Ekonomi

Penumpang Merosot, Pendapatan Harian KAI Anjlok 90 Persen Karena Corona

Penumpang Merosot, Pendapatan Harian KAI Anjlok 90 Persen Karena Corona
Warga mengisi formulir untuk menukarkan tiket kereta api di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Sabtu (4/4/2020). PT Kereta Api Indonesia (Persero) memperpanjang kebijakan pengembalian 100 persen untuk pembatalan tiket kereta api hingga keberangkatan 4 Juni 2020 atau H+10 Lebaran. Hal ini dilakukan sesuai dengan imbauan Presiden Joko Widodo agar masyarakat tidak mudik dan menjaga jarak di tengah wabah virus corona. (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO, PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatatkan penurunan penumpang yang signifikan selama pandemi COVID-19.

Jumlahnya per 31 Maret 2020 penumpang harian hanya tersisa 275 ribu penumpang. Jumlah itu anjlok dari posisi rata-rata Januari hingga Februari yang masih berada di kisaran 1,2 juta penumpang per hari.

“Kalau hari ini (Rabu 29 April 2020) lebih turun lagi,” ujar Direktur Utama PT KAI Edi Sukmoro dalam rapat dengar pendapat Komisi VI yang digelar secara virtual DPR RI, Rabu (29/4/2020).

baca juga:

Edi menyebutkan merosotnya jumlah penumpang itu seiring dengan penurunan pendapatan KAI.

Pada 2 Februari 2020 secara menyeluruh, perseroan mengantongi pendapatan per hari Rp39 miliar, namun pada 31 Maret 2020 anjlok sekitar 90 persen atau tepatnya 89,7 persen menjadi Rp4 miliar.

“Dari sisi pendapatan penumpang ini kalau kita bandingkan dari 2 Februari 2020 itu secara menyeluruh per hari Rp39 miliar, Maret jadi Rp4 miliar,” terangnya.

Ia menuturkan penurunan penumpang terjadi setelah diberlakukannya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) terbit dan keluarnya Peraturan Menteri Nomor 25 Tahun 2020 Pengendalian Transportasi Selama Masa Mudik Idul Fitri 1441 H Dalam Rangka Pencegahan Penyebaran COVID-19.

“Memang penumpang berkurang jauh apalagi setelah keluar PM 25, tidak jadi mudik itu lebih turun lagi tapi mulainya di April 2020. Kemudian puncak harian yang kami  capai hanya 11 persen tapi kalau dirata-ratakan kurang lebih pendaparan di 31 Maret hanya 21 persen dari rata-rata,” paparnya.

Edi menambahkan sementara untuk KA jarak jauh okupansi hanya 15-20 orang dalam satu rangkaian. Ia menyebut, pihaknya juga harus mengembalikan bea tiket (refund) sebesar 100 persen bagi penumpang yang membatalkan seiring keluarnya PM 25/2020.

“Pengembalian tiket sampai hari ini sudah kami lakukan, semula 900.000 sekarang tinggal 300.000 pengembalian tiket. Mereka diizinkan kembali tiket dengan 100 persen,” katanya.

Lebih lanjut Edi menerangkan guna menyiasati turunnya kinerja keuangan, pihaknya berupaya menegosiasi relaksasi pinjaman yang jatuh tempo.

“Kami berupaya mendekati pinjaman jatuh tempo, supaya dilakukan relaksasi kepada KAI. Kami juga meminta penurunan bunga atas investasi demi menjaga KAI bisa berjalan dengan baik,” imbuhnya.

Di sisi lain, kinerja angkutan barang KA meningkat, yakni pendapatan pada Februari 2020 dari Rp469 miliar atau turun dari Rp528 miliar pada Februari 2019, kemudian pada Maret 2020 naik menjadi Rp611 miliar dibandingkan Maret 2019 sebesar Rp564 miliar.[]