News

Peran Anoa Bagi Infanteri Mekanis TNI AD


Peran Anoa Bagi Infanteri Mekanis TNI AD
Panser Anoa 6x6 buatan PT Pindad yang telah terbukti mampu menjadi Ranpur unggulan (Dok. Dispenad)

AKURAT.CO, Taktik dan strategi perang terus berubah seiring berkembangnya kemajuan zaman. Itu sebabnya, dikatakan bahwa taktik itu hidup. Dengan demikian dimunculkanlah taktik satuan mekanis yang saat ini telah dibentuk Batalyon Mekanis di jajaran TNI AD.

Oleh karena itu, beberapa satuan tersebut dilengkapi dengan alutsista Panser ANOA 6×6 buatan PT Pindad yang berjenis Angkut Personel Sedang ini.

Latar Belakang Produksi Anoa

Seperti dikutip Akurat.co dari situs resmi TNI AD, manufaktur Panser ANOA 6×6 dimulai pada tahun 2003 sebagai hasil dari meningkatnya intervensi militer di Provinsi Aceh. Selama Operasi Militer di Aceh, TNI AD membutuhkan kendaraan angkut personel, dimana pada saat itu sangat mendesak untuk transportasi pasukan.

Hal tersebut kemudian direspon oleh PT Pindad dengan membuat kendaraan tempur lapis baja yang dapat digunakan sebagai kendaraan angkut personel sekaligus bisa memberikan keamanan bagi prajurit dalam infiltrasi ke medan pertempuran serta mampu mendekatkan diri ke sasaran dengan cepat dan aman dari senjata lintas datar musuh.

Anoa dalam Perang Kota

Perang kota bukanlah perang yang mudah karena ada beberapa kesulitan yang harus diatasi, antara lain banyaknya jumlah penduduk, maka sedapat mungkin militer harus menghindari jatuhnya korban dari penduduk sipil. Selain itu, kesulitan lain adalah bangunan dan gedung-gedung yang bisa menjadi penghalang dalam peninjauan musuh. Sehingga untuk melumpuhkan musuh, dibutuhkan banyak tenaga dan waktu yang lebih lama.

Peran Anoa Bagi Infanteri Mekanis TNI AD - Foto 1

Oleh karena itu, diperlukan kendaraan tempur khusus untuk menghadapi perang ini, salah satunya adalah kendaraan tempur lapis baja yang bisa bermanuver cepat agar memudahkan infiltrasi ke sasaran.

Panser ANOA memenuhi kriteria tersebut, dilengkapi senjata mesin Kaliber 7,62 mm, 127 mm dan tabung pelontar, ANOA lebih memudahkan pasukan dalam menjangkau posisi musuh yang bersembunyi di balik bangunan. Selain itu, penggunaan kendaraan lapis baja juga dapat mendukung pasukan pada saat melancarkan taktik pengepungan.

Namun demikian, penggunaan ANOA bukan tanpa kelemahan, terdapat batas kemampuan, salah satunya adalah senjata anti tank (RPG) musuh. Senjata anti tank merupakan senjata yang sangat mudah dibawa dalam mobilisasi pasukan infanteri musuh. Sebagai contoh dalam perang di Irak, pasukan tank Amerika kesulitan untuk menerobos ke dalam kota karena ada senjata anti tank yang dibawa milisi.

Anoa dalam Tugas Pengamanan Perdamaian PBB

Panser ANOA pun tidak hanya digunakan dalam perang kota. Panser ANOA menjadi salah satu alutsista dan kendaraan tempur dalam misi perdamaian PBB di Lebanon. Panser ANOA sangat mendukung keberhasilan Pasukan Garuda dalam melaksanakan patroli di wilayah perbatasan Israel-Lebanon.

Peran Anoa Bagi Infanteri Mekanis TNI AD - Foto 2

Keunggulan ANOA-pun mendapat pengakuan dari PBB dan kontingen negara lain. Tidak heran produk anak bangsa ini mulai dilirik oleh negara lain diantaranya adalah Nepal, Malaysia, Brunei dan Oman. Malaysia bahkan sudah menggunakan ANOA dalam misinya di Lebanon. Sejak 9 April 2010 lalu, 13 buah ANOA telah digunakan untuk mengawal misi perdamaian PBB di Lebanon bersama Satgas Batalyon Mekanis TNI Kontingen Garuda XXIII-D/UNIFIL. ANOA 6×6 maupun 4×4 VAB biasa digunakan untuk pengawalan kegiatan-kegiatan penting negara. Pada 15 November 2011 ANOA varian 6×6 yang menggunakan persenjataan Senapan Mesin Berat 7.62 mm digunakan sebagai kendaraan tempur untuk patroli dan penjagaan ring pada acara KTT ASEAN di Nusa Dua, Bali.

