakukan sejak 1987, antara lain serangan Egged bus 405 pada tahun 1989, menewaskan 14 orang (termasuk dua orang Kanada dan satu orang Amerika). 

Rentetan serangan lain termasuk penyerbuan bus Israel di Mesir pada tahun 1990, menewaskan 11 orang, dan sejumlah teror bom seperti pengeboman Maret 1996 di pusat perbelanjaan Tel Aviv, menyebabkan 20 orang tewas. Pemimpin kelompok itu, Ziyad al-Nakhalah, dalam pernyataan terbarunya, juga telah menjanjikan serangan balas dendam terhadap pemboman Israel. Di antara sumpah serangan yang diucapkan al-Nakhalah termasuk menargetkan Tel Aviv dan kota-kota lain di negara itu.

Bersamaan dengan itu, ledakan pun terdengar dan terlihat pada Sabtu malam di atas Tel Aviv, dengan al-Nakhalah berikrar tidak akan ada yang namanya gencatan senjata.

"Musuh Zionis telah memulai agresi ini dan mereka pasti mengharapkan kita untuk berperang tanpa henti … Tidak akan ada gencatan senjata setelah pengeboman ini. 

"Tidak ada garis merah dalam pertempuran ini … Tel Aviv juga akan menjadi salah satu target rudal perlawanan … seperti semua kota Zionis lainnya," kata al-Nakhalah.

Itulah sederet fakta penting tentang PIJ, yang baru-baru ini terlibat perang dengan pasukan Israel. Apakah PIJ bakal menjadi 'Lord baru', menggeser Hamas di Jalur Gaza?[]