Rahmah

Penuh Ilmu, Gus Baha Jelaskan Mengapa Ada Ilmu Balaghah

Tidak seperti akademisi lainnya, Gus Baha menjelaskan soal agama dengan gembira.


Penuh Ilmu, Gus Baha Jelaskan Mengapa Ada Ilmu Balaghah
Gus Baha (Pwmujatim)

AKURAT.CO Islam merupakan agama yang penuh dengan keilmuan. Tidak hanya mempelajari sumber utamanya, yakni Al-Qur'an, Islam menuntut umatnya untuk pandai dalam memahami ilmu-ilmu keislaman lainnya untuk memahami isi kandungan sumber utama Al-Qur'an.

Menurut Gus Baha, Al-Qur'an sendiri telah memaklumatkan Hudan Lil Muttaqin bahwa yang dapat mengambil memanfaatkan Al-Qur'an adalah mereka yang bertaqwa. Sementara di dalam Al-Qur'an ayat lain, disebutkan Hudan Lin Nas bahwa Al-Qur'an memberikan petunjuk kepada semua manusia. Artinya manusia yang taqwa maupun yang tidak taqwa dapat Infi'al atau terkena pengaruh efek Al-Qur'an.

Dengan demikian, dalam menanggapi kontradiksi ini, menurut Gus Baha solusinya adalah ilmu balaghah. Ketika Hudan Lin Nas orang kafir dapat memeluk agama Islam karena mendengar Al-Qur'an, berarti Lil Muttaqin artinya Iktifa' atau merasa cukup.

baca juga:

"Jadi banyak juga ulama yang membukukan Lil Muttaqin di bab Iktifa' buktinya ada orang tidak Muttaqin tetapi dapat hidayah dari Al-Qur'an," ujar Gus Baha dalam Bedah Buku Al ITQAN FI ULUM AL-QUR'AN bersama Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Kementerian Agama (Kemenag) RI, pada Selasa (9/11/2021).

Gus Baha menguraikan, bahwa para ulama memiliki cara pandang lain dalam menanggapi Lil Muttaqin dengan Hudan Lin Nas tersebut. Sebagaimana dikatakan Imam Sowi, bahwa orang yang iman, apapun fasiknya dia, maka dia termasuk Muttaqin. Karena dirinya selalu menghindari sesuatu yang sangat dilarang oleh Allah SWT yaitu syirik.

"Jadi semua orang mukmin apapun fasiknya dia adalah orang yang taqwa karena dia sudah menjauhi syirik dan dia melakukan iman. Sehingga dengan definisi seperti ini, porsi seperti ini kayanya semua kita ini Muttaqin. Meskipun ya banyak yang tidak percaya tetapi karena kita melakukan iman," ucap Gus Baha.

Gus Baha kemudian memberikan contoh di dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 65 yaitu kuunuu qiradatan khaasi'iin yang berarti jadilah kamu kera yang hina. Menurut Gus Baha, ketika misalnya secara faktual tidak ada seseorang yang menjadi kera, maka lafaz tersebut dianggap sebagai Tasysbih Baligh yaitu menyamakan sesuatu dengan lain tanpa menggunakan huruf perumpamaan.

"Orang yang tidak terlalu ganteng mungkin disebut kamu seperti bulan, tetapi orang yang ganteng sekali mungkin disebut kamulah bulan," pungkas pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an LP3IA itu.

Demikian penjelasan Gus Baha, semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin.[]