ANOA juga dipakai oleh Paspampres untuk pengawalan kunjungan-kunjungan presiden. Selain kegiatan resmi, ANOA juga dipakai untuk pengamanan Car Free Day di Bundaran Hotel Indonesia. Dapat disimpulkan, penggunaan Panser ANOA ini secara langsung meningkatkan profesionalisme dan kemampuan prajurit TNI AD dalam pelaksanaan tugas pengamanan kegiatan protokoler dari aksi terorisme.

Pengembangan Anoa Sebagai Kendaraan Tempur (Ranpur) Infanteri Mekanis

Tahun 2006, PT Pindad dan BPPT memulai pengembangan APS-3 yang tidak hanya bisa bermanuver di darat tetapi juga di perairan dangkal dan danau. Pengembangan ini menghasilkan varian 4×4, dan selanjutnya disempurnakan untuk diaplikasikan kemampuan amfibinya untuk varian 6×6. Uji coba varian pertama dilakukan awal tahun 2007 dan pada 10 Agustus 2008, 10 panser pertama APS-3 ANOA diproduksi. Tahun 2009, panser pertama diserahterimahkan kepada Kementerian Pertahanan.

Karena performa ANOA yang bagus dan adanya program kemandirian alutsista yang digalakkan oleh Kementerian Pertahanan, PT Pindad terus mengembangkan ANOA ke dalam beberapa varian. Khusus jajaran TNI AD sendiri, ANOA menjadi salah satu kendaraan tempur wajib yang harus dimiliki Satuan Infanteri Mekanis untuk mendukung tugas pokoknya. Saat ini TNI AD mulai mengembangkan beberapa Brigade Infanteri (Brigif) di Indonesia menjadi Brigif Mekanis, diantaranya Brigif Mekanis-1/Pengaman Ibu Kota/Jaya Sakti di bawah Kodam Jaya, memiliki 3 Batalyon Mekanis (Yonif Mekanis-201/Jaya Yudha, Yonif Mekanis-202/Tajimalela dan Yonif Mekanis-203/Arya Kemuning) dan Brigif Mekanis-6/Trisakti Balajaya di bawah naungan Divisi Infanteri-2 Kostrad, yang menaungi 3 Batalyon Infanteri Mekanis (Yonif Mekanis-411/Pandawa, Yonif Mekanis-412/Bharata Eka Shakti dan Yonif Mekanis-413/Bremoro).

Beberapa satuan di luar Jawa juga mulai dilengkapi dengan Ranpur ANOA untuk menunjang tugas pokoknya, seperti Yonif-113/Jaya Sakti di Kodam Iskandar Muda, Yonif Raider-134/Tombak Sakti di Kodam I/Bukit Barisan dan Yonif Raider Khusus-744/Satya Yudha Bhakti di Kodam IX/Udayana. Walaupun dalam pelaksanaannya belum terdukung sepenuhnya, TNI AD berupaya memenuhi kuota jumlah kendaraan tempurnya agar sesuai TOP (Tabel Organisasi dan Perlengkapan).

Selain itu, ke depan, TNI AD berencana membentuk tiga Batalyon Infanteri Mekanis lagi di tiga Komando Daerah Militer (Kodam) untuk menghadapi ancaman sesuai perkembangan lingkungan strategis global yang makin dinamis dan beragam. Pembentukan tiga Batalyon Infanteri Mekanis merupakan bagian dari penataan organisasi Angkatan Darat menghadapi tuntutan dan kebutuhan organisasi, agar lebih efektif dan efisien dalam pelaksanaan tugas.

Dari uraian di atas, menunjukkan bahwa ANOA merupakan salah satu Ranpur yang mumpuni jika dihadapkan dalam kondisi perang maupun tugas-tugas pengamanan. Ditambah performa gaharnya, tidak salah jika pimpinan TNI AD menempatkan ANOA sebagai salah satu alutsista yang dibutuhkan Batalyon Infanteri Mekanisnya. Pengakuan terhadap ANOA, produk karya anak bangsa ini, menjadi salah satu bukti kemandirian dan kemajuan sektor industri pertahanan Indonesia untuk memenuhi kebutuhan alutsistanya di masa kini dan masa mendatang, khususnya TNI AD.[]