Ekonomi

Penutupan Investasi Miras Akan Menguntungkan Ekonomi RI, Seperti Apa?

Keputusan pemerintah menutup pintu investasi bagi investasi minuman keras atau minuman beralkohol bisa menguntungkan ekonomi Indonesia.


Penutupan Investasi Miras Akan Menguntungkan Ekonomi RI, Seperti Apa?
Petugas kepolisian Metro Jakarta Pusat menunjukan ribuan botol minuman keras yang akan dimusnahkan di Monumen Nasional, Jakarta, Rabu (6/6). Sebanyak 4000 botol miras ilegal dan oplosan tersebut merupakan hasil dari penyitaan yang dilakukan selama bulan suci Ramadhan. (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO Keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menutup pintu investasi bagi penanaman modal atau investasi minuman keras atau minuman beralkohol bisa menguntungkan ekonomi Indonesia.

Menurut Direktur Celios (Center of Economic and Law Studies) Bhima Yudhistira, hal ini karena keberadaan miras menyebabkan adanya kerugian dari sisi kesehatan, turunnya produktivitas pekerja, kekerasan rumah tangga hingga kecelakaan akibat mengkonsumsi miras.

“Investasi miras yang tertutup justru menguntungkan ekonomi Indonesia,” katanya kepada Akurat.co, Jakarta, Selasa (8/6/2021).

Bhima menjelaskan, berdasarkan studi yang dilakukan Montarat (2009) pada 12 negara menyebutkan bahwa beban ekonomi dari minuman beralkohol adalah 0,45 persen hingga 5,44 persen dari PDB.

Angka PDB Indonesia pada 2020 adalah Rp15.434 triliun. Jika mengambil angka yang sama dengan Amerika Serikat atau 1,66 persen maka di Indonesia kerugian setara dengan Rp256 triliun.

“Bayangkan Rp256 triliun habis untuk biaya seperti kesehatan, biaya turunnya produktivitas pekerja, kekerasan rumah tangga, kecelakaan di jalan raya dan dampak negatif lainnya,” jelasanya.

Bhima bahkan menyarankan agar peredaran miras juga dilarang. Sebab meski investasi miras ditutup namun peredarannya masih diperbolehkan, bisa meningkatkan impor miras. Oleh karena itu, ia mendesak pemerintah segara sahkan RUU larangan minol.

Di sisi lain, dampak ekonomi positif dari produk miras nyaris sangat kecil. Meski ada serapan tenaga kerja namun porsinya tidak besar.

“Kalau dibilang menyerap tenaga kerja, ya ada serapan tenaga kerja tapi kan tidak besar. Sementara kerugiannya justru yang dominan,” tambahnya.

Seperti diketahui, Presiden Jokowi telah final menutup pintu investasi bagi penanaman modal atau investasi minuman keras /minuman beralkohol di Indonesia. Hal tersebut seperti tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 49 Tahun 2021 Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal. []