News

Perang Dingin Jokowi dan Megawati Hanya untuk Ganjar Vs Puan

Ganjar dianggap sebagai representasi kader, dengan elektabilitas tinggi. Sedangkan Puan Maharani dipersepsikan representasi keluarga


Perang Dingin Jokowi dan Megawati Hanya untuk Ganjar Vs Puan
Presiden Joko Widodo (kiri), Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Megawati Soekarnoputri (kedua kanan), berjalan bersama usai pertemuan tertutup di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (21/5/19). Dalam kesempatan tersebut, Megawati dan Try Sutrisno mengucapkan selamat atas hasil Pemilu Presiden dan Wakil Presiden yang telah diumumkan KPU. (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

AKURAT.CO, Pengamat Politik Citra Institute Efriza menilai hubungan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dengan Presiden Jokowi telah terjadi 'peran dingin'. 

Efriza menjelaskan, hubungan Jokowi dan Megawati ditengarai memanas terkait agenda politik menuju Pilpres 2024. Hal itu terjadi karena keduanya punya peran penting dan juga kepentingan masing-masing. 

Patut diketahui, Jokowi merasa dirinya memiliki peran besar, ia berperan sebagai king maker dengan kekuatan relawan Jokowi yang solid dan terbukti sukses dengan dua periodenya. 

baca juga:

"Ia ditenggarai punya kepentingan sendiri yang besar, sikap pragmatis dipilihnya, hanya mengedepankan kemenangan yang disertai keberlanjutan program pemerintahan saat ini oleh capres/pasangan calon yang direstuinya," kata Efriza ketika dihubungi AKURAT. CO, pada Jumat (3/6/2022). 

Sedangkan, Megawati yang diberikan hak prerogatif sebagai sosok pengambil kebijakan partai mengenai calon dan pasangan calon di Pilpres dari PDIP.

"Megawati tidak melulu mengedepankan pragmatis, sebab sudut pandangnya bukan saja hattrick kemenangan di pemilu tetapi menjaga tetap solidnya kader PDIP, " ujar Efriza. 

Pasalnya, di tengah dia kepentingan yang berbeda inilah, Megawati dan Jokowi dilihat tidak harmonis dalam menentukan pilihan. 

Sebab Jokowi telah memberikan pesan verbal dan nonverbal condong kepada Ganjar untuk diusung dalam Pilpres. Sedangkan elite PDIP karena posisi Puan dalam hirarki di partai lebih tinggi, juga dalam posisi di legislatif, maka menampakkan pro terhadap Puan Maharani. 

"Ganjar dianggap sebagai representasi kader, dengan elektabilitas tinggi, di dukung mayoritas oleh golongan muda dari PDIP. Sedangkan Puan Maharani dipersepsikan representasi keluarga, dengan elektabilitas rendah, dukungan ditenggarai golongan tua yang berkiblat menjaga "api" Soekarno," ungkap Efriza

Dikesampingkannya Ganjar dari keterlibatan kepartaian terkait dengan menguatnya dukungan terhadap Puan Maharani disertai obsesi Puan dalam mengikuti kandidat capres semakin nampak di permukaan. 

Di sisi lain, di tubuh internal PDIP juga sudah menunjukkan suara-suara untuk kembali mengedepankan trah Soekarno sebagai partai ideologis, juga keyakinan Puan sebagai anaknya Megawati. 

"Maka Megawati akan cenderung mengabaikan hasil elektabilitas dengan mengedepankan ikatan biologis dengan mengatasnamakan ideologis," pungkasnya. []